Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Rencana Devano


__ADS_3

Setelah memutuskan sambungan telponnya, Orang yang bernama Adam keluar dari dalam kamarnya. Berjalan pelan menuju kamar sebelah. Kamar yang tak lain adalah kamar putrinya. Adam melihat Risa cari celah pintu, Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, Membuatnya mengurung diri dan menghabiskan waktunya hanya berdiam di dalam kamarnya. Tatapan kosong serta air mata yang sesekali meluruh.


Saat melihat kondisi anaknya seperti itu membuat Adam mengepal kan kuat kedua tangannya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu.


*Flashback beberapa tahun yang lalu.


Hari ini adalah hari ulang tahun Risa, Putri satu-satu nya tuan Adam dengan nyonya Mely. Tepat di hari yang spesial, Risa berniat untuk mengatakan jika dirinya mencintai Devano, Laki-laki yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Risa juga sudah mengatakan tentang niatnya pada kedua orang tuanya. Dan mereka berdua hanya mengiyakan perkataan Risa dan menyetujuinya. Saat melihat perilaku Devano terhadap anaknya, membuat Adam dan Mely mengira jika Devano juga memiliki rasa yang serupa.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Mama jamin, Devano akan sangat pangling" puji Mely saat melihat penampilan Risa.


Risa yang mendengar pujian dari sang mama tentu saja langsung tersenyum bahagia. Hal itu semakin membuat Risa yakin untuk mengatakan tentang perasaan nya terhadap Devano. Namun siapa sangka, Jika malam itu Devano tidak datang seorang diri, Devano datang bersama dengan Ratna dan terlihat cukup mesra.


"Semua tamu sudah datang, Sayang. Ayo kita turun sekarang" kata Mely lembut pada Risa.


Risa mengangguk, Keluar dari dalam kamarnya dengan langkah bahagia serta wajahnya berbinar. "Malam ini aku akan mengatakan segalanya. Jika di lihat dari tingkah kak Devano, Seperti nya dia juga memiliki perasaan yang serupa dengan apa yang aku rasakan." batin Risa di sela langkahnya.


Saat sudah tiba di bawah, Risa memicing kan kedua matanya saat tak mendapati keberadaan Devano di tengah-tengah kedua orang tuanya. Hal ini membuat Risa semakin mempercepat langkahnya dan langsung menghampiri Wardana dan juga Lina yang sudah tersenyum ke arah Risa.


"Selamat malam, Tante, Om. Kak Devano mana? Kok gak ada? " tanya Risa pada mereka berdua.


"Ohh, Devano masih ke sesuatu tempat. Tadi dia minta sama om dan tante agar jalan lebih dulu" balas Lina pelan.


Mendengar kata suatu tempat membuat Risa berpikir jika mungkin saja Devano sedang mencari hadiah ulang tahun untuknya.


"Apa mungkin kak Devano masih membelikan hadiah untukku" ucap Risa dalam batinnya sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya.


Setelah itu, Kedua orang tuanya meminta pada Risa jika acara tiup lilinnya sudah harus di lakukan. Awalnya Risa menolak karna masih ingin menunggu kedatangan Devano. Hanya saja kedua orang tuanya terus memaksa karna tamu undangan sudah pada datang.


"Papa, Tunggu sebentar lagi, Ya. Risa masih mau nunggu kak Devano" Pintar Risa pada Adam.

__ADS_1


Adam menggeleng"No, Sayang. Tidak bisa di tunda lagi, ini kasian para tamu sudah menunggu lama. Nanti Devano juga kalau datang langsung kamu masih kuenya" kata sang papa. Karna memang Risa sudah mengatakan jika potongan kue pertama mau dia berikan pada Devano.


Tepat saat Risa sudah mau tiup lilin, Devano datang dengan menggandeng tanga seorang wanita yang tak lain adalah Ratna.


Melihat itu membuat Risa terdiam, Kedua matanya terasa panas saat melihat pemandangan di depan matanya. "Jadi kak Devano sudah memiliki kekasih, Lalu apa maksudnya selama ini memperlakukan aku begitu spesial" batin Risa lagi sambil berusaha menahan agar air mata itu tidak jatuh di depan semua orang.


