
"Apa!! Kamu sudah menikah?" tanya Ratna dengan raut wajah yang terlihat sangat penasaran.
Devano tak menjawab, Dia hanya melirik sekilas pada Ratna dan memilih pergi dari sana. Karna merasa tidak nyaman ada di dekat wanita yang saat ini sudah tidak di respect oleh Devano.
Melihat Devano pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, Ratna hanya bisa mengambil nafas dalam sejenak. Hingga tanpa sengaja Ratna menoleh pada seorang pasien yang baru saja masuk ke rumah sakit itu.
"Fadil" kata Ratna sambil mengikuti brankar yang di gunakan oleh Fadil. Tubuhnya begitu banyak luka. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada orang itu.
"Sus, Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti itu" tanya Ratna pada suster
"Menurut informasi yang saya dapat, Katanya dia itu pencopet dan di amuk oleh warga, Karna ketahuan ngambil kotak amal masjid" terang suster itu
Ratna menutup mulutnya saat mendengar apa yang baru saja suster katakan. Tidak pernah menyangka seorang Fadil akan melakukan hal itu.
"Astaga, Fadil. Memalukan sekali" gumam Ratna sambil menatap tubuh Fadil yang terlihat sangat menyedihkan.
Mengingat jika Fadil adalah ayah dari anaknya, Wanita itu memutuskan untuk menunggu kabar selanjutnya dari dokter.
10 menit kemudian, Suster yang tadi membawa Fadil sudah keluar, Membuat Ratna bangun dari duduknya lalu menghampiri suster yang wajahnya terlihat sedikit panik.
"Bagaimana keadaan orang tadi, Sus? Kebetulan saya mengenalnya" tanya Ratna pada suster itu.
"Keadaannya sangat kritis, Bu. Kecil kemungkinan untuk dia selamat. Tapi itu semua kembali lagi pada yang maha kuasa. Saya permisi dulu ya, Mau menyiapkan ruangan ICU" gumamnya serta langsung berlalu dari hadapan Ratna.
Meninggalkan Ratna. Setelah memutuskan keluar dari rumah sakit, Devano melajukan mobilnya keluar dari gedung itu, Tujuannya adalah ke kampus Nadira. Dia ingin makan siang bersama dengan Nadira di restoran pelangi. Salah satu restoran yang menyimpan begitu banyak kenangan antara Devano dan juga Nadira.
Di sana, Mereka sering berdebat karna perbedaan pendapat soal pekerjaan atau bahkan soal Ratna. Selama satu tahun, Devano dan Nadira memang sering meeting di sana.
Devano mengangkat kedua sudut bibirnya saat teringat akan perdebatan yang sering membuat dirinya emosi, Membuat dirinya mengatakan Nadira asisten ngeselin.
"Nadira-Nadira. Kenapa rasanya selucu itu perjalanan kita. Tanpa saya sadari, Ternyata hal itu yang membuat saya nyaman ada di dekat kamu. Bahkan rasa nyaman itu sudah membuat saya begitu mencintaimu" kata Devano sambil terus melajukan mobilnya.
30 menit kemudian, Mobil Devano sudah tiba di depan kampus Nadira. Kampus Garuda. Devano memarkirkan mobilnya serta langsung turun dari sana.
Pria itu kembali mengambil ponselnya lalu menghubungi Nadira. Pada dering pertama, Nadira langsung menjawab panggilan itu.
__ADS_1
📱:Aku sudah di parkiran sayang
📱: Oh Oppa sudah sampai, Ya. Tunggu sebentar ya oppa, Ini udah turun kok
📱:Iya, Sayang
Setelah itu, Nadira menutup panggilan telponnya. Menoleh pada Bella yang saat ini sedang berjalan beriringan dengannya.
"Kayaknya ad yang lagi bahagia ini" goda Bella sambil melirik pada Nadira
"Iya dong bahagia. Di jemput suami"
"Sombong, Mentang-mentang sudah nikah"
"Makanya. Buruan nyusul sama Zein"
"Nanti lah. Nunggu aku siap dulu"
"Ya sudah. Aku duluan ya, Bell. See u"
Kali ini Devano bukan hanya ingin mengajak Nadira makan siang, Tapi juga ingin mengajak Nadira untuk mencari gaun pengantin buat acara resepsi mereka yang hanya tinggal menghitung hari.
