
Nadira tak menjawab perkataan Devano. Wanita itu hanya bangun dari tidurnya dan berlalu dari sana. Masuk ke dalam kamar mandi dan memutuskan untuk berendam sejenak di sana.
"Akhirnya dapat, Jika sampai hal ini memang benar-benar ulah Antonio, Awas saja. Saya tidak akan membiarkan hidupnya tenang, Dia akan menerima akibat karna sudah bermain-main dengan saya, Devano Wardana" ujar Devano sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
Devano keluar dari dalam kamar itu, Menuruni anak-anak tangga di sana sambil berusaha bersikap biasa saja. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, Padahal sebenarnya amarahnya sudah naik hingga ke ubun-ubun. Saat mendengar kabar yang di beritahukan oleh Saras membuat Devano ingin segera tiba di jakarta.
Saat sudah tiba di bawah. Devano menuju kamar yang di tempati Dion, Untuk kali ini Devano memang sangat membutuhkan bantuan dari sahabatnya yang satu ini, Seperti yang sudah di ketahui, Selain pemimpin perusahaan keluarganya, Dion juga seorang Detektif.
Tok
tok
Tok
Devano mengetuk pintu kamar itu, Namun sama sekali tidak ada sahutan dari dalam..Hingga mau tidak mau membuat Devano memutuskan untuk langsung masuk kesana. Devano sudah bisa menebak jika saat ini Dion pasti masih sangat lelap dalam tidurnya.
Ceklek
Saat pintu itu sudah Devano buka, Memang benar adanya. Jika Dion masih terlihat nyaman dalam tidurnya. Melihat itu membuat Devano mengambil nafas panjang.
"Benar-benar kebo ini orang" ujarnya sambil berjalan menuju ranjang dan langsung membangunkan Dion yang sudah memanyunkan bibirnya. Entah apa yang saat ini pria itu lakukan, Mungkin saja saat ini Dion sedang bermimpi berciuman.
"Dion, Bangun. Ada hal penting yang harus kamu tau" kata Devano sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dion. Namun orang itu masih terlihat sangat menikmati tidurnya, Dion sama sekali tidak terganggu dengan apa yang baru saja Devano lakukan.
"Dion bangun! Ini urgen" ucapnya lagi. Namun lagi-lagi Dion masih tidak menggubris. Pria itu masih terus memanyunkan bibirnya.
Karna sudah merasa cukup kesal, Akhirnya Devano berlalu dari sana. Masuk ke dalam kamar mandi dan kembali dengan membawa gayung di tangannya. Pria itu menyiramkan air yang dia bawa ke wajah Dion dan membuatnya langsung bangun saat itu juga.
"Astaga banjir...Banjir, Tolong" pekik Dion dan langsung bangun dari sana.
"Banjir...Banjir. Bangun woooyy, Sudah dari tadi aku bangunin gak bangun-bangun. Memangnya kamu sedang mimpi apa? Kenapa itu bibir sampek manyun-manyun begitu?"tanya Devano pada Dion
__ADS_1
"Jadi ini bukan banjir? Jangan bilang kalau ini sebenarnya ulahmu"
"Memang. Lagian siapa suruh di bangunin kok susah amat. Sudah tau ini penting" Devano menatap Dion yang sudah memasang wajah kesalnya. Bagaimana tidak merasa kesal, Saat ini bajunya sudah basah karna ulah Devano beberapa detik yang lalu.
"Dasar kau ini! Benar-benar menyebalkan. Memangnya ada hal apa? Apa yang penting?"
"Ini soal proyek panthouse yang sedang berlangsung di perusahaan WARDANA" ujar Devano pelan
"Lalu? Apanya yang urgen?" tanya Dion yang masih terlihat kesal
"Saat ini proyek itu sedang mengalami masalah yang akan membuat perusahaan ku mengalami kerugian yang sangat besar"
Mendengar perkataan Devano membuat Dion mengerutkan keningnya"Bagaimana bisa? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Dion yang mulai penasaran.
