Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Pesan dari Bella


__ADS_3

"Nad, Ayo sayang. Kita harus segera berangkat. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat"


Suara itu membuat Nadira dan juga Bella menoleh ke arah sang mama yang sudah berdiri di depan pintu mobilnya. "Iya, Ma" balas Nadira sambil kembali memeluk Bella.


"Aku pamit ya Bel. Biarpun kita sudah tidak bisa bersama lagi, Setidaknya kita bisa video call untuk melepas rindu"


"Nad, Huaaaaaa. Nadira, Jangan pernah lupakan aku ya. Hikss....Hiks.." gumam Bella sambil membalas pelukan Nadira.


Melihat Bella seperti itu membuat Nadira mengulum bibirnya"Udah gak usah lebay. Aku gak selamanya di sana. Tiap libur kuliah insyaallah aku pulang. Udah dulu ya. By Bella, Jangan lupa sampaikan pesan aku sama mereka berdua dan juga pak Devano"


Setelah mengatakan hal itu, Nadira mengambil nafas panjang sejenak, Membalikkan tubuhnya dan menatap rumahnya sebentar. Kemudian melangkah menuju mobil dengan langkah yang sangat berat"Semoga setelah aku kembali semua sudah baik-baik saja. Akan aku buktikan jika aku bisa menjadi seperti yang mama dan papa harapkan. Aku gak boleh mengecewakan mereka. Karna mau bagaimanapun, Apa yang mereka berdua katakan memang benar. Hanya aku satu-satunya harapan yang mereka miliki. Aku pasti bisa kuliah sambil belajar mengurus perusahaan milik kedua orang tuaku" batin Nadira dan langsung masuk ke dalam mobil itu.


"Hati-hati, Nad. Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku ya" ujar Bella sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Iya, Bel. Aku pergi" balas Nadira sambil tersenyum.


Di Tempat Lain


Saat ini Devano sedang berdiri di atas balkon kamarnya Menatap setiap pengendara yang berlalu lalang di bawah sana. Di salah satu tangannya, Devano menggenggam segelas kopi panas yang dia teguk sedikit demi sedikit.


"Siapa sebenarnya yang sudah melakukan meeting bersama dengan Mr, Darwin. Kenapa Saras mengatakan jika besok siang akan ada pertemuan dengan Mr, Darwin untuk melakukan tanda tangan kontrak" ucapnya sambil meneguk kopi yang ada di tangannya.


Hal itu membuat ingatan Devano kembali pada kejadian siang tadi di kantor, Tepatnya setelah kepergian Ratna.


"Ada apa, Saras?" tanya Devano pada Saras yang sudah duduk di kursi yang ada di depan mejanya.


"Jadi begini, Pak. Baru saja saya mendapatkan kabar dari PT SEJAHTERA, Kalau besok mereka mau melakukan pertemuan dengan bapak untuk tandatangan kontrak" gumam Saras sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Saras membuat Devano tertawa"Hahhaahaa, Mau ngeledek saya karna kemarin gagal meeting sama Mr, Darwin? Hah" balasnya sambil terus tertawa.


Namun tawa itu seketika hilang saat Saras kembali mengulangi perkataannya serta mengatakan tempat pertemuan yang sudah dikirim oleh pihak Pt, SEJAHTERA


"Saya serius, Pak. Tadi pihak pt SEJAHTERA menghubungi saya. Awalnya saya juga tidak percaya. Karna kemarin bapak mengatakan jika semuanya gagal. Tapi ini nyata, Pak. Mereka mengatakan pertemuan Mr, Darwin dengan pak Devano di Restoran Pelangi besok siang jam 11:30" ulang Saras lagi.


"Apa! Jadi kamu serius? Tapi bagaimana bisa, Kemarin saja aku gagal meeting dengannya karna semua berkas yang seharusnya di gunakan buat persentasi hilang karna ulah Nadira. Jangankan meeting, Pergi ke tempat meeting saja saya tidak" balas Devano yang merasa cukup terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar dari Saras.


"Saya juga tidak mengerti, Pak. Tapi siapapun itu, Setidaknya perusahaan ini tidak gagal dalam tender kemarin" balas Saras sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya.


Dtttttttt.......Dtttttttt......Dtttttt


Suara dering ponselnya membuat Devano tersadar dari bayangan beberapa jam yang lalu. Kedua matanya membulat saat membaca pesan yang ternyata dari saudara sepupunya. Siapa lagi kalau bukan Bella.

__ADS_1


Bella:Besok kita harus bertemu, Kak. Ada hal penting yang harus kamu tau, kita bertemu di Restoran pelangi jak 12:00


__ADS_2