Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Dia hanya masa lalu mu!


__ADS_3

Lagi-lagi pertanyaan Devano membuat Lisa terdiam. Wajahnya terlihat sayu. Kedua matanya berkaca-kaca. Hal itu tentu saja membuat Devano merasa semakin tidak paham dengan Lisa.


"Kenapa kamu tidak sekolah, Lisa. Bukan kah ini masih jam sekolah?" tanya Devano lagi pada Lisa.


Lagi-lagi pertanyaan Devano membuat Lisa terdiam. Wajahnya terus menunduk" A-aku terpaksa tidak sekolah, Kak. Karna uang spp bulan ini belum bayar. Sudah telat, Kak. Makanya aku di skors sampai bayar uang spp bulan ini dan juga bulan depan" terang Lisa lirih sambil menundukkan wajahnya.


Mendengar itu membuat Devano menatap iba pada Lisa. Memang selama ini biasanya Devano yang selalu membantu Ratna membayar uang spp sekolah Lisa. hanya saja karna dua bulan terakhir Devano sibuk mengurus tentang Ratna yang selingkuh dengan Fadil membuatnya lupa untuk membayar uang spp Lisa.


Devano mengeluarkan dompetnya lalu memberikan beberapa uang kertas berwarna merah lalu memberikannya pada Lisa. "Ambil ini, Lalu bayarlah uang spp mu, Lisa" ujar Devano sambil menyodorkan uang itu pada Lisa.


Lisa menggeleng"Tidak perlu, Kak. Maafkan kak Ratna, kak. Lisa mohon maafkan kak Ratna" kata Lisa yang terdengar sangat lirih sambil bersimpuh pada lutut Devano


Melihat lisa seperti itu membuat Devano mengambil nafas dalam lalu meminta Lisa agar segera bangun. "Jangan seperti ini, Lisa. Bangunlah" pekiknya sambil memegang pundak Lisa dan memintanya untuk bangun dari posisi itu.


"Lisa mohon maafkan kak Ratna, Kak" ucap Lisa lagi


Anak itu benar-benar merasa tidak enak hati setelah mengetahui kabar tentang perselingkuhan Ratna dengan Fadil yang sudah menyebar di berbagai media.


"Sudah, Lisa. Kamu tidak perlu minta maaf atas nama Ratna"Kata Devano pada Lisa


"Tapi, Kak. Aku merasa tidak enak hati sama kak Devan. Setelah apa yang kak Devan perbuat selama ini, Kak Ratna membalasnya dengan hal yang memalukan" ujar Lisa dengan wajah yang terlihat seperti merasa sangat bersalah.


"Sudah, Di sini yang salah Ratna, Bukan kamu. Tidak perlu merasa tidak enak hati seperti itu. Bangunlah, Jangan seperti ini"


"Ambil uang ini dan kamu bayar uang spp sampai bulan depan. Jangan pernah merasa tidak enak, Karna kakak sudah menganggap kamu seperti adik sendiri" Devano membawa Lisa dalam dekapannya. Membelai lembut rambut Lisa. Karna memang selama ini mereka cukup dekat. Bahkan Devano sendiri sudah menganggap Lisa seperti adiknya sendiri. Mengingat dirinya hanya anak tunggal membuatnya memperlakukan Lisa seperti adik sendiri. Hanya saja Ratna yang tidak bersyukur memiliki Devano.


"Terimakasih, Kak. Terimakasih karna kak Devano sudah sebaik itu sama Lisa" balas Lisa dengan kedua mata yang sudah basah.

__ADS_1


"Sudah. Kamu tidak perlu berterimakasih. Kamu harus sekolah dan harus sukses. Jangan seperti kakakmu ya"


"Iya, Kak"


Di dalam.


Nadira mengerjabkan kedua matanya saat mendengar suara bising dari luar. Setelah kesadarannya terkumpul sempurna, Nadira keluar dari dalam kamar itu. Berjalan ke arah pintu utama karna penasaran siapa yang ada di sana. Kedua mata Nadira memicing saat melihat siapa yang ada di sana.


"Lisa" kata Nadira sambil menatap Lisa


"Kak Nadira" gumam Lisa sambil menatap Nadira yang juga sudah menatapnya.


Devano mengerutkan keningnya. Pria itu menoleh pada Nadira dan juga Lisa secar bergantian. Merasa penasaran kenapa meraka bisa saling kenal.


"Kalian kenal?" tanya Devano pada mereka.


