Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Melepas Rindu


__ADS_3

"Menurut kamu, Dia mirip sama om atau tidak?"bukannya menjawab pertanyaan Nadira, Wardana malah mengajukan balik pertanyaan pada Nadira.


Mendengar pertanyaan dari Wardana membuat Nadira menatap wajah Wardana Serta Devano secara bergantian"Sedikit. Tapi menurut saya om lebih segalanya dari pada pria menyebalkan itu" balas Nadira sambil menatap malas pada sosok Devano.


Wardana mengerutkan keningnya"Pria menyebalkan? Memangnya kamu mengenalnya?" tanya Wardana yang tiba-tiba merasa penasaran saat melihat raut wajah Nadira.


"Iya, Om. Dia orangnya, Pria menyebalkan yang saya ceritakan hari itu. Dia orangnya, om. Orang menyebalkan yang sudah memecat saya di tempat umum. Benar-benar ceo tak tau di untung" terang Nadira pada Wardana yang memang terlihat kesal.


Raut wajah Nadira membuat Wardana mengulum bibir"Jadi asisten ngeselin yang Devano katakan hari itu adalah Nadira. Mereka ini kok lucu sekali, Yang satu ngeselin, Yang satu menyebalkan. Sepertinya cocok kalau Nadira aku jodohkan dengan Devano sebagai pengganti Ratna" batin Wardana sambil terus mengulum bibirnya. Merasa lucu saat teringat akan cerita Nadira dan juga Devano.


"Oalah. Jadi orangnya dia. Memangnya dia begitu menyebalkan kah?" tanya Wardana lagi.


"Bukan lagi, Om. Pria itu bukan hanya menyebalkan, Tapi dia juga biang rese yang selalu menguji kesabaran saya. Eh tapi ngomong-ngomong pak Devano siapanya om? Kenapa tante Lina langsung memeluknya begitu. Pasti pak Devano itu adalah keponakan om sama tante ya. Soalnya kalau di bilang anak sepertinya tidak mungkin"


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Wardana lagi.


"Iya, Om. Sifat serta sikapnya dia sama sekali tidak sama dengan om. Jika om dan tante nilai sifatnya positif, Beda sama dia yang minus semuanya. Udah wajahnya pas-pasan, Sombong, Ngeselin, Tak tau diri pula" ujar Nadira lagi.


Semua perkataan Nadira membuat Wardana ingin tertawa saat ini juga, Tapi tempat yang membuatnya hanya bisa mengulum bibir menahan tawa.


"Astaga, Anak ini benar-benar lucu. Rasanya perut ku sakit karna menahan tawa seperti ini" batin Wardana sambil terus menatap Nadira.


"Om, Kenapa om hanya diam saja. Kenapa om tidak menjawab pertanyaan Nadira" ucap Nadira

__ADS_1


Namun belum sempat Wardana menjawab, Devano dan Lina sudah berjalan ke sana"Oh iya iya, Maaf ya om sampai lupa. Dia itu adalah an-" perkataannya terpotong saat Devano memanggilnya.


"Daddy" panggil Devano pada Wardana. Hal itu tentu saja membuat Nadira semakin bertanya-tanya. Daddy? pikirnya.


"Dav, Kapan kamu sampai kesini? Kenapa tidak menghubungi daddy dan mommy dulu?" tanya Wardana sambil menepuk pelan pundak Devan.


"Iya, Daddy. Maafkan Devano, Sebenarnya Devano dadakan datang kesini karna mau menghadiri acara lelang ini. Hehe" Devano masih tidak menyadari keberadaan Nadira di sana. Karna sejak melihat Devano berjalan ke arahnya membuat Nadira menundukkan wajahnya cepat.


"Mommy sama Daddy. Jangan bilang kalau pak Devan adalah anak tante Lina sama om Wardana" batin Nadira sambil terus menundukkan wajahnya.


"Mampus aku, Kalau sampai itu benar, Bisa mati aku. Apalagi kalau sampai om Wardana mengatakan pada pak Devano, Bisa-bisa dia ayan atau bahkan kejang-kejang" batin Nadira sambil mengulum bibirnya karna membayangkan jika Devano kejang-kejang karna mendengar apa yang dia katakan pada Wardana.


