Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Bertemu seseorang


__ADS_3

"Maafkan aku, Sayang. Sebenarnya jadwal meeting ku masih 2 jam lagi, Hanya saja ada urusan penting yang harus segera aku selesaikan" ujar Devano sambil melirik Nadira dari kaca spion. Pria itu langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion Sky.


Entah urusan apa yang saat ini mau Devano selesaikan. Tapi yang pasti, Urusan itu bersangkutan dengan orang yang sudah mengirimkannya pesan malam tadi.


Dttttttt


Dtttttt


Dtttttt


Suara dering ponsel membuat Devano menepikan mobilnya sejenak. Menatap pesan masuk yang ternyata masih dari nomor yang sama.


[ Cepetan, Saya sudah ada di lokasi ]


Setelah membaca pesan itu, Devano kembali melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Bahkan melebihi kecepatan rata-rata. Karna ini menyangkut keselamatan Nadira dan juga kedua orang tuanya.


"Sial! Kenapa aku harus ada di posisi ini. Bagaimanapun caranya, Aku tidak akan membiarkan Mommy juga Daddy serta Nadira menjadi korban atas apa yang pernah aku lakukan di masa lalu" kata Devano sambil terus mempercepat laju mobilnya.


Tak berselang lama, Mobil Devano sudah sampai di sebuah tempat yang cukup sepi. Dari dalam mobil, Devano sudah bisa melihat sosok yang sudah menunggunya disana.


"Apa sebenarnya mau orang itu. Bukankah dulu aku sudah pernah membayarnya atas apa yang tanpa sengaja aku lakukan" kata Devano sambil membuka safety belnya.


Setelah itu, Devano turun dari dalam mobilnya, Berjalan dengan langkah lebar ke tempat seorang laki-laki yang umurnya setara dengan umurnya.


"Apa mau anda? Jangan terbelit-belit. Cepat katakan, Karna saya tidak punya banyak waktu untuk hal yang tidak terlalu penting seperti ini" kata Devano sambil menatap tajam pria itu.


"Slooww, Dev. Gue meminta lo ke sini hanya untuk memberitahu hal yang penting. Ini bukan lagi masalah masalalu mu, Tapi tentang hal yang bisa saja membuat mu hancur" balas orang itu yang tentu saja membuat Devano mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu? Bicara yang jelas. Jika memang ini bukan tentang masalah masa lalu ku, Lalu hal lain apa yang kamu ketahui?" tanya Devano dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.


"Keselamatan istrimu dalam bahaya, Dev. Gue memang pernah menjadi sosok yang memanfaatkan mu di masa lalu, Tapi untuk kali ini, Musuh kita sama. Oleh karena itu, Gue memberitahu akan hal ini pada lo, Agar lo bisa lebih hati-hati dan lebih waspada lagi"

__ADS_1


"Apa maksudmu? Musuh kita sama? Siapa?"


"Adam. Berhati-hatilah. Mungkin dia memang tidak ada di sini, Tapi dia sudah meminta seseorang untuk menjadi informan serta mata-mata di tempatmu. Dan orangnya adalah orang terdekatmu" jawab orang itu serta langsung berlalu dari hadapan Devano. Membuat begitu banyak pertanyaan yang mulai terbesit dalam benaknya.


Devano terdiam mematung setelah mendengar apa yang baru saja di katakan oleh orang itu. Devano masih mencoba mencerna kalimat itu.


"Siapa orang yang dia maksud. Orang terdekatku menjadi informan dari om Adam. Tapi siapa?" gumam Devano pelan sambil memperhatikan mobil yang sudah berlalu dari sana.


Setelah itu, Devano kembali masuk ke dalam mobilnya. Mungkin untuk kali ini Devano membutuhkan dari anak buah orang tuanya.


"Aku tidak akan membiarkan orang itu mencelakai istri atau orang tuaku. Karna jika sampai hal itu terjadi, Aku akan turun tangan sendiri untuk memberikannya pelajaran karna sudah memulai permainan ini" kata Devano sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Adaaaammmmmmm. Sepertinya dia memang harus aku kasih pelajaran" kata Devano.


Setelah itu, Devano mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Orang kepercayaannya selama ini tentunya. Hingga tak butuh waktu lama, Orang di ujung telpon sudah menjawab panggilannya.


📱:Halo, Tuan muda. Ada apa?


