
"Devano" Suara itu menghentikan langkahnya dan membuat Devano menoleh ke arah sumber suara. Mencari sosok yang tadi sudah memanggil namanya.
"Kak Zein" ucap Devano sambil menatap Zein yang sedang berjalan ke arahnya.
Zein tersenyum ramah"Welcome. Akhirnya kamu sampai di sini" ucap Zein sambil menepuk pundak Devano pelan.
"Kak Zein ada di sini juga? Aku kebetulan baru saja sampai, Aku memutuskan untuk menginap di sini karna memang tempat ini yang memang jaraknya paling dekat dengan bandara" balas Devano pelan.
"Kebetulan ini adalah hotel milikku. Ikutlah bersamaku, Kamu bisa istirahat di kamar VVIP yang ada di lantai 3"
"Baiklah" balas Devano sembari mengikuti langkah Zein dan mengekor di belakangnya.
Saat sudah di dalam kamar VVIP yang ada di lantai atas, Zein langsung berlalu dari sana setelah memastikan Devano masuk ke dalam makar itu.
"*Nadira awas" ucap seorang pria saat melihat Nadira hendak di tabrak mobil.
Pria itu mendorong tubuh Nadira dan membiarkan tubuhnya sendiri yang tertabrak oleh mobil itu.
Braaaakkkkkk
Suaranya terdengar sangat lantang di jalan raya yang cukup sepi. Nadira membalikkan tubuhnya menatap sosok yang sudah terbarik penuh darah di tempat yang tak jauh dari posisinya.
"Pak Devano" teriak Nadira panik sembari berlari ke arah Devano yang sudah terlihat sangat lemah. Wanita itu membawa kepala Devano pada pangkuannya.
"Kenapa bapak menolong saya? Kenapa bapak tidak membiarkan saya yang tertabrak mobil itu?" tanya Nadira sambil menggenggam tangan Devano cukup erat.
"Karna saya mencintai kamu, Nadira. Saya rela berkorban apa saja asal kamu tetap baik-baik saja"
"I Love You, Nadira"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Tangan Devano yang ada di dalam genggaman Nadira meluruh. Nadira tak lagi bisa merasakan detak jantung serta nadi Devano sudah berhenti.
"Tidak, Jangan bercanda, Pak. Jangan bercanda! Ini tidak lucu" gumam Nadira sambil menepuk pelan kedua pipi Devano. Namun pria itu tetap tak memberikan reaksi apapun.
Tanpa sadar, Air mata Nadira meluruh, Dadanya terasa sangat sesak saat melihat kondisi Devano seperti itu.
"JANGAN PERGI!!" ujar Nadira serta langsung terbangun dari tidurnya.
Ternyata apa yang tadi terjadi hanyalah sebuah mimpi, Mimpi yang terasa begitu nyata. Nadira menyibak rambutnya yang sudah basah oleh keringat, Mengusap kedua matanya yang cukup terasa basah.
"Kenapa aku mimpi begitu? Apa arti dari mimpi tadi" kata Nadira sambil mengambil segelas air putih dari atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
Nadira meneguk habis air putih itu, Bayangan mimpi yang tadi dia alami masih bisa terekam jelas. Hal itu tentu saja membuat Nadira teringat akan Devano. Namun sedetik kemudian, Wanita itu menggelengkan cepat kepalanya saat ketika teringat akan panggilan Devano yang selalu terdengar menyebalkan.
"Amit-amit aku cinta sama pria menyebalkan itu. Tidak akan pernah, Itu mimpi pasti karna semalam aku habis membalas DM yang pak Devano kirim. Tapi kenapa ya, Kok bisa aku ngimpi si pria menyebalkan mengatakan cinta" ucap Nadira pelan.
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Pagi ini Nadira bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan seperti biasa. Karna memang semenjak Nadira ikut ke sini, Dia lebih sering membuat sarapan untuk kedua orang tuanya juga kedua orang tua Devano yang memang juga ikut tinggal di sana.