Setelah sesai acara tiup lilin, Risa kembali menatap Devano dengan kedua mata yang terlihat sangat sayu. Adam dan Mely yang melihat raut wajah sang anak tentu saja membuat mereka langsung paham.


"Risa ke kamar dulu, Ma, Pa. Capek mau istirahat" gumam Risa dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Membawa rasa luka yang sebelumnya tak pernah dia duga akan sesakit ini.


Sejak kejadian malam itu, Risa jarang makan dan jarang keluar dari dalam kamar nya. Tidak banyak melakukan hal, Karna yang Risa lakukan hanyalah berdiri di depan jendela kamarnya. Tidak ada lagi keceriaan dari wajahnya.


Hal itu membuat Adam menyalahkan Devano akan hal ini. Menyalahkan sikap Devano yang menurutnya sudah membuat Risa salah mengartikan.


"Papa, Kenapa papa liatin Risa seperti itu?" ucap Mely sambil menepuk pundak Adam pelan. Adam yang mendengar suara itu langsung membuyarkan apa yang tadi dia ingat. Tentang kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Tidak apa-apa, Ma" balasnya dan langsung berlalu dari depan kamar Risa.


"Risa, Kenapa kamu bisa jadi seperti ini hanya karna cinta, Risa" ujar Mely sambil menatap iba putri nya.


Di Tempat Lain


Mobil yang membawa Devano sudah sampai di tempat tujuan mereka. Dari dalam mobil Devano sudah bisa melihat keberadaan Andre sana. Duduk sambil menatap pada dermaga.


"Kamu tunggu di sini ya, Sayang. Aku sebentar saja kok" ucap Devano pada Nadira sebelum keluar dari dalam mobilnya.


Nadira mengangguk" Iya, Oppa" balas Nadira sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Setelah mengatakan hal itu, Devano keluar dari dalam mobilnya, Berjalan keluar menuju dermaga untuk menemui Andre yang sudah menunggu di sana.

__ADS_1


"Bagaimana, Andre? Apa yang sudah bisa kamu ketahui?" tanya Devano pada Andre.


"Begini, Tuan. Kalau menurut data yang saya dapatkan dari nomor ponsel yang bapak kirim, Saya bisa melacak beberapa data dari nomor itu. Bahkan bukan hanya itu, Tuan"


Andre mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu dari ponselnya pada Devano. "Apa ini, Dre? " tanya Devano yang masih tidak terlalu paham dengan apa yang Andre tunjukkan.


" Begini, Pak. Ada satu hal yang menurut saya agak sedikit janggal. Coba bapak baca pesan ini" Andre kembali menunjukkan sebuah pesan pada Devano.


[ Lakukan apa yang sudah saya perintahkan! ]


Kening Devano mengerut"Apa maksud dari pesan ini?" tanya Devano sambil melirik pada Andre


"Saya masih mencoba melacak nomor itu, Tuan. Hanya saja nomor itu sangat sulit di lacak. sepertinya yang punya nomor itu bukan orang sembarang"


"Wait. Itu pesan kamu dapatkan dari mana?" tanya Devano lagi


"Dari hasil meretas akun nomor yang tuan kirim tadi malam" jawab Andre sambil menoleh pada Devano.


"Maksud kamu dari nomor Nathan?" tanya Devano lagi"Iya, Tuan. Kalau menurut kesimpulan saya, Sepertinya ada seseorang di balik ulah Nathan" ucap Andre lagi


"Maksud kamu Nathan di minta melakukan hal itu oleh orang lain?" seru Devano sambil menoleh pada Andre "Benar, Tuan. Kemungkinan besar orang itu berbahaya. Sepertinya kita perlu detektif untuk membantu memecahkan teka-teki ini"


"Dion, Sepertinya ini saatnya Dion beraksi. Kamu kenal Dion kan?"


"Tepat sekali, Ya, Tuan. Saya mengenal Dion. Dia salah satu detektif hebat yang bisa cepat menemukan apa yang seharusnya di ketahui"


"Saya memiliki satu rencana. Tapi kali ini saya perlu kamu dan juga Dion" kata Devano saat satu rencana berhasil muncul begitu saja


"Rencana apa?" tanya Andre penasaran

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan sekalian sama Dion. Saya permisi dulu"


__ADS_2