Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Semua karna cinta


__ADS_3

Alex yang mendengar perkataan Devano tentu saja merasa penasaran. Begitu banyak pertanyaan yang mulai terbesit dalam benaknya. Alex mendekat pada Devano dan juga Farah yang masih berpelukan. Masih saling melepas rasa rindu yang memang sudah sedalam itu.


"Aku sangat merindukanmu, Kak. Devano benar-benar merindukanmu" kata Devano sambil terus memeluk Farah dengan sangat erat.


"Kakak juga sangat merindukanmu, Dek. Kakak masih tidak menyangka, Akhirnya setelah sekian tahun, Kita masih bisa di pertemukan lagi" kata Farah sambil membalas pelukan Devano tak kalah erah.


"Lepaskan istri saya. Siapa kamu berani-beraninya memeluk istri saya" ucap Alex sambil menarik Devano. Dan membuat pria itu mau tidak mau harus melepaskan pelukannya.


Devano tak langsung menjawab apa yang baru saja Alex tanyakan. Pria itu masih terdiam sambil terus menatap tajam Alex. Masih teringat jelas bagaimana kejadian saat di Bali hari itu. Bahkan semua yang Farah ceritakan saat itu masih bisa terngiang-ngiang.


"Siapa kamu? Kenapa berani-beraninya memeluk istri saya" kata Alex lagi. Karna Devano masih dia tanpa mengatakan sepatah katapun. Hanya memberikan Alex tatapan tajam tanpa ekspresi apapun dari wajahnya. Wajah itu tiba-tiba saja menjadi datar.


"Apa! Anda suaminya? Apa saya tidak salah dengar?" seru Devano sambil terus menatap tajam Alex


"Iya, Saya adalah suaminya, Suami dari Farah pratiwi. Wanita yang sudah kamu peluk tanpa seizin saya" balas Alex


Mendengar itu membuat Devano tertawa" Hahahahah, Suami? Suami macam apa yang sudah sangat mudah bermain tangan. Apa tangan anda seringan itu? Hingga dengan sangat lihai mendaratkan pukulan pada wanita yang anda bilang 'Istri'. Apa anda sehat?" kata Devano pada Alex


"Jangan pernah ikut campur tentang urusan kami, Karna kamu hanyalah orang luar yang tidak pantas dan tidak berhak ikut berkomentar" balas Alex


Perkataan Alex membuat Devano kembali menatapnya. Kedua sudut bibirnya terangkat serta kedua ekor matanya masih menatap Alex"Siapa bilang saya tidak berhak. Apapun yang bersangkutan dengan kak Farah, Mulai hari ini akan menjadi urusan saya"


"Memangnya kamu siapa bisa mengatakan hal itu?" tanya Alex lagi


"Saya adiknya. Adik kandungnya, Devano Wardana" balas Devano yang tentu saja langsung mampu membuat Alex merasa cukup terkejut. Pasalnya selama ini yang Alex tau adalah Farah berasal dari panti asuhan yang tidak jelas asal usulnya.


"Apa!! Jangan mengada-ngada. Omongan hoax apa ini? Saya tidak akan percaya dengan semudah itu" balas Alex lagi


"Terserah, Anda mau percaya atau tidak. Tapi yang pasti, Mulai hari ini, Apapun yang berhubungan dengan kak Dania, Akan menjadi urusan saya!"


"Dan saya tidak akan pernah membiarkan kak Dania tetap bersama dengan pria brengsek sepertimu" kata Devan dengan penuh penekanan.


Setelah itu, Devano menoleh pada salah satu anak buahnya"Bawa kak Dania ke dalam mobil. Dan kalian pastikan, Jangan sampai pria brengsek ini menyentuhnya. Paham!" ujar Devano pada mereka.


"Siap, Tuan muda."


Mereka langsung membawa Farah masuk ke dalam mobil itu, Sejenak Farah masih menatap pada Alex dengan tatapan sayu nya. Tak bisa di pungkiri jika dirinya merindukan sosok itu. Sosok yang sudah ringan tangan dan tidak memperlakukannya layaknya seorang istri.


