Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Ronde Selanjutnya


__ADS_3

Pagi ini, Aku terbangun dengan badan yang terasa cukup lelah. Mungkin karna apa yang suda aku lakukan dengan pak Devano malam tadi. Kedua mataku terbuka saat secercah cahaya mukai mengusik tidurku. Sejenak aku terdiam, Masih mengerjabkan kedua mataku untuk beberapa saat. Setelah kesadaran ku terkumpul sempurna, Aku bangun dari tidurku. Duduk di atas ranjang sambil memperhatikan sekitarnya.


"Dimana pak Devan" ucapku saat tidak mendapati keberadaannya di dalam kamar itu. Aku mengambil ponselku, Saat melihat jam yang ada di layar ponselku, Ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi. Astaga, Kenapa aku baru bangun jam segini. Mungkin karna aku terlalu lelah semalam.


Aku meletakkan kembali ponsel itu, Merenggangkan otot tangan juga kakiku. Tiba-tiba saja aku merasakan sedikit nyeri di bagian inti tubuhku. Membuatku enggan untuk beranjak dari sana. Hingga tak lama kemudian, Aku mendengar suara langkah kaki dan pintu kamar terbuka.


Di sana, Aku langsung bisa melihat sosok pria tampan dengan kedua sudut bibir terangkat. Menampakkan deretan gigi putihnya. Memperlihatkan senyuman termanis yang memang akhir-akhir ini sering aku lihat.


Senyuman itu membuat perasaanku terasa damai. Sepertinya senyuman itu akan menjadi senyuman yang akan membuatku candu. Candu yang amat memabukkan.


Dia masuk dengan membawa nampan di tangannya. Entah apa yang dia bawa di sana, Tapi aku bisa mencium aroma masakan yang sangat enak. Apa mungkin sejak tadi dia sibuk masak di dapur? Entahlah, Tapi yang pasti, Saat ini dia berjalan ke arahku dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


Astaga, Kenapa sosok itu terlihat sangat sempurna. Senyuman nya mampu membuat hatiku terasa damai.


Dia adalah suamiku. Orang yang akan aku lihat sebelum aku memejamkan kedua mataku, Dan orang yang akan aku lihat setiap pagi saat aku terbangun dari tidurku.


Devano Wardana, Sosok laki-laki yang selama ini sering membuatku kesal, Sering membuatku kesusahan. Sosok Ceo yang sering menguji kesabaranku. Hingga tanpa aku sadari, Ternyata sosok itu sudah berhasil mengambil hatiku yang entah sejak kapan. Tapi yang pasti, Sosok itu benar-benar membuat aku merasakan kembali getaran yang sudah lama tidak aku rasakan.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" ucapnya yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaranku.


"Kenapa kamu tidak membangunkan ku, Oppa?" protes ku sambil mengerucutkan bibirku


"Maaf ya, Sayang. Aku memang sengaja tidak membangunkan mu. Karna aku lihat kamu masih sangat lelap. Aku gak tega" balasnya pelan.


Sosok ini, Kenapa menjadi selembut ini? Padahal yang aku tau, Dia adalah sosok menyebalkan dan selalu ingin menyusahkan ku. Tapi kenapa, Setelah pernikahan itu, Semuanya tiba-tiba saja berubah. Aku bisa merasakan kasih sayangnya yang begitu besar untukku. Aku merasakan cintanya yang tulus. Apa memang selama ini diam-diam dia mencintaiku? Entahlah. Tapi yang pasti, Jika di tanya bahagia, Jawabannya sudah tentu iya.


Rasanya sangat bahagia ketika mendengar kalimat sakral itu dia ucapkan. Dan malam tadi, Aku benar-benar menjadi istrinya yang sesungguhnya.


Dia memberikan aku sepiring sushi dan juga steak yang dia buat sendiri. Dan rasanya memang seenak itu. Benar-benar enak.


Tepat setelah aku selesai menghabiskan semua makanan itu, Tiba-tiba saja terdengar suara bell apartemen. Mendengar itu membuat pak Devano eh, Oppa. Keluar dari dalam kamar kami. Kamar yang sudah menjadi saksi malam pertama kami semalam. Hehe.


Di saat Oppa masih keluar, Tanpa sengaja aku menunduk dan menemukan bercak darah di sana. Melihat itu membuatku merasa terkejut bukan main. Darah apa ini? Pikirku. Pasalnya aku tidak sedang datang bulan. Hal itu membuatku berteriak.


"Aaaaaaa" ucapku yang berhasil membuat Oppa Dev berlari cepat ke arahku. Sangat terlihat jelas jika dia benar-benar panik.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang. Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya nya sambil menatapku dengan raut wajah paniknya.


Aku masih terdiam"Sayang, Ada apa?" ulangnya lagi


"Ini darah apa, Oppa. Kenapa bisa ada darah di sini?" ucapku sambil menunjukkan bercak darah di sana.


Aku lihat dia mengambil nafas dalam sambil mengulum bibirnya. Dia duduk lalu membawaku dalam dekapannya. "Sayang, Apa kamu lupa, Itu kan darah semalam" ucapnya sambil membelai lembut rambutku


Mendengar hal itu membuat wajahku seketika menjadi panas. Kenapa aku bisa lupa jika itu adalah bercak darah keperawanan ku. Astaga benar-benar memalukan.


"Sekarang kamu mandi ya, Sayang. Biar nanti sprei nya aku bawa ke Laundry" ucapnya sambil menatapku


Mendengar kata laundry membuatku menggeleng cepat"Jangan" balasku cepat. Masa iya seprei yang ada bercak darah mau dia bawa ke laundry. Kan malu.


