
"Kenapa? Apa kamu sudah menyesal? Satu hal yang harus kamu tau, Alex. Setiap penyesalan memang akan datang di saat kita sudah kehilangan" ucap Isma sambil menatap Alex
"Berjuanglah sendiri. Dapatkan Farah dengan caramu sendiri. Sudah cukup mama selama ini memperjuangkan kebahagiaanmu, Sudah cukup mama memikirkan bagaimana masa depanmu. Mulai saat ini, Perjuangkan Lah Farah dengan caramu sendiri" kata Isma lagi dan langsung berlalu dari hadapan Alex. Meninggalkan pria itu yang sudah terdiam di sana..
"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan Farah kembali. Saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh pria itu, Sepertinya akan sangat sulit buatku untuk bisa mendapatkan Farah kembali" ucapny
Tiba-tiba saja perkataan Devano terngiang begitu saja. Membuat Alex tidak yakin bisa bersama dengan Farah lagi.
Jangan pernah berharap bisa memiliki kak Farah kembali. Setelah apa yang sudah anda lakukan terhadapnya. ingat, Saya tidak akan membiarkan kak Farah bersama dengan pria brengsek seperti anda. Laki-laki yang tidak bisa menghargai seorang wanita
Di Tempat Lain
"Siapa yang telfon?" tanya Nadira setelah Devano memutuskan sambungan telfonnya.
"Oohh itu si Saras, Sayang. Dia bilang katanya hari ini proyek kita yang dengan Mr, Darwin akan di mulai. Saras tanya apa aku ada waktu untuk datang ke sana" terang Devano pada Nadira.
"Lalu kenapa kamu tidak datang saja kesana, Oppa?"
"Karna hari ini aku ingin Quality time berdua sama kamu. Aku tidak mau ada siapapun yang menggangguku, Termasuk pekerjaanku" seru Devano sambil menatap Nadira.
Mendengar itu membuat Nadira mengangkat kedua sudut bibirnya. Ada rasa bahagia tersendiri saat mendengar kalimat itu.
"Kenapa aku merasa sangat bahagia begini saat mendengar kalimat itu." Nadira membatin sambil terus menatap Devano.
"Oh iya, Oppa. Bagaimana keadaannya kak Farah? Kenapa kemarin kamu tidak membawanya kesini? Kan kasian kak Farah sendirian" gumam Nadira pada Devano.
"Siapa bilang kak Farah sendirian, Sayang. Aku sudah meminta Art yang dulu untuk kembali bekerja di sana. Sekalian bisa menemani kak Farah. Karna pembantu yang biasa hanya datang pagi pulang sore. Tidak bisa menginap. Soalnya dia punya anak yang masih bayi"terang Devano pada Nadira
"Ooh begitu"
"Oh ya, Sayang. Hari ini aku mau menghabiskan waktu hanya berdua sama kamu. Mau jalan-jalan gak?' tawar Devano sambil menatap pada Nadira
"Eeemmm boleh aja sih. Tapi" Wanita itu mengambil nafas sejenak. Saat teringat jika bekas yang semalam masih cukup terasa sakit. Bahkan itu juga alasan kenapa Nadira belum beranjak dari tempat tidur.
"Tapi kenapa? Masih sakit ya?" Devano duduk di depan Nadira sambil menatap wajah wanita itu.
Nadira tak menjawab. Hanya memberi anggukan pelan dengan wajah yang terlihat sendu. Melihat raut wajah Nadira membuat Devano mendekat dan membawanya tubuh Nadira dalam dekapannya.
"Apa perlu kita ke rumah sakit? Hmmm. Aku tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa"
__ADS_1
Perkataan Devano membuat Nadira mengangkat wajahnya"Oppa gila ya. Masa iya mau ke rumah sakit. Nanti kalau dokter tanya sakit apa, Apa yang yang harus kita jawab. Ya kali mau bilang karna malam pertama. Malu lah Oppa. Ada-ada saja" gumam Nadira sambil melepaskan pelukan Devano.
Melihat ekspresi Nadira membuat Devano mengulum bibirnya"Ya kalau memang hal itu perlu, Kenapa tidak, Sayang. Kita ke rumah sakit ya?" ucapnya lagi
Dengan cepat Nadira menggeleng"Ahhh tidak mau! Mau bikin aku mau apa bagaimana. Ada-ada saja"
"Ya sudah. Lebih baik sekarang kamu mandi. Kita hari ini sini saja. Nanti akan aku belikan home teater biar kamu tidak bosan ya"
Nadira diam. Masih memikirkan bagaimana caranya mau mandi. Turun dari tempat tidur saja dia sudah tidak berani. .
Ting....Tong ..Ting...Tong...
Mendengar suara bel Apartemen, Membuat Devano keluar dari dalam kamarnya. Devano sudah bisa menebak yang datang pasti ojek online yang ingin mengantarkan obat yang Devano pesan pada Saras. Ternyata memang benar, Dia adalah kurir dari apotek itu sendiri.
"Maaf, Dengan mas Devano?"
