Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Semua hanya tentang waktu


__ADS_3

Tanpa terasa malam sudah berlalu, Pagi ini Devano meminta Nadira untuk segera bersiap. Setelah kejadian malam tadi, Membuat Devano benar-benar marah pada Farah, Pria itu sama sekali tidak menegur sapa Farah biarpun mereka berpapasan. Bahkan saat di meja makan sekalipun.


Farah mengambil nafas dalam, Setelah melihat raut wajah Devano seperti itu, Membuatnya semakin tidak yakin bisa bersama dengan Alex lagi. Terlebih dengan apa yang sudah Devano katakan malam tadi.


Nadira yang memahami Farah menggenggam tangannya"Sudah, Kak. Tidak usah di pikirkan. Devano memang orangnya seperti itu, Tapi dia sebenarnya orangnya sangat baik dan juga perduli. Aku paham kenapa tadi malam dia berkata seperti itu sama kakak, Terlebih setelah mengetahui apa yang sudah di lakukan oleh suami kakak selama ini" kata Nadira sambil menatap Farah yang sudah mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar.


Farah yang mendengar itu mengangkat wajahnya, Menatap pada Nadira dengan wajah sendunya. "Aku tau apa yang sudah kakak katakan malam tadi mungkin memang salah besar, Tidak seharusnya kakak mengatakan cinta pada Alex terhadap Devano. Tapi mau bagaimana lagi, Memang itu yang kakak rasakan, Nad. Bahkan hingga detik ini rasa cinta kakak masih sebesar itu" kata Farah yang terdengar sangat lirih.


"Nadira paham, Kak. Nadira benar-benar paham bagaimana perasaan kakak. Tidak akan mudah melupakan laki-laki yang sudah bersama dengan kakak selama lima tahun. Karna itu bukan waktu yang sebentar" gumam Nadira sambil menatap Farah.


Suasana di ruang tengah itu tiba-tiba menjadi hening. Farah tidak lagi membalas perkataan Nadira, Begitu juga dengan Nadira yang memilih diam. Cukup mengerti bagaimana perasaan Farah saat ini.


"Sayang, Ayo kita pulang. Aku masih ada meeting setelah ini" ujar Devano yang baru saja turun dari kamarnya. Bahkan saat ini Devano sudah siap dengan menggunakan pakaian kerjanya.


"Aku tunggu di mobil" kata Devano lagi dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam mansion itu. Tanpa menoleh ataupun pamit pada Farah.


"Kak, Aku pamit dulu ya. Kakak tidak usah khawatir, Nanti Nadira akan bantu bujuk Oppa supaya menarik apa yang tadi malam dia katakan pada kakak" gumam Nadira pada Farah.


"Sabar ya kak, Semua hanya butuh waktu. Akan ada saatnya hati Oppa akan luluh. Kakak sabar ya, Perlahan aku akan membantu buat membujuknya. Kalau memang kakak masih mencintainya, Perjuangkan! Karna memang terkadang kita perlu berjuang untuk hal yang bisa membuat kita bahagia, Walaupun harus merasakan sakit di awal" kata Nadira sambil menepuk pundak Farah.


Farah hanya mengangguk, Mungkin apa yang dikatakan Nadira memang ada benarnya. Semua hanya tentang waktu.

__ADS_1


"Hati-hati ya, Kapan-kapan datanglah lagi kesini. Kakak merasa sangat kesepian" balas Farah setelah cukup lama terdiam.


"Tentu, Kak. Jaga kesehatan kakak ya. Ingat, Jangan terlalu memikirkan apa yang Oppa katakan pada kakak. Semua hanya tentang waktu. Akan ada masanya hatinya luluh" kata Nadira lagi dan langsung berlalu dari sana.


Nadira masuk ke dalam kamarnya, Mengambil tas dan juga ponselnya yang masih ada di sana. Setelah itu, Nadira keluar dari dalam kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat ruangan kerja Devano terbuka. Malam tadi memang setelah pertengkarannya dengan Farah, Devano lebih memilih untuk menyelesaikan beberapa File yang akan di buat persentasi siang ini. .


