Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 47


__ADS_3

Mobil yang membawa Aliya dan Alex akhirnya tiba di kediaman Wijaya. Seperti biasa, Nyonya Rengganis menjadi yang paling antusias menantikan kedatangan menantunya. Terbukti, saat ini ia tengah berdiri di pintu utama dan menunggu putra dan menantunya


"Kalian sudah tiba, oh Tuhan. Papa... pa... menantu kita sudah datang" seru Nyonya Rengganis


Ia segera mengajak menantunya duduk di ruang keluarga, dan berbincang bincang santai. Apalagi obrolan dua wanita itu jika bukan perkara barang barang branded, dan Nyonya Rengganis sangat menyukai Aliya, karena ternyata Aliya juga memiliki selera tinggi dalam mengoleksi barang barang branded. Berbeda dengan Afifa yang kemarin ia ajak berbicara mengenai barang branded, tapi menantunya satu itu justru terlihat bingung, dan hanya menjawab ucapannya dengan kata oh, iya, hm... itu saja secara berulang


"Jadi apa barang terbaru yang sudah kau dapatkan?" tanya Nyonya Rengganis


"Tas ini Tan, ini..."


"Shut, panggilnya Mama sekarang. Ayo lanjutkan ceritamu" tegur Nyonya Rengganis


"Iya Ma, jadi kemarin aku barusaja membeli tas ini" tunjuk Aliya pada tas yang ia taruh diatas meja


"Oh My God, ini tas keluaran terbaru yang hanya ada satu di dunia itu 'kan. Jadi kau yang mendapatkannya?" tanya Nyonya Rengganis


"Iya Ma, aku mendapatkannya dari pelelangan dengan harga yang cukup menguras kantong, tapi demi memenuhi koleksi, apa salahnya" ujar Aliya

__ADS_1


"Iya, Mama setuju"


"Ma..." terdengar suara Tuan Alan mendekat


"Pa, Papa harus tahu bahwa tas branded yang kemarin kita tawar dengan harga mahal itu, Papa ingat 'kan?" tanya Nyonya Rengganis


"Oh, tas yang di lelang dengan harga 6,6 miliar itu?" tanya Tuan Alan memastikan


"Itu dia Papa ingat, dan Papa tahu siapa yang mendapatkannya?" Nyonya Rengganis menjeda ucapannya, dan beralih mengambil tas menantunya yang ada di atas meja "Aliya Pa. Lihat, ini tas yang waktu itu 'kan" tunjuk Nyonya Rengganis


Tuan Alan menatap menantu dan istrinya bergantian. Kemudian ia menghela napas kasar. Barusaja kemarin ia menghela napas lega karena tas yang mereka lelang dengan harga tinggi, ternyata masih kalah tinggi dengan harga yang di tawarkan pelelang terakhir. Hingga membuat tas mahal itu akhirnya lepas dari jangkauan.


*


Bram dan Afifa turun dari mobil, dan menatap rumah yang akan mereka tinggali. Sebuah rumah sederhana, yang bisa di katakan seperti sebuah kontrakan dengan halaman yang juga terbilang kecil. Namun yang membedakan adalah, rumah ini terlihat cukup bagus dengan model modern. Di samping rumah terdapat garasi dan sebuah taman kecil yang sudah di penuhi bunga bunga


"Bram..." panggil Afifa

__ADS_1


"Ya, ini rumah impianmu 'kan?"


"Dari mana kau tahu?" tanya Afifa, sebab seingatnya ia tidak pernah mengatakan apapun


"Majalah di kamarmu banyak memuat gambar gambar rumah sederhana seperti ini, dan aku pikir mungkin saja ini adalah rumah impianmu. Lalu, apakah tebakanku benar?"


Afifa membalik tubuhnya, dan memandang Bram dengan senyum yang terlukis di bibirnya "Kau benar, aku memang mengidamkan rumah sederhana seperti ini. Hanya ada ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang TV, lalu ada dua kamar, disertai satu dapur. Aku sangat mengidamkan itu semua"


"Dan aku sudah mewujudkan semuanya" jawab Bram


"Benarkah?" tanya Afifa tak percaya. Sebab, sekali lagi ia katakan bahwa ia tidak pernah mengatakan tentang hal ini pada siapapun


"Ayo, biar aku tunjukkan" Bram mengulurkan tangannya, dan langsung di gandeng oleh Afifa. Lalu kemudian, mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Mata Afifa terbelalak saat melihat rumah yang di pilihkan Bram. Rumah ini adalah gambaran rumah impiannya.


Di mulai dari ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang TV. Lalu kemudian ada dua kamar yang bersebelahan, lalu, di ujung ruangan yang hanya terpisah oleh tembok, dapur impiannya sudah terlihat. Sebuah dapur minimalis modern yang sudah lengkap dengan berbagai alat masaknya


"Bram... terima kasih" ujar Afifa

__ADS_1


"Sama sama, Sayang"


__ADS_2