"Iya, Saya sendiri"
Devano mengambil obat itu lalu kembali masuk ke dalam apartemen. Belum juga Devano menutup pintu apartemen, Pria itu mendengar suara Nadira yang berteriak dari dalam kamarnya. Membuat Devano seketika langsung panik bukan main.
"Aaaaaaa"
Namun wanita itu tak menjawab. Nadira hanya terdiam sambil menatap Devano dengan raut wajah yang tak bisa Devano Artikan"Adaa apa, Sayang. Jangan membuatku khawatir?" ujarnya pada Nadira yang masih terdiam.
"Ini ada darah di seprei nya, Oppa." balasnya sambil menunjukkan bercak darah yang ada di atas sprei itu.
Devano mengambil nafas dalam.. Istrinya ini benar-benar polos apa bagaimana.."Sayang. Itu kan darah yang semalem. Darah kamu" Devano menatap Nadira sambil mengatakan hal itu yang terdengar lembut. membuat wajah Nadira seketika menjadi sangat merona.
"Hah, Ini darah semalem. Maksudnya darah keprawananku. Astaga memalukan sekali aku ini, Kenapa aku bisa lupa akan hal itu" batin Nadira sambil menundukkan wajahnya karna merasa cukup malu.
"Sekarang kamu mandi ya. Kalau urusan seprei, Biar nanti aku bawa ke laundry"
Mendengar itu membuat Nadira Mengangkat wajahnya cepat"Apa! Mau di bawa ke laundry. Jangan" balas Nadira cepat yang tentu saja membuat Devano seketika langsung mengerutkan keningnya.
"Kenapa jangan, Sayang?"
"Janganlah, Aku malu"
"Kenapa harus malu. Tidak akan ada orang yang tau itu darah apa"
__ADS_1
"Pokoknya gak boleh di bawa ke laundry. Aku malu oppa."
"Ya sudah. Biar nanti aku yang mencucinya sendiri"
Di Tempat lain
"Ini dompet milikmu kan, Nona" ucap seorang pria serta menyodorkan tas milik Risa yang di ambil oleh pencopet tadi.
"Iya, Ini tas milikku. Terimakasih sudah mau menolongku" Risa tersenyum bahagia saat melihat tas itu bisa ada di tangannya kembali.
"Sama-sama. Perkenalkan, Nama saya Reza." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Risa. Sekali lagi terimakasih banyak ga, Mas Reza. Bagaimana sebagai tanda terimakasih saya, Saya traktir masnya makan. Mah ya,"
"Tidak perlu, Mbk Risa. Itu hanya kebetulan saya ada di sini" Balas Reza sambil tersenyum pada Risa. "Ayolah mas. Saya maksa ini." kata Risa lagi karna Reza menolak ajakannya.
"Ayolah, Pliss"
"Baiklah, Tapi ada syaratnya"
Perkataan Reza berhasil membuat Risa mengerutkan keningnya"Syarat? Syarat apa memangnya?" balas Risa sambil menatap pada Reza
"Berikan saya nomor ponselmu"
Entah kenapa saat melihat Riss tadi, Membuat Reza ingin kenal dan lebih dekat dengannya. Biarpun awalnya Reza tidak memiliki keberanian. Akhirnya niatnya kesampaian saat rencana itu berhasil muncul begitu saja.
"Maafkan saya yang sudah menggunakan cara tidak masuk akal ini untuk bisa mengenalmu, Nona. Karna memang hanya itu satu-satunya cara yang berhasil melintas begitu saja" batin Reza sambil menatap Risa. Berharap semoga Risa mau memberikan nomor ponselnya.
Hal itu membuat Reza teringat akan beberapa saat yang lalu. Tepatnya saat melihat Risa di dalam mobilnya. Membuat Reza langsung menaruh hati pada pandangan pertama mereka. Lebih tepatnya saat di pom bensin beberapa menit yang lalu.
"Baiklah, Saya akan memberikan nomor ponsel saya tapi nanti, Setelah kita selesai makan. Bagaimana,?"
Di Rumah sakit
"Katakan, Kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang terhadapku, Ratna? Bukankah hari itu aku sudah meninggalkan kartu nama serta alamat tempat tinggalku, Lalu kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal jika karna malam itu, Kamu hamil anakku" ucap Zein lagi pada Ratna. Karna menurutnya, Jawaban Ratna tadi kurang puas untuk Zein.
"Bukankah tadi sudah aku katakan padamu, Zein. sudahlah, Semuanya sudah berlalu juga kan. Yang lalu biarlah berlalu" ujar Ratna dan melangkahkan kakinya untuk masuk kembali ke ruangan IGD. Namun langkahnya terhenti saat suara Zein kembali menyapu indra pendengarannya.
"Biarkan aku memperbaiki semuanya" ucap Zein yang berhasil menghentikan langkah Ratna.
__ADS_1
Mendengar itu membuat Ratna memejamkan kedua matanya sejenak. Dia sadar jika hal itu sangat tidak mungkin. Karna saat ini, Ratna sedang mengandung anak dari Fadil. Pria yang sudah sangat merugikan hidupnya.