"Memangnya kenapa? Dia masih bertanya memangnya kenapa, Astaga. Masa iya dia sendiri tidak malu akan hal itu"Ya malu, Lah oppa. Masa iya orang lain yang akan mencuci bekas kita" ucapku lag


"Ya sudah, Biar nanti aku sendiri yang mencucinya. Sekarang kamu mandi ya"


Aku masih diam di sana. Masih membayangkan bagaimana jika sakit saat aku jalan ke kamar mandi.


Dia yang paham seketika langsung menggendong tubuhku masuk ke dalam kamar mandi. Saat tidur aku memang hanya menggunakan tank top dan juga hotpant. Pak Dev menurunkan tubuhku dan mendudukkan ku di atas closet.


Dia tak menjawab. Pak Dev hanya semakin mendekat dan langsung mencium bibirku seperti semalam. Astaga, Apa kita akan mengulanginya lagi? Batinku.


"Aku takut sakit lagi, Oppa" ucapku dan berusaha menahan agar pak Dev tidak melakukannya lagi.


"Percayalah, Rasanya tidak akan sesakit malam tadi"


Dan ternyata apa yang dia katakan memang benar. Aku tidak lagi merasakan sakit seperti malam tadi. Justru malah sebaliknya. Kali ini aku ikut menikmati permainan pak Dev.


Hingga tanpa aku sadari, 2 jam berlalu. Pak Devan dengan lembutnya memandikan aku seperti semalam. Setelah kami berdua selesai mandi dan berganti pakaian. Aku kembali mendengar suara bell apartemen. Siapa kira-kira yang datang kali ini. Jika tadi adalah ojol yang mengantar obat pereda nyeri pesanan pak Devan. Lalu siapa tamu yang datang kali ini.


Karna penasaran, Akhirnya aku meminta pak Devan untuk membuka pintu. Aku Pun mengekor di belakangnya. tepat saat pintu apartemen itu terbuka, Aku bisa melihat siapa yang ada di sana.


Bella dan Dion. Ya, Tamu yang datang ternyata mereka berdua. Bella melirik ke arahku sambil mengulum bibir menahan tawa. "Kenapa juga anak ini harus datang di saat yang tidak tepat" batinku. Aku tau pasti apa yang saat ini ada dalam otak Bella.

__ADS_1


Anak itu pasti sengaja datang kesini karna ingin menggoda ku tentunya. Saat sudah tiba di dalam apartemen. Tepat seperti apa yang aku pikirkan tadi.


"Widih pengantin baru, Pagi-pagi rambut sudah basah saja. Main berapa ronde semalam?" ucap Dion sambil melirik pada Bella.


Mereka berdua sama-sama mengulum bibir. Sepertinya memang sengaja datang kesini untuk menggoda kami berdua. Aahhh. Benar-benar memalukan. Dasar pasangan mesum. Batinku.


"Iya, Nih. Ada bekas kissmark juga sayang. Hahah, Main berapa ronde kak, Nad?" timpal Bella yang terdengar sangat menyebalkan


"Asem. Jadi kalian kesini hanya untuk mengganggu kita berdua? Lebih baik kalian pulang, Karna masih ada ronde yang mau kita selesaikan"


Mendengar perkataan pak Devano membuat wajahku terasa semakin panas karna menahan malu. "Yah di usir nih. Padahal kan kita berdua ingin menjadi saksi pembuatan produk baru yang akan launching" balas Dion dengan terkekeh.


Astaga, Mereka berdua memang benar-benar menyebalkan.


"Hmmm, Karna kalian berdua datang di saat yang tidak tepat. Bahkan kami berdua baru saja mau memulai ronde selanjutnya" kata Devano lagi


Perkataan Devano membuat kedua mata Nadira terbuka lebar. Wanita itu mencubit pinggang Devano seperti biasanya. Membuat Bella dan Dion semakin mengulum bibirnya.


"Baiklah, demi pembuatan keponakan, Kita berdua pergi dari sini. Jangan lupa tambah rondenya ya, Biar Devano junio cepat Launching"


Setelah mengatakan hal itu, Bella dan Dion keluar dari dalam Apartemen Devano. Meninggalkan Nadira yang masih merona di sana.


"Mungkin apa yang di katakan mereka berdua benar, Sayang. Kita harus melanjutkan ronde selanjutnya" ucap pak Devano yang tentu membuatku semakin membuka lebar kedua mataku. Baru juga selesai masa iya mau memulainya lagi. Yang ada aku bisa kehabisan tenaga di buatnya.


"Dasar suami mesum" ucapku sambil mengangkat sebelah sudut bibirku.


"Tapi kamu suka sama permainanku tadi kan?" balasnya sambil memainkan sebelah matanya.


Astaga, Kenapa aku baru ingat jika laki-laki ini memang sedikit mesum. "Tauk lah, Dasar mesum" balas ku sambil melangkahkan kaki ku masuk


"Kita lanjutkan ronde selanjutnya nanti malam ya, Istriku sayang. Bersiaplah" bisik nya tepat di telinga kananku. Membuat kedua mataku kembali terbuka lebar.


Jangan lupa tinggalkan jejak like sama komennya ya, Biar author abal-abal makin cemungut up. Kasih vote sama mawar juga boleh banget. Sambil nunggu up nya, Baca novel author yang lain juga yuk..


__ADS_1


**Baca itu juga yuk. Menceritakan tentang sosok Nathan dan Haruka. Mereka yang selalu melalui hari dengan pertengkaran dan berdebatan. Akan kah cinta itu hadir pada akhirnya? Simak kisahnya yuk.


Jangan lupa berikan rate bintang limanya☺️**


__ADS_2