Beberapa menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan, Menu makanan khas indonesia yang menjadi pilihan Nadira pagi ini.
"Dari wanginya saja sudah terlihat kalau makanan kamu ini enak sekali, Nadira" puji Lina sambil menepuk pelan pundak Nadira.
"Tante bisa saja, Ayo silahkan tante. Semoga tante sama om suka sama masakan Nadira yang tidak seberapa ini ya" balasnya sambil duduk di salah satu kursi di sana.
"Benar-benar istri idaman kamu ya, Udah cantik, Pinter, Pinter masak pula. Nilainya plus plus" lanjut Lina lagi sambil mengambilkan nasi untuk Wardana suaminya.
"Tante bisa saja"
Mendengar pujian dari Lina membuat Cristy mengangkat kedua sudut bibirnya, Memang sejak kecil Nadira sangat suka membantu nya di dapur. Hingga memasak menjadi salah satu hobi Nadira sejak usianya 10 tahun.
__ADS_1
"Nadira memang sangat suka memasak. Bahkan waktu kecil dia pernah punya cita-cita untuk menjadi seorang chef terkenal. Tapi entah kenapa saat sudah dewasa cita-citanya berubah menjadi seorang Arsitek" terang cristy pada Lina.
"Oh ya, Pantas saja jika Nadira memiliki rasa makanan yang menurutku sangat khas. Bahkan aku tidak menemukan ciri khas yang sama dengan siapapun"
"Masakan ini benar-benar nikmat" lanjut Lina lagi sambil terus menatap Nadira dan menikmati makanannya.
Sedikit demi sedikit. Mama Lina menceritakan tentang Nadira pada kedua paruh baya yang ada di hadapannya. Melihat senyum Nadira, Membuat ada satu hal yang langsung terbesit begitu saja dalam benak Lina. Wanita paruh baya itu langsung teringat akan berita viral tentang Devano dan juga Ratna.
"Apa sebaiknya aku menjodohkan Nadira dengan Devano, Bukan kah dulu saat masih kecil Devano pernah mengatakan jika saat sudah dewasa nanti dia ingin menjadikan Nadira sebagai istrinya" Batin Lina sambil terus menatap Nadira dengan kedua sudut bibir yang terangkat sempurna.
Hal itu membuat bayangan Lina kembali pada kejadian 10 tahun yang lalu, Tepatnya saat Nadira masih berumur 9 tahun sedangkan Devano berusia 15 tahun.
Lina berjalan mendekat pada Devano yang sedang berdiri di ambang pintu, Tatapannya fokus pada seorang gadis kecil yang sedang sibuk bermain boneka seorang diri di sana.
Melihat itu membuat Lina menepuk pelan pundak Devano. Lina ikut menoleh ke arah Nadira di sana.
"Kenapa kamu menatap Nadira seperti itu. Dev?" tanya Lina saat menemukan Devano yang tengah menatap Nadira yang sedang bermain boneka di halaman belakang rumahnya.
Mendengar suar sang mommy membuat Devano melepaskan tatapannya" Mommy, Sejak kapan mommy di sini?" tanya Devano pada sang Mommy.
"Sejak kamu memperhatikan Nadira. Ada apa? Kenapa kamu liatin Nadira begit" tanya Lina sambil ikut menoleh ke arah Nadira. .
"Dia cantik ya, Mom. Bolehkan jika saat sudah dewasa nanti aku menikahinya?" tanya Devano pada sang mommy.
"Kenapa tidak" balas Lina sambil mengusap punggung Devano.
10 tahun yang lalu, Keluarga Wardana memang akan selalu datang ke kediaman Sky setiap akhir Weekend. Mereka adalah sahabat dekat yang selalu saling menjaga silaturahmi.
"Semoga saja apa yang dulu Devano katakan bisa terlaksana" batin Lina sambil terus menatap Nadira.
__ADS_1