Kedua mata Nadira memicing saat tanpa sengaja melihat sebuah foto yang ada di atas meja kerja itu. Melihat itu membuat Nadira penasaran, Foto siapa yang ada di atas meja itu dengan posisi terbalik. Sehingga Nadira tidak bisa melihat sosok yang ada di dalam foto itu.


"Foto siapa ya?" gumamnya. Karna merasa penasaran, Akhirnya Nadira mau mengambil foto itu, Namun hal itu terhenti saat ada suara yang memanggil namanya.


"Nadira" suara itu berhasil membuat Nadira membalikkan tubuhnya dan menoleh pada sosok sumber suara yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.


"Oppa, Katanya mau nunggu di mobil?" tanya Nadira sambil menoleh pada Devano.


"Sayang, Ngapain kamu di sini?" tanya Devano sambil mendekat pada Nadira.


"Aah, Ini Tadi aku melihat pintu ruangan ini terbuka, Makanya aku memutuskan untuk menutup pintunya" balas Nadira sambil menatap Devano.


"Sudah, Sayang. Lebih baik sekarang kita keluar, Soalnya jadwal meeting ku tiga puluh menit lagi" Devano menarik tangan Nadira agar segera keluar dari dalam ruangan itu.


"Semoga saja Nadira belum sempat melihat foto itu, Bodohnya, Kenapa semalam aku tidak langsung membuangnya" batin Devano sambil terus menggandeng tangan Nadira agar segera pergi dari sana.

__ADS_1


Nadira yang merasakan keanehan dari Devano membuangnya mengerutkan kecil keningnya. "Ada apa denganmu, Oppa? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Nadira sambil menatap Devano.


"T-tidak kok sayang. Aku baik-baik saja" balas Devano yang berusaha kembali bersikap biasa saja.


Setelah tiba di bawah, Devano dan juga Nadira sudah masuk ke dalam mobil itu, Saat sudah memastikan Nadira menggunakan safety belt nya, Devano langsung melajukan mobilnya, Keluar dari halaman mansion Wardana.


"Oppa" panggil Nadira sambil menoleh pada Devano.


"Ya, Sayang. Ada apa?" balasnya pelan.


"Bisa tolong antarkan aku ke rumahnya mama, Papa saja tidak, Soalnya ada hal yang harus aku bicarakan sama mereka berdua" gumam Nadira pelan sambil melirik Devano.


"Soal apa, Sayang?" Devano cukup penasaran dengan apa yang akan Nadira bicarakan dengan kedua orang tuanya. Karna Devano takut ini tentang dirinya dan juga Pamela.


"Soal pernikahan kita. Soalnya aku belum mengatakan pada mereka soal siapa saja yang akan aku undang" balasnya sambil tersenyum.


Seketika Devano merasa sangat lega, Setidaknya apa yang akan Nadira katakan tidak ada sangkut pautnya dengan kedatangan Pamela ke mansion Wardana kemaren.


"Baiklah, Tapi nanti aku harus langsung jalan ya sayang, Soalnya waktuku hanya tersisa 30 menit untuk sampai ke lokasi meeting"


Tanpa terasa, Mobil yang Devano bawa sudah sampai di depan Mansion kedua orang tua Nadira. Setelah mobilnya berhenti, Nadira langsung turun. Begitu juga dengan Devano yang langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Maafkan aku,Sayang. Sebenarnya jadwal meeting ku masih 2 jam lagi. Hanya saja ada urusan penting yang harus aku selesaikan" batin Devano sambil melirik Nadira dari kaca spion.


Entah urusan apa yang saat ini mau Devano selesaikan, Tapi yang pasti, Pria itu akan menemui seseorang yang sudah mengirimkan pesan padanya malam tadi.


__ADS_2