
Afifa mengusap air matanya yang sempat keluar saat melihat dan mendengar apa yang di lakukan Aliya dan Ayahnya. Ya, ia mendengarnya, ia mendengar bagaimana Ayahnya yang merasa begitu bersalah dengan apa yang menimpa Aliya. Entah kenapa, melihat Ayahnya yang terlihat merasa bersalah, membuat Afifa merasa begitu sedih
Kembali ke Aliya. Tidak jauh berbeda dengan Afifa, Aliya juga menangis dalam pelukan Ayahnya. Ia tidak menyangka jika alasan Ayahnya menghindarinya karena di rundung rasa bersalah. Tadinya ia pikir Ayahnya kecewa padanya karena tidak bisa bertahaan dengan rumah tangganya, tapi ternyata semua itu salah
"Aku tidak pernah menyalahkan Ayah. Justru aku berpikir, apa mungkin ini semua adalah balasan karena selama ini aku selalu mempermainkan perasaan laki laki yang menyukaiku, dan sekarang, aku merasakan sakit hati yang mereka alami"
Ya, selama ini, Aliya selalu membuat settingan atas hubungannya dengan beberapa orang. Namun karena tidak adanya rundingan sebelum me-nyetting semua itu, membuat beberapa laki laki yang dekat dengannya mengira bahwa ia benar benar menyukai mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang dengan berani mengungkan perasaannya pada Aliya, walaupun pada akhirnya berakhir dengan penolakan
Tuan Daffa mengelus punggung putrinya, kemudian ia merenggangkan pelukan, dan mengusap air mata di pipi sang putri "Sudahlah jangan menangis lagi. Kalian harus ke rumah sakit sekarang, Bunda dan Afifa pasti sudah menunggu"
"Aliya sayang Ayah" ucap Aliya
"Ayah juga sayang padamu Nak"
Aliya tersenyum mendengar ungkapan sayang sang Ayah. Ia lantas bangkit dari duduknya, dan berpamitan pada sang Ayah untuk pergi. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah menemui Afifa dan Bunda yang sudah menunggunya di ruang keluarga
__ADS_1
"Ayo Bun kita berangkat" ajak Aliya
"Ayo Sayang"
Ke-tiga wanita itu keluar bersamaan menuju mobil yang sudah ada Mang Cecep di dalamnya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, mobil langsung melaju menuju rumah sakit. Kurang lebih dua puluh menit perjalanan, akhirnya mobil yang di kemudikan Mang Cecep tiba di pelataran rumah sakit
"Mang, kami masuk sebentar" pamit Bunda
"Iya Nyonya"
"Tan..." Dokter Zonya menyalami tangan Bunda "Ayo masuk" ajak Dokter Zonya "Kita mulai pemeriksaan dari Afifa dulu ya"
"Baik Kak" Afifa langsung naik ke atas brankar, dan membaringkan tubuhnya, memudahkan Dokter Zonya untuk melakukan pemeriksaan
"Janinnya sehat, perkembangannya juga sangat bagus" ucap Dokter Zonya sembari terus melakukan pemeriksaan pada Afifa
__ADS_1
"Bagaimana dengan USG Kak, apakah sudah bisa di lakukan?"
"Sepertinya belum, sabar ya, saat usia janin empat atau lima bulan, kita baru bisa melakukan USG agar hasilnya lebih akurat" jelas Dokter Zonya sembari membereskan peralatannya
"Baiklah"
"Sekarang Aliya ya" pinta Dokter Zonya, membuat Aliya segera menaiki brankar, dan membaringkan tubuhnya di tempat yang tadi Afifa tempati "Aliya tidak datang bersama suami?" tanya Dokter Zonya berbasa basi, tampaknya Dokter ini memang tidak tahu mengenai kisruh rumah tangga Aliya.
"Tidak Kak, aku datang dengan Bunda dan Afifa saja" jawab Aliya
"Baiklah" Dokter Zonya mulai melakukan tugasnya. Ia sedikit mengernyit saat melihat layar monitor yang tidak jelas "Janinnya seperti ada dua" monolog Dokter Zonya sembari terus memperhatikan layar monitor
"Kakak mengatakan sesuatu?" tanya Aliya
"Iya, dugaan sementara, kau mengandung bayi kembar, tapi ini juga belum begitu jelas karena kehamilanmu baru berjalan satu bulan. Nanti kita lakukan USG lebih lanjut lagi saat usia kehamilanmu tiga bulan. Tapi sepertinya dugaanku sangat besar kalau kau tengah hamil kembar" ucap Dokter Zonya
__ADS_1
Ya, ciri ciri fisik Aliya sudah cukup membuatnya yakin. Mulai dari bentuk tubuh Aliya yang sudah mulai gemuk, padahal usia kandungannya baru berusia satu bulan, di tambah lagi morning sickness yang dialami Aliya, terasa lebih hebat dari morming sickness yang dialami ibu hamil biasanya. Namun sekali lagi, Dokter Zonya tidak bisa memutuskan ini sekarang, karena di layar monitor, bentuk janinnya masih sangat samar