"Aku merindukanmu, Mas. Aku sangat merindukanmu. Biarpun kamu selalu memperlakukan aku kasar, Entah kenapa perasaan ini masih sebesar itu. Kamu masih menjadi pemiliknya. Setelah lima tahun kebersamaan kita, Ternyata rasa cintaku sudah sedalam itu" batin Farah sambil menatap Alex sekilas.


Alex yang melihat kedua bola mata Farah membuatnya merasa sangat bersalah"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku. Aku menyesal sudah memperlakukan kamu kasar selama ini. Kasih aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku janji, Akan memperlakukan kamu seperti semestinya. Aku mohon" ucap Alex sambil menggenggam tangan Farah.

__ADS_1


"Lupakan aku, Mas. Semua tentang kita sudah berlalu. Bukan kah ini yang selama ini kamu harapkan. Silahkan kembali pada kekasihmu yang paling kamu cintai itu. Sampai ketemu di pengadilan" balas Farah sambil menarik tangannya dari genggaman Alex. Kedua matanya terasa sangat panas. Serta dadanya terasa begitu sesak. Namun sebisa mungkin Farah tidak menumpahkan air mata itu di depan Alex.


Farah mengambil nafas dalam untuk mengurangi rasa sesaknya. Setelah itu berlalu dari hadapan Alex dan mengekor di belakang beberapa anak buah Devano. meninggalkan Alex yang sudah terdiam memaku di tempatnya.


Setelah mendengar kata pengadilan, Entah kenapa hatinya terasa sakit, Ada rasa tidak rela saat mendengar kata itu. Apa sebenarnya selama ini Alex sudah mencintai Farah? Entahlah. Tapi yang pasti, Tiba-tiba saja Alex merasa sangat takut akan kata kehilangan. Hatinya berdenyut nyeri mendengar apa yang baru saja Farah katakan.


"Kenapa rasanya begitu sakit saat mendengar kata pengadilan itu, Farah. Apa sebenarnya aku sudah mencintaimu? Kenapa rasanya aku tidak ingin kehilanganmu. Kamu yang selama ini selalu sabar menghadapi aku yang selalu cuek, Tak perduli dan bahkan tempramental. Bahkan kamu selalu memperlakukan aku layaknya raja. Sekarang aku baru sadar, Arti dari nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Apa semuanya sudah tidak bisa aku perbaiki lagi? Apa aku benar-benar akan kehilangan mu" batin Alex sambil menatap punggung Farah yang sudah masuk ke dalam mobil Devano.


Setelah sampai di dalam mobil, Tangis Farah benar-benar pecah. Dadanya sudah tidak kuat lagi untuk menahan agar air mata itu tidak tumpah. Ingin pura-pura kuat, Tapi nyatanya dia memang masih serapuh itu.


"Apa aku salah jika menangis karna pria itu? Apa aku salah jika masih menyimpan perasaan padanya. Perasaan yang nyatanya masih sedalam ini" ucap Farah yang terdengar sangat lirih.


"Menangislah, Nona. Saya tau apa yang anda rasakan saat ini. Karna memang terkadang kita perlu untuk mengeluarkan air mata. Buat sekedar menenangkan serta menghilangkan rasa sesak yang memang sesakit itu" ucap salah satu orang di sana.


Farah terdiam, Tidak membalas apapun dari kalimat itu. Karna nyatanya memang benar, Kita perlu menangis untuk mengurangi rasa sesak yang memang sesakit itu.


Setelah melihat Farah masuk ke dalam mobil itu, Alex membalikkan tubuhnya. Masuk ke dalam mobilnya dan langsung melesatkan cepat mobil itu. Meninggalkan anak buahnya yang masih terdiam mematung di sana. Masih tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi pada tuan muda mereka.


Sedangkan Devano. Pria itu menghampiri Nathan dan langsung melayangkan pukulan padanya.


