Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Kemarahan Nadira


__ADS_3

"Siapa yang sudah dengan sangat berani mengatakan kamu sebagai ****** tidak tau diri, Sayang?" tanya Sky sambil membelai lembut rambut Nadira dengan penuh sayang.


Nadira masih terdiam. Wanita itu sekilas menatap pada wanita yang sejak tadi berusaha menjatuhkan harga dirinya. Saat mendengar apa yang terlontar dari mulut Sky membuat wanita tadi seketika menundukkan wajahnya. Wajah yang sudah terlihat pucat pasi.


"Astaga, Jangan bilang wanita itu adalah anak dari tuan Sky" batinnya sambil terus menundukkan wajahnya.


"Kenapa kamu diam saja, Sayang? Ayo katakan siapa yang sudah dengan berani mengatakan anak papa sebagai ******. Dia harus tau apa konsekuensi yang harus dia Terima jika berani melakukan hal itu pada anak Sky" kata Sky lagi. Karna Nadira masih diam sambil terus menatap wanita tadi yang sudah menundukkan wajahnya.


"Dia istri dari wakil direktur papa di kantor. Nadira mau, Papa pecat suaminya sekarang juga! Biar dia tau bagaimana rasanya di sepelekan oleh orang lain" kata Nadira sambil menatap tajam wanita tadi.


Mendengar perkataan Nadira, Wanita itu mengangkat wajahnya. Dia berjalan mendekat pada Nadira dan langsung mengucapkan kata maaf serta perkataan manis lainnya. Tapi dia salah orang, Karna Nadira orang yang mudah sakit hati serta sulit memaafkan orang lain yang sudah melukai perasaannya.


"Maafkan ×…saya, Saya tidak tau jika nona adalah anaknya tuan Sky. Saya benar-benar minta maaf atas apa yang sudah saya katakan tadi" ucapnya yang terdengar sangat lirih.


"Lalu kalau seandainya saya bukan anak papa, Apa anda akan tetep memperlakukan saya dan mengatakan saya ****** tidak tau diri yang ingin numpang hidup mewah pada harta orang lain?" kata Nadira pada wanita itu.


"Ingat, Jangan pernah merendahkan orang lain, Karna di atas langit masih ada langit. Jangan pernah merasa anda yang ada di paling atas" sambung Nadira lagi


"Saya minta maaf, Nona. Tolong jangan pecat suami saya. Saya mohon, Jangan pecat suami saya. Saya mohon" ucapnya dengan sangat memohon.


"Nasi sudah menjadi bubur. Dan satu hal lagi, Apa kaca yang sudah pecah bisa anda satukan kembali? Tidak kan. Hati saya sudah terluka karna perkataan anda yang sejak tadi terdengar sangat merendahkan saya. Saya ingin anda juga merasakan bagaimana rasanya di rendahkan dan di sepelekan oleh orang lain" kata Nadira dan langsung menarik tangan Devano keluar dari restoran itu.


"Nadira pergi dulu, Papa. Tolong papa urus apa yang Nadira pintar tadi. Orang seperti dia tidak pantas menjadi bagian dari perusahaan kita" kata Nadira tanpa menoleh pada wanita tadi.


"Baiklah sayang. Kenapa kamu mau pergi, Bukan kah kalian belum makan?" tanya Sky pada Nadira


"Selera makan Nadira sudah hilang, Pa. Nadira duluan ya"


Setelah kepergian Nadira, Sky mengambil ponselnya dan langsung menghubungi wakil direktur di perusahaannya. Tak butuh waktu lama, Orang di ujung telpon sudah menjawab panggilannya.


📲:Halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?

__ADS_1


📲:Tolong rapikan barang-barang mu. Dan mulai besok tidak perlu lagi datang ke kantor


📲:Apa maksud tuan. Saya di pecat?


📲: Iya, Kamu saya pecat


📲:Kenapa begitu, Tuan? Apa salah saya?


