
"Ibu hanya sendiri? Dimana suami anda?" tanya seorang dokter wanita setelah Farah masuk ke dalam ruangan pemeriksaan kandungan.
Mendengar itu membuat Farah terdiam untuk beberapa saat, Wanita itu menoleh pada Alan yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya.
"Emmmmm, Suami saya" Farah masih memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Hingga tak berselang lama Alan angkat bicara.
"Saya suaminya, Dokter. Iya, Saya suaminya" ujar Alan yang tentu saja seketika langsung berhasil membuat Farah mengerutkan keningnya. Memang, Farah sudah menceritakan semua tentang hidupnya serta bagaimana jalan pernikahannya dengan Alex pada Alan saat mereka di bali waktu itu. Dan karna hal itu, Alan meminta pindah praktek ke jakarta setelah mengetahui jika Farah sudah pindah tempat tinggal di sana.
Alex yang baru saja ingin masuk ke dalam ruangan itu membuatnya menghentikan langkahnya ketika mendengar kalimat yang baru saja menyapu indra pendengarannya.
"Apa-apaan ini, Enak saja orang itu mengaku sebagai suaminya Farah" kata Alex sambil menatap tajam Alan dari celah pintu.
Jika di tanya apakah Alex marah? Jawabannya sudah tentu iya. Entah kenapa saat mendengar Alan mengaku sebagi suaminya Farah membuat Alex tidak suka. Hatinya tiba-tiba saja menjadi panas, Seperti terbakar namun tidak ada api.
"Kenapa rasanya hatiku terasa nyeri saat pria itu mengaku sebagai suaminya Farah. Aku tidak bisa membiarkan hal ini, Karna Farah adalah Istriku. Iya, Mau bagaimanapun, Secara hukum dia masih istriku" kata Alex
"Aku harus masuk dan mengatakan jika aku lah suaminya Farah, Bukan dia. Tapi apakah itu mungkin, Bagaimana jika nanti penolakan yang aku dengar dari Farah, Setelah apa yang aku lakukan di masa lalu, Apakah masih pantas untukku menjadi suaminya" ujar Alex.
Pria itu mengambil nafas dalam lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan itu, Membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana.
Ternyata Alan menyadari keberadaan Alex di sana. " Orang itu kan suaminya Farah, Iya dia suaminya Farah. Aku masih ingat dengan wajahnya yang pernah Farah tunjukkan fotonya saat itu" batin Alan sambil terus memicingkan kedua matanya ke arah pintu..
"Saya keluar dulu ya, Ternyata masih ada jadwal buat visite pasien" kata Alan dan langsung keluar dari sana. Meninggalkan dokter Anara dan juga Farah yang masih terdiam karna kalimat yang Alan ucapkan..
Setelah keluar dari ruangan pemeriksaan, Alan mengejar Alex yang sudah melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Jika memang anda mencintainya, Perjuangkan Lah" ucapnya.
Kalimat itu tentu saja langsung mampu membuat Alex menghentikan langkahnya, Alex membalikkan tubuhnya menoleh pada sumber suara"Apa maksud anda?" kata Alex sambil menatap Alan.
Alan tak langsung menjawab, Masih menatap Alex sambil mengangkat kaku kedua sudut bibirnya"Jika memang anda mencintainya, Perjuangan dia. Karna memang terkadang kita perlu berjuang untuk bisa mendapatkan apa yang kita inginkan"balasnya
Alex mengerutkan keningnya, Masih tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja Alan katakan"Bukankah tadi anda sudah mengaku sebagai suaminya? Lalu untuk apa saya berjuang. Jika pada akhirnya perjuangan saya berujung sia-sia" balas Alex
"Anda cemburu? Itu artinya anda sudah mencintainya. Saya tidak ada maksud kak hal itu, Berjuanglah, Selagi masih ada waktu yang tersisa. Jika anda tidak mau berjuang, Maka saya akan maju paling depan dan menggantikan posisi anda" Gumam Alan seraya langsung berlalu dari hadapan Alex. Meninggalkan Alex yang sudah diam.
