Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Kawan Monyet


__ADS_3

*Kawan monyet:Sama-sama, Dev. Aku juga ikut bahagia dengan keberhasilan ini. Sepertinya itu adalah imbalan yang cukup sepadan dengan apa yang sudah aku lakukan. Jangan lupa usahakan supaya aku dan Risa bisa sampai ke jenjang selanjutnya. Seperti kamu dan Nadira. *


*Nadira sedikit melirik pada Devano. Kemudian kembali melanjutkan membaca pesan balasan Devano untuk kawan monyetnya. *


Devano:Itu hal yang mudah. Apa sih yang tidak bisa di lakukan oleh Devano Wardana


*Kawan monyet:Ck ck ck ck!! Sombong sekali. Sepertinya seorang Devano tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan dari "Anak buah" *


Devano:Enak saja. Jangan meremehkan seorang Devano. Karna dia bisa melakukan apa saja dengan atau tanpa bantuan orang lain


Kawan monyet:Ya ya ya paham. Devano nih boss


Devano:Jangan di senggol. Nanti ngamuk


Setelah membaca pesan Devano yang terakhir, Membuat tawa Nadira pecah"Hahahhah. Astaga, Oppa. Jangan di senggol nanti ngamuk" kata Nadira di sela tawanya.


Nadira terus saja tertawa. Kalimat Devano benar-benar berhasil membuat raut wajah Nadira kembali berubah. Wanita itu tidak lagi menampakkan raut wajah cemburunya.


"Kenapa gak di tambahi slebew aja sekalian, Oppa. Ada-ada saja chattingan kalian. Tapi tunggu dulu, Kawan monyet itu adalah pak Reza kan, Oppa?" tanya Nadira. Wanita itu tiba-tiba saja teringat akan panggilan yang selalu Devano ucapkan setiap kali bertemu dengan Reza"Kawan Monyet"


Devano mengangguk"Iya, Sayang. Dan orang yang sudah berhasil membuat kamu cemburu adalah seorang Reza mahardika" balas Devano sambil terkekeh.


"Cie yang diam-diam cinta sama suami" Ujarnya yang sengaja ingin menggoda Nadira. Mendengar itu membuat kedua pipi Nadira merona.


"Kepedean sekali sih Oppa. Siapa juga yang cinta, Orang biasa saja" Nadira memalingkan wajahnya ke lain arah. Wajahnya benar-benar merah saat mendengar godaan dari suaminya. Bahkan bukan hanya wajahnya, Telinganya juga ikut terasa panas.


"Itu bukan kepedean, Sayang. Itu sudah fakta yang bisa aku lihat dari raut wajahmu. Sekarang coba jujur, Kamu mencintaiku kan?" tanya Devano sambil memeluk Nadira dari belakang. Devano bahkan tidak sadar jika saat ini mereka sedang ada di dalam mobil.


Nadira yang merasakan tangan Devano melingkar di perutnya membuat wanita itu menoleh ke arah Devano"Jangan seperti ini, Oppa. Ingat, Ini kita sedang di dalam mobil. Tidak enak jika di lihat oleh Dito" balas Nadira.

__ADS_1


"Kenapa. Tidak masalah. Lagian juga Dito sedang fokus mengemudi. Mana ada waktu buat ngintip apa yang sedang kita lakukan di sini. Bukan begitu, Dito? " balas Devano pada Nadira.


"Iya, Tuan muda" balas Dito cepat. Supir itu hanya mengulum bibirnya. Merasa terhibur dengan kelakuan Devano dan juga Nadira. Karna tanpa harus mengintip pun, Dito sudah bisa melihat apa yang mereka lakukan dari kaca spion.


"Astaga, Ada-ada saja mereka berdua" batin Dito sambil terus fokus dengan stir mobil.


Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Nadira melihat jam di layar ponselnya yang sudah memperlihatkan pukul 17:30. Itu artinya perjalanan mereka sudah tinggal satu jam saja.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Devano saat melihat Nadira memegang lehernya"Pegel Oppa. 8 jam kita naik mobil. Capek sekali. Soalnya ini adalah pertama kalinya aku naik mobil dan perjalanan yang cukup lama. 9 jam lebih oppa. Kenapa tidak naik pesawat saja coba" ujar Nadira sambil memijat lehernya.


"Bagian mana yang pegal? Sini biar aku bantu pijatkan" kata Devano pada Nadira.


"Bagian sini, Sini, Sama di sini" Nadira menunjuk kesemua bagian yang terasa pegal. Mendengar itu membuat Devano tak menjawab, Pria itu langsung memijat semua bagian yang sudah Nadira tunjuk.


"Lebih keras dong, Oppa. Ini sama sekali pijitan oppa itu tidak berasa" protes Nadira saat Devano hanya memberikan pijatan pelan dan juga lembut.


DI TEMPAT LAIN


Setiap jam makan siang, Zein selalu datang ke panti asuhan untuk menemui Ratna, Namun hingga hari ini, Wanita itu tidak pernah mau menemui Zein dan membiarkannya menunggu di kursi panjang yang ada di samping panti.