"Aku juga tidak tau pasti apa penyebab utamanya. Tapi untuk saat ini aku membutuhkan bantuanmu untuk mencari tau siapa dalang dari semua ini. Karna aku yakin, Pasti ada seseorang yang sudah dengan sengaja ingin merusak proyek itu" terang Devano sambil menatap pada Dion
Dion terdiam sejenak"Jangan-jangan ini ulah Antonio" kata Dion pada akhirnya
"kenapa kamu bisa mengarah sama orang itu?" tanya Devano lagi"Iyalah, Dev. Apa kamu lupa jika perusahaan itu satu-satunya perusahaan yang merasa selalu tersaingi. Kamu tenang saja, Aku akan bantu mengusut semua ini. Kalau seandainya hal itu benar, Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dion pada Devano
"Kita kembali ke jakarta hari ini" ucap Devano lagi
Setelah mengatakan hal itu, Devano keluar dari dalam kamar Zein. Meninggalkannya yang masih terlihat kesal karna ulahnya.
*
*
*
Di tempat yang berbeda
__ADS_1
"Bagaimana, Apa kamu sudah melakukan apa yang saya perintahkan?" tanya seseorang yang baru saja masuk kedalam rumahnya
"Sudah, Tuan muda. Bahkan saya juga nge video bagaimana saat gedung itu roboh. Silahkan tuan muda lihat sendiri" Pria itu memberikan ponsel nya pada Nathan. Ya, Orang yang ada di balik peristiwa ini adalah Nathan.
Saat mendengar jika Nadira sudah menikah Dengan Devano membuat pria itu langsung memutuskan untuk kembali ke jakarta. Nathan mencari ide agar bisa membuat Devano dan Nadira tidak bisa sering berdua. Entah itu cinta atau hanya sebuah obsesi semata.
Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat sebuah Video yang sedang di putar di sana.. Jika di tanya puas? Jawabannya sudah tentu iya, Nathan tidak pernah menyangka jika apa yang dia minta akan jauh dari apa yang dia harapkan.
"Rasakan kamu, Devano. Dengan begini, Kamu dan juga Nadira tidak akan memiliki waktu untuk berdua. Kita lihat saja, Seberapa besar kerugian yang harus kamu bayar karna hal ini. Ini baru pemanasan, Devano. Dan saya akan melakukan hal yang jauh lebih parah dari pada hal ini, Sampai kamu memutuskan untuk berpisah denger Nadira" ucap Natha sambil terus mengamati video itu.
"Kerja bagus. Nanti saya akan transfer sisanya. Kamu bisa keluar sekarang"
*
*
*
GM Grup
"Bagaimana bisa hal ini terjadi? Saya tidak mau tau, Kalian aturkan jadwal janji temu dengan owner WARDANA GRUP" Ucap seorang pria paruh baya
"Sabar, Pah. Semua bisa di bicarakan dengan kepala dingin. Tidak baik marah-marah begitu. Lebih baik papa diskusikan dulu dengan Direkturnya" ucap istrinya sambil menepuk pundak suaminya.
"Tapi,Ma. Karna hal ini, perusahaan itu bisa rugi milyaran" balasnya
"Bukan hanya perusahaan kita, Tapi perusahaan mereka juga sama kan, Pa? Tapi ya, Pa. Ini kan bukan pertama kalinya perusahaan kita bekerja sama dengan WARDANA GRUP, Dan selama ini semua proyeknya aman-aman saja dan berjalan dengan lancar. Lalu kenapa baru sekarang ada masalah. Kenapa mama merasakan ada kejanggalan dengan kejadian ini" ucap Isma pada Mahendra suaminya.
Ya, Dia adalah Mahendra dan Isma, Orang tua dari Alex Mahendra. Suami dari Farah.
"Mama benar juga. Kenapa papa tidak kepikiran kesana" ujarnya
__ADS_1
"Jangan-jangan ini adalah ulah mereka" Mahendra mulai menerka-nerka siapa dalang dari kejadian ini.
"Mereka? Maksud papa siapa?" tanya Isma yang merasa penasaran