
Setelah memutuskan panggilan dengan om Firman. Devano masih setia menatap layar ponselnya. Pria itu membuka aplikasi ig dan berharap ada balasan DM dari Nadira di sana, Namun ternyata masih belum ada apa-apa.
Hingga tak berselang lama, Ada sebuah notif masuk pada ponselnya. Devano membelalakkan kedua matanya saat melihat notif DM yang ternyata dari akun Nadira_puspita. Melihat itu membuat Devano terdiam beberapa saat"Apa aku salah lihat" gumamnya sambil terus menatap layar ponsel itu.
Ada rasa bahagia saat melihat akun siapa yang baru saja mengirim pesan padanya"Ternyata ini memang benar-benar akun Nadira. Dia membalas pesanku" Kedua sudut bibirnya mendadak terangkat setelah beberapa hari terasa sangat kaku.
[ Yang lalu biarlah berlalu. Saya sudah memaafkan pak Devano yang sangat menyebalkan ]
Bibir itu seakan tak bisa berhenti untuk terus menampakkan senyumannya. Bahkan, Deretan gigi putihnya terpampang nyata setelah semakin lama bibirnya semakin terangkat lebar.
"Astaga, Mimpi apa aku semalam. Nadira membalas pesanku" gumamnya lagi.
Ceklek
Suara pintu membuat Devano membalikkan tubuhnya. Menatap pada sosok yang baru saja masuk serta berjalan pelan ke arahnya"Kenapa kamu, Dev. Kok kelihatannya sangat senang sekali? Ada apa? Habis menang tender besar?" tanya Dion saat sudah tiba di samping Devano.
"Ini lebih dari sekedar menang tender. Ini lebih dari apapun"
Perkataan Devano membuat Dion mengerutkan kecil keningnya. Lebih dari sekedar menang tender? Pikirnya dan terus bertanya-tanya dalam batin.
"Maksudnya bagaimana? Lebih dari sekedar menang tender? Memangnya apa?" Dion yang mulai kepo dengan raut wajah Devano tentu langsung menanyakan hal yang terbesit dalam benaknya.
"Don't kepo" balas Devano sambil memicingkan kedua matanya serta menatap Dion yang sejak tadi masih terus menatapnya.
"Heleh, Sok main rahasia-rahasiaan. Baiklah, Kalau kamu tidak mau mengatakan hal apa yang membuatmu bahagia, Maka jangan salahkan aku jika aku juga tidak akan pernah mengatakan padamu tentang apa yang aku ketahui soal Nadira" Dion membalikkan tubuhnya dan pura-pura hendak berlalu dari sana. Karna Dion tau Devano akan berubah pikiran setelah mendengar kata Nadira.
"Kita lihat saja, Dev. Apakah kamu akan tetap merahasiakan hal itu setelah mendengar perkataan ku" gumamnya dalam batin. Namun apa yang di pikirkan Dion benar, Langkahnya seketika terhenti saat suara Devano kembali menerpa indra pendengarannya.
__ADS_1
"Wait. Okee, Aku akan mengatakan kenapa aku bahagia. Asal setelah itu kamu juga katakan apa saja yang kamu ketahui tentang Nadira" seru Devano yang langsung menghentikan langkah kakinya.
Dion mengulum bibirnya"Dugaanku pasti tidak akan pernah salah. Kamu sudah mulai menyukai wanita itu, Dev" Batin Dion lagi sambil membalikkan tubuhnya.
"Tergantung" jawabnya sambil menoleh pada Devano.
"Tergantung, Apa maksudmu? Apanya yang tergantung?" tanya Devano yang merasa tidak paham dengan perkataan Dion.
"Aku akan menceritakan segalanya yang aku ketahui asal kamu mau jujur soal satu hal"
"Soal apa memangnya?" tanya Devano lagi.
"Kamu menyukai wanita itu kan?"
"Wanita itu siapa? Devano membalas tatapan Dion "Ya siapa lagi. Tentu saja wanita yang tadi kita bicarakan" balas Dion pelan.
"Yups. Kamu menyukai wanita itu kan?" Dion mengulang pertanyaannya kembali sambil terus menatap Devano.
