
"Bagaimana Bos, apa saya perlu menemui keluarga Wijaya lagi?" tanya Rosa melalui sambungan teleponnya
"Tidak, untuk sementara tetap dalam persembunyianmu. Aku akan memanggilmu saat aku membutuhkanmu lagi"
"Siap Bos"
Di seberang telepon sana, begitu panggilan terputus, senyum sinis tersunggung dari bibir laki laki yang tadi menghubungi Rosa Ia menatap satu buah foto yang terbingkai rapi diatas mejanya sembari mengusapnya dengan ibu jari "Tidak akan lama lagi kau akan menjadi milikku Al"
*
Di kediaman Wijaya. Alex tengah terduduk lemas di ranjang, pandangannya tak teralihkan dari foto di tangannya. Tiga buah foto yang menunjukkan kemesraan antara dirinya dan wanita bernama Rosa yang mengaku hamil anaknya. Alex bukanlah pria hidung belang yang haus akan hal semacam itu. Bahkan ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di club malam. Tapi kenapa tiga foto itu menunjukkan background sebuah tempat ramai yang terlihat seperti club. Alex merasa ada yang aneh dengan foto ini. Ia segera keluar dari kamarnya dan menemui kedua orangtuanya
"Ma, Pa..." teriak Alex
"Alex, ada apa Nak, kenapa teriak teriak?" tanya Mama Rengganis cemas
"Ma, apa ada sesuatu yang Mama tahu tentang wanita tadi malam. Nomor ponsel atau alamat rumahnya?" tanya Alex
__ADS_1
"Nomor ponsel? Alamat rumah? Mama lupa menanyakannya"
"Sial, kita sudah tertipu Ma" keluh Alex
Ya, mereka telah tertipu dengan wanita bernama Rosa itu. Entah mengapa mereka tidak ada yang meminta nomor ponsel, alamat atau apapun yang sekiranya bisa menjadi petunjuk mereka untuk menemuinya. Karena Alex sendiri yakin bahwa setelah ini, wanita itu tidak akan kembali lagi
"Ma, aku harus mencari Aliya sekarang juga" ucap Alex
"Tapi kemana Lex?"
"Ke Lampung. Aku yakin Udo Aksa membawa Aliya ke Lampung"
"Alex berangkat Ma"
*
Memakan jarak tempuh selama lima puluh menit jalur udara, akhirnya pesawat yang membawa Alex landing di Bandar Udara Moehammad Taufik Kiemas, Krui. Alex keluar dari bandara, dan langsung menyewa mobil untuk berangkat menuju tempat tinggal Keluarga Aksa. Kurang lebih dua jam berlalu, akhirnya Alex tiba di sebuah rumah mewah dengan perpaduan gaya classic modern. Ia yakin ini rumahnya karena sedikit banyak, ia mengingat ucapan Aliya saat menceritakan sosok Aksa padanya waktu itu. Ia segera mengetuk pintu berung kali dengan tidak sabaran
__ADS_1
"Iya sebentar" terdengar suara cempreng yang menyahut dari dalam "Iya iya tunggu, siapa sih yang bertamu, tidak sabaran sekali"
Ceklek
Sabila mematung di tempatnya saat melihat Alex berada di depan rumah Kakaknya "Kak Alex? Ada apa Kakak kesini. Padahal, Udo Aksa dan keluarganya lagi di Jakarta" ucap Sabila
"Di Jakarta?"
"Iya, Udo Aksa ada urusan bisnis, dan katanya mau sekalian mengunjungi Ayah dan Bunda di Jakarta, dan aku di minta untuk menjaga rumah mereka" terang Sabila
"Jadi, Udo tidak ada di sini?" tanya Alex
"Ya tidak ada lah Kak, 'kan aku sudah katakan tadi bahwa Udo dan keluarganya ada di Jakarta"
"Ya sudah, aku permisi kalau begitu"
Alex segera pergi dari kediaman Aksa. Tujuannya kini adalah kembali ke Jakarta dan mengunjungi rumh besar Dirgantara. Karena menurut informasi dari Sabila, Aksa dan keluarganya akan mengunjungi Ayah dan Bunda. Itu artinya, mereka akan mengunjungi kediaman Dirgantara
__ADS_1
Melihat Alex yang kembali memasuki mobil, Sabila menghentakkan kakinya dengan mulut mengerucut sebal "Ish, tidak Kak Aliya, tidak suaminya, semuanya menyebalkan" gerutu Sabila
Kembali ke Alex. Alex langsung kembali mengemudi dengan kecepatan tinggi, ia akan mengejar penerbangan paling cepat menuju Jakarta kembali. Karena ia sudah tidak sabar untuk mengunjungi kediaman Dirgantara dan menemui istrinya. Ya, istri yang telah mengandung anaknya. Namun sayang sekali, begitu mobil yang di kemudikan Alex tiba di Bandara, ternyata penerbangan terakhir telah berangkat, dan ia harus menunggu jadwal penerbangan selanjutnya yang akan berangkat nanti malam