
"Apa-apaan ini, Sayang. Aku tidak mau menggunakannya" kata Devano pada Nadira.
"Jangan banyak bicara, Apa Oppa mau wajahnya keriput karna banyak bicara. Diamlah, Hanya sebentar kok. 15 menit" balas Nadira pelan. Hingga mau tidak mau Devano menurut. Pria itu benar-benar Diam sambil memakan satu persatu timunnya.
"Ada-ada saya. Timun itu enaknya dimakan, Kenapa malah di jadikan kecamatan begini" batin Devano sambil memakan semua timunnya.
Setelah itu, Devano membalikkan tubuhnya menoleh pada Nadira yang terlihat sangat anteng. "Awas saja kamu, Sayang. Kamu sudah berani mengerjai ku, Kita lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini terhadapmu" Satu akal bulus terlintas. Devano memutuskan untuk membalas perbuatan Nadira nanti.
Tanpa terasa 15 menit sudah berlalu dengan begitu cepat, Setelah Nadira membuka masker di wajahnya, Devano langsung menatap Nadira dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kenapa kamu liatin aku seperti itu, Oppa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Nadira. Wanita itu bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju meja rias. Nadira memperhatikan wajahnya sendiri yang sama sekali tida ada yang aneh.
"Tidak ada apa-apa. Lalu kenapa pria itu menatapku seperti tadi.Benar-benar pria aneh" kata Nadira pelan sambil terus menatap wajahnya sendiri.
Setelah itu, Devano yang sejak tadi terdiam di tempat tidurnya seketika langsung bangun. Pria itu mendekat pada Nadira lalu memeluknya dari belakang"Sayang" bisiknya tepat di telinga kanan Nadira.
Mendapat pelukan secara tiba-tiba dari belakang seperti itu membuat Nadira menaruh rasa curiga. "Ada apa? Oppa?" tanya Nadira sambil menatap Devano dari cermin yang ada di depan mereka.
Devano tak menjawab, Pria itu hanya menarik Nadira lalu menggendong tubuh mungilnya. Membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi"Apa yang mau kamu lakukan, Oppa" Tanya Nadira saat melihat Devano langsung mengunci pintu kamar mandi.
"Aku ingin kita mandi bersama, Karna tadi kamu sudah berani mengerjai ku, Maka kamu harus menerima konsekuensinya, Sayang. Ini adalah hukuman karna sudah dengan berani mengerjai suaminya sendiri"
"Dasar mesum! Suka mencari kesempatan dalam kesempitan" umpat Nadira saat Devano sudah melepaskan semua pakaiannya.
"Bukankah itu yang di harapkan, Sayang" Devano mengedipkan sebelah matanya.
*
__ADS_1
*
*
Tanpa terasa, Hari sudah berganti hari. Pagi ini semua keluarga Wardana dan juga Sky sudah bersiap untuk berangkat ke jogja. Kali ini mereka sudah mewanti-wanti untuk memperketat penjagaan saat acara resepsi berlangsung, Pasalnya, Kejadian yang menimpa Nadira kemarin sudah membuat mereka tau siapa dalang dari semuanya.
Siapa lagi kalau bukan Adam. Setelah mengetahui siapa yang sudah menjebak Nadira, Sky mengerahkan beberapa anak buahnya untuk melacak keberadaan Adam di paris. Pria paruh baya itu benar-benar ingin melakukan apa yang sudah dia katakan kemarin. Siapapun pelakunya, Dia akan memberikan ganjaran yang setimpal karna sudah sangat berani menjebak putri kesayangannya.
"Ingat, Kalian jangan sampai lengah dalam menjaga putri saya. Saya tidak mau kejadian hari itu terulang kembali" kata Sky pada beberapa anak buahnya yang sengaja dia bawa untuk menjaga Nadira selama di jogja.
"Siap, Tuan. Kami akan memastikan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa nona" balas salah satu dari mereka.
"Good, Kalian boleh pergi sekarang. Pantau mobil Devano dan Nadira. Pastikan tidak ada siapapun yang mengikuti mereka" Kali ini Sky benar-benar memperketat penjagaan terhadap Nadira. Karna dia tidak mau mengambil resiko. Sky masih takut jika anak buah Adam akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Nadira.
"Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu" Sebagai dari anak buah yang Sku bawa langsung masuk ke dalam mobil Alphard warna hitam itu. Mereka langsung melajukan mobil itu keluar dari kediaman Sky. Sedangkan beberapa sisanya memang akan berangkat bersama dengan Sky dengan menggunakan satu mobil yang sama.
Di Dalam, Ternyata sudah ada Cristy yang terlihat siap dengan pakaiannya. Wanita itu masih memainkan ponselnya.
"Mama sudah siap?" tanya Sky pada Cristy
Mendengar suara suaminya, Cristy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat wajahnya serta menoleh pada Sky yang sudah duduk di sampingnya.
"Sudah, Pa. Ini Lina katanya juga sudah siap. Dia meminta kita untuk menunggu di Spbu" balas Cristy sambil menoleh pada Sky.
"Yasudah. Kalau begitu apa kita berangkat sekarang, Ma?" tanya Sky pada Cristy.
"Boleh, Pa. Nanti sekalian mama mau berhenti di mini market. Mau membeli beberapa keperluan mama"
__ADS_1
*
*
*
"Sayang, Ayo buruan. Ini mommy dari tadi sudah telfon terus" kata Devano pada Nadira yang masih terlihat santai di depan meja riasnya. .
"Berisik amat sih, Oppa. Aku kesiangan begini kan juga karna ulah Oppa semalam. Coba saja Oppa membiarkan aku tidur tenang, Pasti tadi pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan sekarang mungkin aku sudah siap berangkat" balas Nadira sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Devano tak lagi menjawab, Karna apapun yang akan dia katakan, Ujung-ujungnya Nadira pasti akan tetap menyalahkannya seperti biasa. Pada dasarnya wanita memang selalu menang.
Pria itu mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil hairdryer di sana. Mendekat pada Nadira dan membantu mengeringkan rambut Nadira menggunakan alat itu.
"Kenapa gak dari tadi sih, Oppa. Kenapa baru sekarang bantuin keringin rambutku" kata Nadira sambil melirik pada Devano.
Mendengar itu membuat Devano kembali mengambil nafas dalam"Astaga, Selalu saja salah, Sayang" balas Devano sembari terus mengeringkan rambut Nadira dengan sangat telaten.
"Kan memang iya, Kenapa tidak dari tadi Oppa bantuin keringin rambutku dengan menggunakan alat ini. Sejak tadi Oppa kan hanya sibuk mondar mandir sambil mendesak aku agar segera bersiap. Kalau dari tadi bantuin aku pasti aku sudah selesai sekarang"
"Iya dah, Sayang. Di sini memang aku yang salah" Devano menatap wajah Nadira dari cermin yang ada di depannya.
"Ya iyalah, Dimana-mana itu cowok yang salah. Karna-" Perkataan Nadira terpotong saat Devano menimpali perkataannya."Karan kodratnya wanita selalu benar. Begitu kan!" balas Devano yang langsung mampu membuat Nadira mengangkat kedua sudut bibirnya.
"It's True, Oppa. Karna pada dasarnya wanita memang selalu ingin menang" balas Nadira sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya. Nadira melirik Devano dari cermin, Wajahnya benar-benar terlihat sangat menyedihkan.
"Egois" kata Devano lagi"Bodoamat. Karna memang seharusnya, Laki-laki mengalah pada wanita dan membiarkan wanita menang. Sudah ayo berangkat, Aku sudah siap"
__ADS_1