"Aku suka sama wanita menyebalkan itu? Ogah banget, Jangan ngaco kalo ngomong" balas Devano sambil menatap ke lain arah. Karna memang Devano sendiri belum menyadari jika dirinya sudah mulai ada rasa akan mantan asistennya yang sering dia panggil dengan sebutan anak kecil.
"Yakin?" tanya Dion lagi"Hmmm yakinlah, Mana ada aku menyukai wanita menyebalkan sepertinya"Mendengar jawaban Devano membuat Dion membalikkan tubuhnya"Kalau begitu, Itu artinya kamu tidak perlu tau apa yang aku tau tentang Nadira saat ini" kata Dion sembari melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Tentu saja Devano merasa sangat penasaran dengan apa yang Dion ketahui tentang Nadira, Namun rasa egoisnya membuat dirinya sendiri tidak menyadari rasa yang sudah tumbuh sejak lama.
"Dasar orang aneh. Ada-ada saja mengatakan aku menyukai wanita ngeselin begitu. Anak kecil pula" ucapnya sambil menatap punggung Dion yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
Setelah cukup lama terdiam di atas balkon, Devano masuk ke dalam kamarnya saat merasakan hawa dingin sudah mulai dia rasakan. Angin sepoy serta gerimis datang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Lah. Kok malah hujan" gumamnya sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya.
Saat sudah sampai di dalam kamar, Devano merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya, Tepat saat Devano hendak memejamkan kedua matanya, Tiba-tiba saja perkataan Dion kembali terngiang.
Kamu menyukai wanita itu kan?
Suara itu tiba-tiba saja terngiang dan berhasil mengganggu pikiran Devano"Ada-ada saja di Dion. Mana mungkin aku menyukai wanita yang masih kekanak-kanakan begitu. Menyebalkan lagi" ucapnya pelan.
Hal itu membuat Devano terjaga hingga jam menunjukkan pukul 02:00 dini hari. "Aaaaarkkggg. Kenapa aku malah tidak bisa tidur karna memikirkan perkataan Dion. Apa iya aku jatuh cinta sama Nadira? Tapi tidak mungkin. Jangan sampai aku jatuh cinta pada wanita yang super ngeselin itu" Devano menendang gulingnya dan bangun dari tidurnya.
Sedetik kemudian, Devano baru menyadari satu hal"Apa mungkin yang di katakan Dion itu benar, Aku menyukai Nadira. Kenapa saat tadi aku mendapat balasan dari Nadira rasanya bahagia sekali. Aku merasakan kebahagiaan seperti dulu saat aku mendapat balasan pesan dari Ratna. Tapi apa mungkin ini cinta, Atau hanya sekedar suka. Atau kemungkinan besar karna aku merindukan wanita itu" Devano mulai menerka-nerka perasannya sendiri.
Bayangan Nadira kembali melintas"Kenapa bayanganmu sering datang menghantuiku Nadira! Apa kamu sudah meninggalkan hati sebelum kamu pergi" Devano terus saja berusaha memejamkan kedua katanya. Namun mata itu masih saja terus terjaga hingga pagi datang.
Kringggg.....Kringggg...
Mendengar suara alarm membuat Devano mengerutkan keningnya"Aisss. Kenapa sudah pagi saja, Padahal aku sama sekali belum memejamkan kedua mataku" ucapnya sambil mengacak rambutnya sendiri.
Sepanjang malam, Devano memang tidak bisa tertidur karna sibuk memikirkan perkataan Dion. Menerka-nerka perasaannya yang dia sendiri tidak tau pasti bagaimana.
Kruuuukkk....Kruuuuukkkk
Devano mengusap perutnya yang sudah mulai terasa lapar. "Ahhh. Lebih baik aku turun, Rasanya kenapa lapar sekali" ucapnya dan langsung bergegas bangun dari tempat duduknya. Berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Bau masakan ini, Kenapa sangat mirip dengan bau masakan yang pernah Nadira buatkan untukku" ucapnya setelah keluar dari dalam kamarnya.
Setiap Devano lembur dan menginap di kantor, Nadira memang akan selalu membuatkan spaghetti untuk Devano. Karna memang yang Nadira tau Devano sangat menyukai makanan itu.
__ADS_1
Saat sudah tiba di dapur, Devano menghentikan langkahnya saat melihat ada sosok wanita yang sedang sibuk di dapur rumahnya. Siapa wanita itu? pikirnya