Bugggg


"Brengsek! Berani-beraninya lho bermain-main dengan keluarga gue. Brengsek lho, Nathan" satu pukulan mendarat sempurna pada pipi Nathan. Dan membuat Nathan meringis kesakitan.


Devano mengangkat sebelah alisnya" Lho masih tanya kenapa? Masih belum sadar dengan apa yang sudah lho lakukan, Brengsek"


Buggg


Bugggg


Buggg


"Stop...Stop. Lho harus dengarkan penjelasan gue dulu" pekik Nathan pada Devano


"Tidak ada yang yang perlu di jelaskan. Semua sudah jelas bukan. Lho ngelakuin semua ini untuk memisahkan gue sama Nadira kan?" kata Devano sambil terus melayangkan pukulan itu pada Devano.


"Salah. Kalau lho mikir gue dan papa melakukan hal itu karna Nadira, Lo salah besar Devano. Karna ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nadira"


"Tidak perlu berbohong"


"Gue sama sekali tidak berbohong. Asal lho tau Dev, Gue melakukan semua itu demi Mama"

__ADS_1


Mendengar kata mama membuat Devano melepaskan Nathan"Apa maksud lho?" tanya Devano pada Nathan sambil menatap tajam Nathan.


"Iya, Gue melakukan semua itu demi mama. Asal lho tau, Selama satu tahun lebih, Gue dan papa menjadi kambing hitam seseorang" terang Nathan pada Devano


"Bicara yang jelas. Jangan terbelit-belit"


"Selama satu tahun, Gue dan papa sudah menjadi robot dari seseorang yang ingin menghancurkan keluargamu. Mama gue, Ada dalam genggamannya. Hingga mau gak mau, Kita berdua selalu melakukan apapun yang dia perintahkan. Termasuk merusak bangunan panthouse dan menjadikan kakak lho alat buat membuat keluarga kalian hancur. Tapi yang ada, Gue yang harus kehilangan segalanya dalam sekejap"


"Apa maksudmu, Seseorang? Siapa yang ingin menghancurkan keluargamu kalau bukan kalian berdua" tanya Devano yang terlihat penasaran.


"Adam" jawab Antonio yang sejak tadi hanya menyimak


"Adam? Maksud nya Adam Roberto?" tanya Devano lagi


"Ya. Dialah orang yang sesungguhnya ingin melihat keluarga kalian hancur. Di sini keluarga gue hanya korban. Sekarang gue tidak tau lagi bagaimana caranya menyelamatkan mama" kata Nathan yang terdengar sangat lirih


"Tapi untuk apa om Adam melakukan semua itu?"


"Karna putrinya" balas Nathan


Devano mengerutkan kecil keningnya"Maksudnya. Karna Risa? Memangnya apa hubungannya dengan keluarga gue?" tanya Devano lagi


"Karna Risa menjadi wanita menyedihkan setelah mengetahui jika cintanya tidak terbalas olehmu, Devano"


"Apa!! jadi semua ini hanya karna cinta?"


"Ya, Dan karna hal itu, Keluarga gue yang menjadi korban. Entah bagaimana nasib mama saat ini" lirih Nathan


"Lho tenang saja. Gue yang akan menolongnya. Tapi gue minta lho ngelakuin satu hal"


"Satu hal apa?"


"Tetap berpura-pura lah menjadi orang yang bisa om Adam kendalikan"


Setelah mengatakan hal itu, Devano membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Nathan. Namun langkahnya terhenti saat suara Antonio kembali menerpa indra pendengarannya.


"Bantu saya untuk memulihkan perusahaan JM kembali"


"Saya tidak janji, Tapi akan saya usahakan" balas Devano dan benar-benar berlalu dari sana.


Setelah sampai di dalam mobilnya, Kedua tangan Devano mengepal kuat, Matanya terlihat merah. Tak pernah menyangka jika semua ini adalah ulah dari om nya sendiri.

__ADS_1


"Om Adammm. Awas saja kamu, Akan aku pastikan kamu menyesal sudah melakukan semua ini pada keluargaku" ucap Devano sambil memukul stir mobilnya.


__ADS_2