"Iya, Oppa. Aku mengenal Lisa. Dia adalah orang yang waktu itu pernah menolongku"


"Iya, Oppa. Lisa waktu itu yang pernah menolong aku. Oppa masih ingat kan waktu itu aku pernah cerita tentang kejadian saat di jembatan?" Devano tak langsung menjawab, Pria itu masih berusaha mengingat cerita Nadira tentang hal itu.


"Ingat kan, Oppa?" ulang Nadira lagi


"Iya, Ingat. Yang kamu bilang mau bunuh diri karna Nathan, Kan?"


Devano mengulum bibir nya saat mengatakan hal itu. Pasalnya memang Nadira pernah mengatakan jika satu tahun yang lalu hampir saja bunuh diri hanya karna si Nathan tak tau diri itu.


"Gak usah bawa-bawa nama pria sialan itu lagi, Oppa. Aku menyesal pernah mencintainya. Apalagi hampir mengorbankan nyawa hanya karna Nathan, Si pria brengsek" ujar Nadira pada Devano

__ADS_1


Devano terkekeh saat melihat raut kesal Nadira"Bukan kah memang dulu kamu sangat mencintainya, Sayang?" kata Devano lagi yang tentu saja membuat Nadira mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Tauklah. Jangan mulai ya ngeselin nya!" Nadira memberikan Devano tatapan tajam.


"Iya iya, Maaf istriku"


Mendengar kata istri membuat Lisa merasa cukup terkejut. Gadis yang saat ini masih berusia 14 tahun itu menatap Nadira juga Devano seakan minta penjelasan dari apa yang baru saja dia dengar dari mantan kakak iparnya.


"Oh iya, Lisa. Sebenarnya kakak sudah menikah dengan Nadira beberapa hari yang lalu"


"Selamat ya, Kak. Semoga hubungan kalian langgeng terus sampek kakak nenek. Maafkan aku atas nama kak Ratna. Lisa permisi dulu kak. Terimakasih atas kebaikan kak Devan selama ini" Ujar Lisa dan langsung membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Devano dan juga Nadira. Namun langkahnya terhenti saat suara Devano kembali menerpa indra pendengarannya.


"Jika butuh bantuan jangan pernah sungkan, Lisa. Kamu datang saja atau bisa langsung hubungi kakak"


Perkataan Devano mampu membuat Lisa kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan ke tempat Devano juga Nadira. Wanita itu memeluk Devano erat.


"Terimakasih, Kak. Terimakasih karna kak Devan masih mau baik sama aku. Setelah apa yang kak Ratna lakukan, Kak Devan masih mau memperlakukan aku layaknya adik sendiri" kata Lisa sambil memeluk Devano.


Dadanya terasa semakin sesak. Hingga tak lama, Tangis Lisa pecah dalam dekapan Devano"Tidak perlu berterimakasih. Apa kamu lupa, Sudah kakak katakan, Kakak sudah menganggap mu sebagai adik sendiri. Jadi jangan pernah merasa tidak enak hati saat sedang membutuhkan bantuan kakak. terlebih lagi, Berkat kamu kakak masih bisa memiliki kesempatan bersama dengan sosok bidadari yang saat ini sudah menjadi istri kakak"


Devano melirik pada Nadira yang kini juga sedang meliriknya. Jika di pikir apa yang Devano katakan memang benar. Seandainya saja saat itu Lisa tidak datang tepat waktu, Mungkin saat ini Nadira sudah tidak ada lagi.


"Itu hanya kebetulan saja, Kak. Allah mengirim ku untuk menolong kak Nadira saat itu"


"Sekali lagi terimakasih, Lisa. Jika saat itu tidak ada kamu, Aku sudah tidak tau bagaimana nasibku"


"Tidak perlu berterimakasih, Kak. Karna kakak memang tidak seharusnya melakukan hal bodoh itu. Apalagi hanya karna laki-laki brengsek sepertinya"

__ADS_1


Hal itu membuat Nadira kembali teringat akan kejadian 2 tahun yang lalu, Tepatnya saat saat di mana dirinya benar-benar hancur. Sakit hati serta merasakan kecewa karna sosok Nathan, Laki-laki yang amat di cintanya di kabarkan menghamili sahabatnya sendiri. Yaitu Widia.


"Sudah, Tidak perlu mengingat hal yang melukai perasaanmu, Sayang. Yang lalu biarlah berlalu. Ingat, Dia hanya masa lalu mu, Dan aku adalah masa depanmu. Mulai sekarang, Kita harus bisa saling melengkapi satu sama lain" kata Devano yang terdengar sangat lembut.


__ADS_2