
"Kenapa kamu diam saja, Ratna. Tolong jawab pertanyaanku. Apa memang aku tidak pantas untuk menjadi bagian dari hidup kamu dan juga Aira. Aku mohon, Ratna, Tolong berikan satu kaki saja kesempatan untuk aku menebus semuanya. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik dengan versi yang aku bisa"kata Zein sambil menangkup kedua pipi Ratna lalu menatap dalam kedua sorot matanya.
Hal itu membuat Ratna semakin terdiam. Tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan yang Zein ajukan padanya. Pasalnya, Disini yang tidak pantas bukanlah Zein, Melainkan Ratna sendiri. Perbandingan mereka seperti Langit dan bumi.
"Kenapa kamu hanya diam saja, Ratna? Tolong jawab pertanyaanku" kata Zein lagi karna Ratna hanya diam fak bergeming. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan bunda Zein yang mendatanginya ke rumah sakit beberapa jam yang lalu.
Ratna, Tolong kamu jauh-jauh dari Zein anak saya. Karna kamu sangat jauh dari kata pantas untuknya. Kalian seperti langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersama. Sekali lagi saya peringatkan, Tolong menjauh dari anak saya, Karna kamu sama sekali tidak pantas untuk Zein.
Kata-kata itu tiba-tiba saja terngiang, Membuat Ratna mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar, Setiap kata yang terlontar dari mulut bunda Zein sudah benar-benar melukai perasaannya.
"Pergi kamu, Zein. Dan aku minta tolong jangan pernah datang lagi ke sini." ujar Ratna dan langsung bangun dari duduknya, Meninggalkan Zein yang sudah terdiam mematung setelah mendengar apa perkataan Ratna tadi.
Seribu pertanyaan tentu saja mulai terbesit dalam benaknya, Pasalnya kemarin hubungan mereka sudah semakin dekat setelah kepulangan Aira dari rumah sakit. Bahkan Ratna juga mengatakan akan memikirkan ulang soal ajakan Zein untuk menikah dengannya, Lalu kenapa sekarang Ratna tiba-tiba saja sikapnya kembali berubah menjadi seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi. Karna Zein merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Apa maksud kamu, Ratna. Tolong jangan seperti ini. Bukan kah waktu itu kamu pernah bilang akan memberikan kesempatan untuk aku menebus semuanya. Lalu apa ini?" kata Zein sambil berusaha mengejar Ratna hang sudah langsung menutup pintu panti.
"Ratna, Tolong jelaskan apa maksud dari semua ini, Ratna. Tolong katakan kamu hanya bercanda. Aku mohon jangan seperti ini" kata Zein sambil mengetuk pintu panti.
Namun sama sekali Ratna tak menggubris perkataan Zein. Wanita itu hanya diam si balik pintu dengan air mata yang semakin mengalir deras. Membuat ibu panti mendekat dengan rasa penasaran dan juga pertanyaan yang mulai terbesit dalam benaknya.
"Ada apa, Nak? Apa yang sudah terjadi?" tanya bu Mirna sambil menepuk pundak Ratna. Membuat Ratna seketika itu langsung menangis dalam pelukan bu Mirna.
__ADS_1
"Bu, Hikss....hiksss...hiks" Ratna masih terdiam. Tak langsung menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar dari bu Mirna. Hanya terdengar suara isak tangia Ratna di sana.
"Ada apa, Neng? Apa yang sudah terjadi. Ada apa denganmu?" tanya bu Mirna sambil mengusap rambut Ratna.
"Bu, Apa saya salah jika saya berharap bisa bersama dengan laki-laki yang rupanya adalah ayah kandung Aira" balas Ratna di sela isak tangisnya.
Mendengar pertanyaan Ratna langsung membuat bu Mirna tau kenapa Ratna tiba-tiba saja menangis. "Tentu saja tidak, Neng. Itu malah bagus neng bisa bersama dengan nak Zein. Karna biar bagaimanapun, Aira membutuhkan kalian berdua. Lalu kenapa kamu nangis neng?" bu Mirna tentu merasa penasaran apa alasan Ratna hingga membuatnya menangis seperti itu.