📲:Untuk alasannya, Kamu bisa langsung bertanya pada istri mu


Sky langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu menatap tajam pada wanita yang tadi mengatakan Nadira ******.


"Silahkan anda bereskan barang-barang nya. Dan anda bisa langsung pergi dari rumah yang saat ini menjadi tempat tinggal anda. Karna rumah itu adalah rumah saya. Saya kasih waktu sampai besok sore" ucap Sky pada nya.


Wajah wanita itu terlihat semakin pucat saat mendengar apa yang baru saja terlontar dari Sky. Tidak pernah menyangka jika semuanya akan menjadi seperti ini.


"Tolong jangan lakukan itu, Tuan.. Saya mohon. Tolong jangan pecat suami saya. Tolong jangan usir saya dari rumah itu" ucapnya yang terdengar sangat lirih.


"Makanya, Kalau punya mulut itu si jaga. Setidaknya gunakan untuk berbicara yang baik-baik. Jangan asal mengatakan orang lain. Karna apa yang kita lihat belum tentu hal yang sebenar nya" ucap salah satu dari mereka.


"Huuuuu, Sukurin. Julid sih jadi orang. Rasakan itu. Tunggu saja, Anda akan merasakan karna dari perbuatan anda sendiri" timpal satunya lagi


Ameena, Istri dari wakil direktur papanya Nadira seketika lututnya menjadi sangat lemas. Tidak pernah terbayang jika semua ini terjadi bagaikan mimpi. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


Tak berselang lama, Ponselnya berdering. Ternyata ada sebuah panggilan masuk yang ternyata sari Fikri, Suaminya. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Ameena mengambil nafas dalam.


📲:Halo, Mas. Ada apa?


📲:Ada apa-ada apa. Seharusnya aku yang tanya. Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat ku kehilangan pekerjaan ku?


Mendengar pertanyaan itu membuat Ameena terdiam.. Tidak tau harus mengatakan apa. Karna memang semua hal itu karna ulahnya yang sok-sok an.

__ADS_1


📲:Kenapa kamu diam saja? Jawab! Apa yang sudah kamu lakukan?


📲:Maafkan aku, Mas. Maafkan aku, Aku benar-benar tidak bermaksud melakukan hal itu


📲:Sudah berapa kali aku katakan, Jangan pernah berulah. Kalau sudah seperti ini apa yang bisa kamu lakukan.


📲:Aku benar-benar minta maaf, ? Mas. Semua ini terjadi di luar nalar pikiranku. Aku bisa jelaskan apa yang


Tut


Tut


Tut


Fikri tak menjawab, Pria itu langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa mendengarkan lagi penjelasannya Ameena.


Sedangkan Nadira dan Devano. Setelah memutuskan keluar dari restoran pelangi, Nadira mengajak Devano untuk pergi ke Dermaga sebelum ke butik. Karna Nadira ingin menghilangkan rasa kesalnya dengan berteriak di tempat itu seperti biasanya.


"Serius kita mau ke dermaga, Sayang?" tanya Devano sambil terus mengemudikan mobil nya.


"Iya, Oppa"


"Baiklah. Semoga saja itu bisa mengembalikan mood mu lagi"


"Nanti belok kanan ya" kata Nadira. Karna memang Devano belum pernah tau Dermaga yang biasa di datangi oleh Nadira.


15 menit kemudian, Mereka sudah sampai di dermaga. Tempat yang biasa Nadira datangi saat sedang merasa kesal ataupun sedih.


"Ayo turun. Kita sudah sampai, Oppa" kata Nadira pada Devano


"Tempatnya di sini? Lalu dimana dermaga nya?" tanya Devano. Karna Devano belum melihat keberadaan Dermaga di sana.

__ADS_1


"Ikut saja. Nanti Oppa juga akan melihat keberadaan Dermaga serta keindahan nya" kata Nadira dan langsung berjalan melalui gang kecil yang ada di sana. Karna memang tempatnya masih harus melalui beberapa gang untuk sampai di Dermaga itu.


__ADS_2