📱:Tolong kamu minta semua anggota untuk berkumpul di markas, Sekarang. Ada hal penting yang harus saya bicarakan.


📱:30 Menit lagi saya sampai.


Setelah itu, Devano memutusakan sambungan telponnya, Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, Memberikan pelajaran pada Adam yang sudah dengan berani mengancam.


*


*


*


Sedangkan Nadira, Setelah melihat mobil Devano berlalu dari sana, Membuat wanita itu mengambil nafas dalam, Saat teringat akan perkataan Pamela kemaren.

__ADS_1


"Nadira, Sejak kapan kamu di sini? Kenapa tidak masuk sayang?" tanya Cristy saat melihat Nadira terdiam mematung di depan rumahnya.


Mendengar suara sang mama membuat Nadira membalikkan tubuhnya, "Mama" ujar Nadira sambil menoleh pada sang mama yang saat ini sedang berdiri di depan pintu.


"Sejak kapan kamu di sini sayang? Kenapa tidak langsung masuk? Kamu sendiri?" ulang Cristy


"Baru saja sampai ma. Iya, Ma. Nadira hanya sendiri. Sebenarnya tadi di antar sama Kak Devano, Hanya saja dia sedang ada meeting penting ma" balas Nadira sembari mendekat pada sang mama.


Cristy mengangguk paham, Kemudian mengajak Nadira untuk masuk. Di dalam ternyata ada sang papa yang sedang menikmati secangkir kopi hitam serta membaca koran di ruang tengah.


Saat melihat kedatangan Nadira, Sky mengalihkan perhatiannya dan meletakkan koran itu"Sayang, Kamu kesini kenapa tidak bilang-bilang? Untung saja hari ini papa libur tidak ke kantor" ujar Sky sambil berdiri dari duduknya.


"Maaf, Papa. Nadira memang sengaja tidak mengatakan pada papa dan mama. Oh ya, Ma, Pa, Ada hal penting yang mau Nadira katakan" balas Nadira sambil menoleh pada kedua orang tuanya secara bergantian.


Perkataan Nadira membuat kedua orang tuanya mengerutkan kecil keningnya. Pasalnya dari raut wajah Nadira terlihat sangat serius.


"Mau bicara soal hal penting apa, Sayang?" tanya Cristy


"Ini soal kak Mela. Apa mama dan papa sudah tau jika kak Mela adalah masa lalunya suamiku?" tanya Nadira sambil menatap kedua orang tuanya.


Mereka berdua tak langsung menjawab. Masih saling lirik karna cukup terkejut dengan apa yang baru saja terlontar dari putrinya.


"Kenapa mama dan papa diam saja? Jangan bilang kalau kalian berdua memang sudah tau akan hal ini?" tebak Nadira karna kedua orang tuanya masih diam tanpa menjawab sepatah katapun.


Setelah cukup lama hanya saling lirik, Akhirnya Cristy mengambil nafas dalam"Maafkan mama dan papa, Sayang. Bukannya mama dan juga papa tidak mau mengatakan akan hal ini pada kamu, Hanya saja kami berdua menunggu saat yang tepat" ucapnya pelan.


Nadira menatap kecewa pada Cristy"Jadi selama ini hanya aku yang tidak tau apa-apa soal ini. Kenapa mama dan papa tidak mengatakan pada Nadira. Mama menunggu saat yang tepat? Tapi kapan, Ma, Pa?" Nadira menundukkan wajahnya, Cukup merasa kecewa saat mengetahui jika kedua orang tuanya sudah tau jika Devano dan Pamela adalah masa lalu.


"Kami berdua benar-benar minta maaf, Sayang. Tapi mama dan juga papa ada alasan kenapa tidak mengatakan hal ini sama kamu" timpal Sky yang sejak tadi hanya diam


"Alasan apa, Pa. Alasan biar aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa!" kata Nadira lagi dan langsung berlalu dari sana. Nadira menaiki anak-anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Melihat Nadira seperti itu, Kedua orang tuanya mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar"Nadira tau dari siapa akan hal ini, Ma. Kenapa tiba-tiba saja dia datang dan menanyakan hal itu pada kita?" tanya Sky sambil menatap punggung Nadira yang sudah naik ke lantai atas.


"Entah, Pa. Mama juga tidak tau" balas Cristy pelan


__ADS_2