"Semoga setelah ini pria itu bisa sadar. Jika sebenarnya selama ini dia mencintai Farah. Aku janji akan membantu kamu untuk membuat suamimu itu sadar, Farah. Karna aku mau kamu bahagia dengan hati yang hingga saat ini masih kau jaga" batinnya.
Setelah teringat akan cerita Farah saat mereka di bali, Membuat Alan sadar jika Farah begitu mencintai Alex, Suaminya.
DI TEMPAT LAIN
"Iya, Sayang. Beneran seenak itu. Kenapa kamu baru bawa aku kesini sayang, Kamu kan sudah tau kalau aku sangat menyukai makanan yang berbentuk mie" protes Devano.
"Ya bagaimana lagi, Oppa. Orang Oppa menjadi orang spesial ku baru-baru ini. Coba saja dari dulu, Pasti sudah aku ajak dari kapan hari" balas Nadira di sela langkahnya.
"Kamu curang, Sayang. Masa selama ini menikmati mie ayam yang rasanya seenak ini seorang diri. Mulai sekarang itu akan menjadi mie ayam langganan ku" kata Devano sambil menoleh pada Nadira.
"Oh ya sayang, Setelah ini kita langsung ke butik ya, Soalnya orang butik sudah bilang kalau gaun yang aku pesan kemarin ternyata sudah ready. Kita hanya perlu Fitting sebentar untuk mencoba apakah gaun itu sudah cocok buat kamu atau nggak" sambung Devano.
Nadira mengerutkan keningnya. Karna sebelumnya Devano tidak pernah mengatakan jika sudah memesan sebuah gaun pernikahan untuk Nadira.
__ADS_1
"Jadi kita tidak perlu pilih gaun lagi, Oppa? Memangnya kapan Oppa pesan gaunnya?" Nadira menoleh pada Devano
"Kemarin, Sayang. Setelah meminta pada om Firman untuk menyiapkan pesta pernikahan, Aku juga meminta designer langganan Mommy untuk membuat sebuah gaun yang sesuai dengan postur tubuh kamu. Dan sekarang gaunnya sudah selesai" balasnya
"Hah! Secepat itu, Oppa? Memangnya bisa ya?"
"Ya tentu saja bisa sayang. Sudah ayo kita segera kesana, Soalnya tante Mirna habis ini masih ada urusan katanya"
Nadira tak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil Devano.
Setelah memastikan Nadira menggunakan safety belt, Devano melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu. "Oh ya, Oppa. Bagaimana keadaannya mamanya Nathan? Kenapa tadi oppa bilang ada di rumah sakit? Memangnya ngapain?" tanya Nadira. Karna Devano memang belum menceritakan bagaimana kondisi mamanya Nathan saat ini.
"Keadaannya mama Nathan sangat menghawatirkan, Sayang. Sepertinya dia terkena gangguan mental karna pengaruh dari salah satu obat yang mungkin di berikan oleh om Adam" terangnya sambil terus melajukan mobilnya.
Mendengar itu membuat Nadira menutup mulutnya, Tidak pernah menyangkan jika keadaan dari mama Nathan begitu menyedihkan.
"Inalillahi. Kasian sekali, Oppa"
"Iya, Sayang. Kasian sekali. Tatapannya itu selalu kosong, Sesekali air matanya itu menetes. Tak merespon pembicaraan orang lain" terang Nathan lagi
"Semoga masih di beri kesembuhan ya, Oppa. Kasian juga si Nathan"
Tanpa terasa, Mobil yang Devano gunakan sudah sampai di depan butik langganan sang mommy. "Ayo turun sayang, Tante Mirna sudah menunggu kita" kata Devano pada Nadira.
"Iya, Oppa" balasnya
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam butik, Di sana memang sudah ada pemilik butik yang sudah menunggu kedatangan Devano serta Nadira.