
Bram tengah duduk bersama Tuan Daffa dan Bara di ruang keluarga. Menunggu para wanita menyiapkan sarapan. Tidak lama, Afifa datang dengan secangkir kopi di tangannya, dan memberikannya pada Bram
"Silahkan..." ucap Afifa
"Terima kasih"
"Kak... aku tidak di buatkan?" sungut Bara
"Biasanya juga tidak suka kopi, kenapa minta kopi?"
"Oh, memang aku tidak suka kopi? Aduh... aku lupa" Bara memegangi kepalanya seolah pusing. Afifa yang melihat tingkah adiknya menoyor kepalanya pelan
"Kebiasaan"
"Ish, kenapa kalian senang sekali menyiksa diriku, dasar para singa betina" sungut Bara
"Hei... aku mendengar itu" sahut Aliya dari arah dapur. Ya, mendengar kata para singa betina membuat Aliya yang tengah menata masakan menjadi tersinggung, sedangkan Afifa hanya tertawa kecil melihat Bara yang mengerucutkan bibirnya kesal, ia lantas kembali ke dapur, dan kembali membantu Bunda dan saudaranya menyiapkan sarapan
"Apa rencanamu setelah ini Nak?" tanya Tuan Daffa pada Bram
__ADS_1
"Aku dan Afifa sudah membicarakan ini tadi malam Ayah, kami memutuskan untuk tinggal di sini dan di rumah keluarga Wijaya secara bergantian, hingga acara pernikahan Aliya dan Alex di laksanakan. Setelah acara pernikahan mereka nanti, mungkin kami akan langsung pindah ke rumah kami sendiri" jelas Bram
Tuan Daffa mengangguk mendengar penjelasan menantunya "Memangnya, kalian tidak ingin ikut di resepsi?"
"Mengenai itu, Afifa menolak Ayah. Ayah juga pasti tahu kalau Afifa tidak begitu suka dengan keramaian, dan dia meminta agar kami tidak perlu melakukan resepsi, kami hanya akan mengurus surat nikah saja secepatnya"
"Baiklah kalau itu keputusan kalian"
Bara melihat Ayah dan Kakak Iparnya yang tampak menyudahi pembicaraaan. Dirinya yang semula hanya diam, akhirnya memberanikan diri untuk bicara "Mmm Kak Bram, memang mencintai Kak Afifa ya?"
"Maksudmu?" tanya Bram
"Iya, mencintai. Aku lihat saat malam pertunangan Kak Aliya waktu itu, Kakak dan Kak Afifa sangat dekat, dan Kakak juga selalu melirik Kak Afifa sepanjang acara. Apa sebenarnya, Kakak memang sudah mencintai Kak Afifa dari lama?" tanya Bara
Bram tersenyum sembari mengangguk dengan pasti "Iya... aku sudah mencintai Afifa sejak lama, mungkin sejak pertemuan pertama kami di kampus waktu mengikuti ospek"
"Apa Kak Afifa tahu?" tanya Bara
"Aku rasa tidak" jawab Bram
__ADS_1
"Oh, sekarang Ayah tahu kenapa waktu itu kau tidak menolak saat di paksa untuk menikahi putriku. Jadi, kau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan?" ucap Tuan Daffa
"Maafkan aku Yah, tapi itu memang benar"
Tuan Daffa menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Bram. Ia memang sempat heran dengan Bram saat akan melangsungkan akad, Bram tidak mengajukan protes apapun, justru ia terlihat sangat antusias. Tadinya Tuan Daffa sedikit takut akan terjadi hal yang tidak ia inginkan dalam pernikahan putrinya, sebab Afifa dan Bram menikah dengan cara yang sangat tidak wajar. Tapi mendengar jika Bram memang sudah mencintai putrinya sejak lama, membuat Tuan Daffa merasa sedikit tenang. Karena setidaknya, ketakutannya tidak akan terjadi
"Yah... makanannya sudah siap" panggil Aliya dari dapur
"Al, kalau memanggil itu, dekati langsung orangnya. Masa manggil untuk makan tapi teriak teriak begitu" protes Bunda Sekar
"Maaf Bun, kebiasaan"
Tuan Daffa, Bara dan Bram segera menuju ruang makan saat mendengar teriakan cempreng dari Aliya. Mereka mulai menduduki kursi masing masing, dan tentu saja Aliya kembali tersisih. Ia duduk bersama Bara, sedangkan kursi yang biasa ia gunakan, kini di pakai oleh Bram, adik Iparnya
"Fa, kalau mau makan, ambilkan dulu makanan untuk suamimu, baru mengambil makanan untukmu sendiri Nak" ujar Nyonya Sekar
"Iya Bun"
Afifa melakukan apa yang di ajarkan sang Bunda. Ia mengambilkan nasi, sayur, dan lauk untuk suaminya, membuat Bram seketika merasakan kehangatan di dadanya. Ia bahagia hanya karena pelayanan yang di lakukan sang istri kepadanya. Sedangkan Tuan Daffa dan Nyonya Sekar juga ikut tersenyum saat melihat Afifa melakukan tugasnya dengan baik
__ADS_1
"Al, kau lihat cara Afifa memperlakukan suaminya. Nantinya, kau juga harus melakukan hal yang sama kepada Alex, jadi lihat dan perhatikan" ujar Bunda lagi, yang kali ini tertuju pada putri pertamanya
"Iya Bun"