Hal itu tentu saja membuat Zein selalu bertanya-tanya dan penasaran, Sebenarnya ada apa? Kenapa sikap Ratna seketika langsung berubah 180°. Padahal sebelumnya Zein merasa tidak pernah membuat salah sedikitpun terhadapnya.


Bahkan bukan hanya tidak mau menemui, Zein, Ratna juga sudah memblokir nomor Zein agar tidak bisa lagi menghubunginya.


"Sebenarnya ada apa dengan Ratna, Kenapa dia seperti menghindari ku. Rasanya aku tidak pernah berbuat salah sedikitpun" kata Zein sambil memperhatikan chattingan terakhit antara Ratna dan juga Zein. Karna pesan yang selalu dia kirim dari kemarin masih centang satu.


Zein mengambil nafas dalam. Hal ini tentu saja membuatnya merasa bingung. Pasalnya terakhir mereka saling berbuat pesan semuanya masih baik-baik saja. Bahkan Ratna juga meminta Zein untuk membelikan beberapa barang keperluan Aira di mini market.


Ceklek

__ADS_1


Mendengar suara pintu terbuka membuat Zein menoleh cepat. Pria itu sudah satu jam lebih hanya duduk di sana dan berharap Ratna mau keluar dan menemuinya.Ternyata penantiannya tidak sia-sia. Karna Ratna benar-benar keluar dan berjalan menemuinya.


Melihat Ratna melangkah ke arahnya, Membuat Zian bangun dari duduknya. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya sambil menatap Ratna yang keluar tanpa menunjukkan ekspresi apapun di sana.


"Ratna, Akhirnya kamu keluar juga" ujar Zein pada Ratna yang semakin mendekat.


"Jangan banyak basa-basi. Apa yang kamu inginkan? Bukan kah hari itu sudah aku katakan, Berhenti menghubungiku apalagi menemui ku" balas Ratna sembari duduk di kursi itu tanpa menoleh pada Zein.


Mendengar perkataan Ratna membuat Zein mengambil nafas dalam. Sungguh Zein tidak mengerti kenapa Ratna malah jadi seperti ini. Pria itu menatap Ratna lalu menangkup kedua pipinya"Kasih aku alasan kenapa kamu melarang ku untuk menghubungiku dan menemui mu. Katakan, Apa aku sudah membuat kesalahan? Apa aku sudah membuat hal yang tak kamu sukai. Katakan, Ratna. Aku hanya ingin tau alasan yang sebenarnya kenapa secara tiba-tiba kamu melarang ku untuk datang menemui mu dan menghubungi mu" ujar Zein sambil menatap kedua bola mata Ratna.


Semua pertanyaan yang keluar dari mulut Zein membuat Ratna terdiam. Wanita itu memejamkan kedua matanya sejenak. Hatinya selalu terasa sakit setiap kali teringat akan perkataan bunda Zein.


Ratna mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar"Aku tidak memiliki banyak alasan, Hanya saja untuk saat ini aku tidak mau kamu mengusik hidupku" balas Ratna pada Zein.


"Iya tapi kenapa? Tolong berikan aku alasan yang sedikit masuk akal, Ratna"


"Alasannya hanya satu, Zein. Karna aku sama sekali tidak pantas buat kamu. Kamu terlalu sempurna buat aku. Seperti apa yang sudah mama kamu katakan, Kita bagaikan langit dan bumi. Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bersatu" batin Ratna sambil terus menatap wajah Zein


"Kenapa kamu diam saja, Ratna. Apa kamu lupa jika hari itu kamu sudah mengijinkan ku untuk hadir di dalam kehidupan kamu dan juga Aira. Hari itu kamu juga sudah mengatakan jika aku boleh menebus semua waktu yang belum sempat aku berikan untuk kalian, Lalu kenapa sekarang kamu malah berubah pikiran, Ratna. Tolong katakan apa alasan mu berubah seperti ini. Aku mohon"


Zein terus menatap wajah Ratna sambil memohon agar Ratna mau memberikan alasan yang sedikit masuk akal. Namun Ratna masih terdiam. "Karna kita bagaikan Langit dan bumi, Sangat jauh perbedaannya. Dan sampai kapan pun, Kita tidak akan pernah bisa bersama, Zein. Oleh karena itu, Aku minta, Tolong jangan pernah datang lagi. Tolong lupakan semua yang sudah pernah aku katakan" kata Ratna serta langsung bangun dari duduknya.


Namun langkahnya terhenti saat suara Zein kembali menerpa indra pendengarannya"Siapa bilang kita berbeda. Bahkan kedudukan semua orang itu sama. Siapa yang sudah mengatakan kamu tidak pantas untukku?" tanya Zein sambil menarik tangan Ratna.


"Bunda kamu"


Setelah mengatakan hal itu, Ratna benar-benar berlalu dari hadapan Zein. Meninggalkan pria itu yang sudah terdiam saat mendengar jawaban yang terlontar dari Ratna. Tidak pernah menyangka jika sang bunda sudah mengatakan hal seperti itu pada wanita yang ternyata ibu dari anaknya.


"Apa!!"

__ADS_1


__ADS_2