Ratna masih terdiam, Tak langsung menjawab pertanyaan dari bu Mirna. "Karna hal itu sangat mustahil, Bu. Karna orang tua Zein tidak akan pernah mengijinkan kami bersama. Menurutnya, Kami berdua bagaikan langit dan bumi yang sangat jauh kedudukannya" terang Ratna setelah cukup lama terdiam
*
*
*
"Sayang, Hello. Kenapa kamu tidak jawab aku? Ini sekalian aku bantu packing semua barang-barang milikmu" kata Devano lagi. Pria itu memasukkan beberapa barang miliknya dalam kopernya sendiri, Namun lagi-lagi masih senyap, Nadira belum menjawab seperti katapun dari pertanyaan itu.
"Aduuh sayangku, Istriku Nadira Sky Puspita. Ini kamu mau bawa barang yang mana saja. Biar sekalian aku bantu packing" kata Devano lagi sambil menoleh pada Nadira.
Hal itu tentu saja membuat Nadira merasa sangat kesal. Bukan kah beberapa saat yang lalu Nadira sudah berpesan agar Devano tidak mengajaknya bicara selama Nadira menggunakan masker.
__ADS_1
Wanita itu bangun dari posisi tidurnya, Membuka maskernya lalu menatap Devano"OPPA, BUKAN KAH TADI SUDAH AKU PERINGATKAN, JANGAN AJAK AKU BICARA SELAMA AKU MENGGUNAKAN MASKER. OPPA NGESELIN BANGETT SIHH!!" teriak Nadira dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Membuat Devano semakin merasa gemas dengan raut wajah yang di tunjukkan oleh istrinya.
Melihat raut wajah Nadira membuat Devano mengulum bibirnya. Dia seperti melihat Nadira yang dulu menjadi asisten pribadinya. Nadira yang sering ngambek karna kelakuan Devano sendiri yang sering kali menguji.
"Kenapa oppa mengulum bibir, Ada yang lucu?" kata Nadira karna Devano mengulum bibirnya sambil menatap wanita itu.
"Tidak, Hanya saja wajah kamu terlihat sangat menggemaskan sayang. Membuatku teringat akan Nadira yang dulu menjadi asisten pribadiku" Devano masih terus mengulum bibirnya. Membuat Nadira semakin merasa kesal. Hingga satu akal licik berhasil terbesit begitu saja.
"Awas saja kamu, Oppa. Akan tau akibatnya karna sudah menertawakan" batin Nadira sambil menatap Devano. Membuat pria itu merasa curiga dengan apa yang ada di dalam pikiran Nadira saat ini.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu, Sayang?" sekarang giliran Devano yang bertanya, Kenapa istrinya malah menatapnya sambil senyum-senyum licik. "Tidak ada, Minggir, Aku mau ke kamar mandi" balasnya yang pura-pura ingin ke kamar mandi.
Akhirnya Devano menyingkir dari hadapan Nadira. Pria itu kembali fokus dengan barang-barang miliknya yang masih belum masuk ke dalam koper"Ada apa dengannya, Aneh sekali" gumam Devano pelan.
Devano kembali memasukkan barang-barang itu ke dalam koper miliknya, Namun tak berselang lama, Tiba-tiba saja Nadira menariknya dan membuatnya terjatuh di atas ranjang. Setelah Devano terlentang, Nadira langsung mendukung di atasnya"Apa yang mau kamu lakukan, Sayang? Bahkan ini masih siang untuk melakukan hal itu" kata Devano sambil menatap pada Nadira.
Wanita itu tak menjawab. Masih diam dan langsung memasangkan masker pada wajah Devano serta dua timun di kedua matanya. "Jangan banyak bicara, Kalau tidak, Wajah oppa akan berubah keriput" ucapnya sembari turun dari atas tubuh Devano.
"Dengan begini, Tidak akan ada lagi yang menggangguku menggunakan masker" Nadira ikut terlentang di samping Devano sambil memasangkan masker serta timun di wajahnya sendiri.
"Apa-apaan ini, Sayang. Aku tidak mau menggunakannya"
__ADS_1
"Jangan banyak bicara, Apa oppa mau wajahnya jadi keriput. Diamlah" balas Nadira pela .