"Silahkan my Queen" ujar Devano sambil membuka pintu mobilnya dan tersenyum lebar pada Nadira. Menampakkan deretan gigi putihnya
"Terimakasih, Oppa" balasnya dengan kedua sudut bibir yang terangkat
"Sayang, Setelah makan siang, Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat"
Nadira menoleh pada Devano sambil mengerutkan keningnya"Kemana, Oppa?" Nadira menatap Devano yang sudah mengangkat kedua sudut bibirnya
"Butik. Kita akan melakukan fitting baju. Karna aku sudah menyiapkan acara resepsi kita di jogja 3 hari lagi. Aku ingin seluruh dunia tau kalau kamu adalah milikku. Milik Devano Wardana. Aku tidak mau kejadian malam itu terulang kembali"
"Fitting baju? Acara resepsi? Bukan kah waktu itu oppa mengatakan jika acara resepsinya akhir bulan, Kenapa jadi 3 hari lagi?" tanya Nadira yang terlihat penasaran.
"Memang, Sayang. Awalnya aku dan daddy juga mommy sudah sepakat untuk melakukan acara resepsi setelah urusan kedua orang tua kita selesai di Tokyo. Tapi setelah kejadian malam itu, Aku tidak mau lagi ambil resiko. Aku ingin semua orang tau jika kamu adalah milikku. Hanya milikku" terang Devano dan berhasil membuat Nadira tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sebentar. Kenapa tadi oppa bilang kalau acara resepsinya di jogja? Kenapa tidak di jakarta saja?
"Karna oma pengen acara resepsi pernikahan cucunya di adakan di kraton. Dan aku sebagai cucu pertama yang harus menuruti permintaan oma. Karna sepupu yang lain masih pada kuliah" terang Devano pada Nadira
"Ooohh gitu. Memangnya siapa yang orang jogja. Mommy apa Daddy?"
"Mommy. Kalau Daddy asli jakarta. Mommy asli jogja. Kamu bisa lihat sendiri bukan bagaimana logat mommy kalau bicara. Sangat khas seperti orang jawa. Biarpun sudah 30 tahun tinggal di jakarta, Namun logat jawanya masih belum hilang" terang Devano sambil melirik pada Nadira dari kaca spion.
"Iya, Logat bicara mommy memang seperti orang khas jawa. Ternyata mommy asli jogja" balas Nadira sambil menoleh pada Devano yang sedang fokus mengemudi.
Setelah itu, Tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi antara mereka berdua. Devano fokus mengemudi, Sedangkan Nadira fokus dengan ponselnya.
Saat melihat ada mini market, Devano menepikan mobilnya, Karna baru ingat untuk membeli sesuatu di sana. Ada beberapa barang yang harus Devano Beli.
"Kok berhenti, Oppa? Mau beli sesuatu?" tanya Nadira pada Devano. .
"Iya, Sayang. Ada beberapa barang yang harus aku beli. Kamu mau tunggu di sini atau ikut masuk bersamaku?" tawar Devano sambil menatap pada Nadira. .
"Eeeemmm aku ikut saja Oppa. Nunggu di sini sendirian yang ada bikin aku bose. Sekalian aku juga mau beli beberapa alat mandi yang sudah pada habis" balas Nadira sambil tersenyum.
"Yasudah, Ayo turun"
Merek berdua turun dari mobil, Berjalan beriringan masuk ke dalam mini market. Setelah sampai di dalam mini market. Devano juga Nadira yang sedang sibuk mencari barang yang mau mereka beli, Tanpa sengaja bertemu dengan Zein di sana.
"Loh, Kak Zein.. Kak Zein disini?" tanya Nadira saat melihat keberadaan Zein di mini market itu, Pasalnya Nadira memang belum tau jika Zein ada di indonesia.
"Iya, Nad. Bunda meminta kakak buat datang ke indonesia Karna bunda tidak ada temannya. Ayah sedang ada urusan di luar kota" ujar Zein sambil menoleh pada Nadira dan juga Devano.
"Tumben. Perasan dari dulu kakak tidak pernah mau setiap kali tante dan juga om meminta kak Zein pulang. Tumben sekarang mau, Mimpi apa?" tanya Nadira lagi.
Zein hanya tersenyum. Tak lagi menjawab apa yang baru saja Nadira tanyakan. Karna jujur saja Zein sendiri juga tidak tau, Kenapa tiba-tiba saja dia mengiyakan permintaan sang bunda untuk pulang ke indonesia. Setelah kematian anak dan juga istrinya, Baru kali ini Zein kembali lagi.
"Entahlah, Mungkin karna kakak juga sudah merindukan indonesia. Kalau begitu kakak pamit dulu ya, Dir, Dev. Masih ada urusan penting setelah ini"
Zein berlalu dari hadapan Nadira dn juga Devano setelah membeli barang-barang yang akan dia berikan pada Aira.
__ADS_1