Sedetik kemudian, Tatapan Devano beralih pada Nadira yang masih setia menundukkan wajahnya" Astaga, Ada apa dengan mataku. Kenapa bayangan Nadira bisa ikut kesini sih!" batin Devano sambil menggelengkan pelan kepalanya. Karna dia pikir keberadaan Nadira di sana hanyalah sebuah bayangannya saja.


Namun lagi-lagi Devano mengira jika dirinya hanyalah salah dengar"Astaga, Bahkan bukan hanya bayangannya. Nama nya pun selalu terngiang. Sepertinya penglihatan serta pandanganku sedang bermasalah. Aku harus datang ke dokter untuk memeriksakannya" batin Devano lagi yang masih mengira ada yang salah dari mata juga telinganya.


"Astaga, Kenapa om Wardana harus memanggil namaku. Bagaimana ini, Apa aku harus mengangkat wajahku dan menoleh pada pria menyebalkan itu" batin Nadira


Sedetik kemudian, Terdengar suara Cristy yang memang merasa penasaran dengan anak dari Lina dan juga Wardana. Anak kecil yang dulu sangat suka memperhatikan anak perempuannya.


"Oh ya Lin, Jadi ini Devano yang dulu sering memperhatikan Nadira" ucap Cristy yang berhasil membuat Nadira juga Devano saling tatap.


"Sebentar, Tadi tante menyebut nama Nadira?" tanya Devano pada Cristy

__ADS_1


Christy mengangguk pelan"Iya. Nadira, Anaknya om dan tante yang dulu sering kamu pandang setiap kali datang kerumah" terangnya.


"Jadi saya tidak lagi terngiang-ngiang nama Nadira" Devano memastikan pada Cristy


"Ya nggaklah. Ini Nadira, Anaknya tante. Kamu masih ingat kan sama dia? Sosok gadis kecil yang dulu sering mengambil perhatian kamu"


Devano tak menjawab, Pria itu hanya memicingkan kedua matanya. Menatap sosok Nadira yang saat ini berdiri tepat di depan matanya.


"Ternyata aku bukan sedang berhalusinasi ataupun telingaku bermasalah. Dia memang benar-benar Nadira. Wanita menyebalkan yang selama ini sudah mampu membuatku rindu" batin Devano sambil menatap lembut Nadira.


Baru kali ini Nadira melihat tatapan hangat dari Devano. Hingga kedua bola mata mereka bertemu. "Kenapa rasanya bahagia bisa melihat sosok menyebalkan ini lagi" batin Nadira sambil terus menatap Devano.


"Dia adalah sosok pertama yang sudah berhasil membuat perasaanku tak menentu. Kenapa rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari pada biasanya. Apa jangan-jangan yang di katakan Dion itu benar, Nadira meninggalkan hatinya sebelum pergi" Devano masih setia membatin sambil terus saling tatap.


Beberapa detik kemudian, Devano maju satu langkah dan langsung memeluk Nadira begitu erat. Nadira sendiri cukup terkejut dengan pelukan itu. "Aku sangat merindukan mu, Nadira" gumamnya sambil membelai lembut rambut panjang Nadira.


Nadira masih diam tak bergeming. Entah kenapa wanita itu merasa ada yang aneh. Jantungnya berdebar saat mendapatkan pelukan dari Devano. Ini adalah pertama kalinya Devano memeluk Nadira sambil mengatakan aku sangat merindukanmu.


Semua mata tertuju pada Nadira dan juga Devano. Bagaimana tidak, Saat ini hanya mereka berdua yang berdiri di depan sambil berpelukan. Seakan melepas rindu yang begitu dalam, Padahal hanya tidak bertemu beberapa hari saja. Namun entah kenapa mereka berdua sama-sama memendam rindu sedalam itu.


Nathan yang melihat itu menatap tajam pada Devano. Tiba-tiba saja perkataan Nadira kembali terngiang begitu saja.


Jangan pernah ganggu aku lagi, Nathan. Karna sebentar lagi aku akan segera menikah. Lupakan semua masalalu yang seharusnya tak pernah ada

__ADS_1


Kata-kata itu terngiang"Jangan bilang pria itu adalah calonnya Nadira. Tapi kalaupun iya, Aku tidak akan membiarkan pria itu merebut hal yang seharusnya menjadi milikku. Selama janur kuning belum melengkung, Itu artinya Nadira masih bisa aku perjuangkan" ucap Nathan sambil mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2