Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Pertengkaran Devano dan Farah


__ADS_3

"Oppa, Lepaskan. Jangan seperti ini, Malu sama kak Farah" ujar Nadira lagi.


"Baiklah, Tapi ada syaratnya. Setelah itu akau janji akan melepaskan pelukannya" balas Devano sambil mengulum bibirnya. Memperhatikan raut wajah Nadira yang sudah sedikit mengerutkan keningnya.


"Syarat? Memangnya apa syaratnya, Oppa?" tanya Nadira sambil melirik Devano yang sudah mengulum bibirnya.


"Cium dulu, Baru setelah itu aku akan melepaskan pelukannya" bisik Devano lagi.


Nadira mengangkat sebelah sudut bibirnya"Ish. Dasar suami mesum. Masih saja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu maumu saja kan, Oppa" gumam Nadira lagi


"Ya itu sih terserah kamu saja, Sayang. Jika kamu mau pelukannya di lepas, Bisa langsung melakukan syarat yang baru saja aku ajukan. Jika tidak ya sudah, Aku akan terus begini sampai nanti" kata Devano sambil menatap Nadira.


"Itu sih enak di Oppa rugi di aku. Tapi baiklah, Kalau memang hal itu yang Oppa mau" Nadira membalikkan tubuhnya dan langsung mencium pipi kiri Devano dengan terpaksa.


"Sudah ya, Oppa. Sekarang menyingkir lah, Aku mau menyelesaikan masakanku. Jika Oppa seperti ini terus nanti yang ada kak Farah kelamaan nunggu"


Devano tersenyum. Setelah itu Devano benar-benar melepaskan pelukannya. Memperhatikan Nadira yang kembali fokus dengan bumbu yang ada di hadapannya. Kedua sudut bibir Devano terangkat saat melihat bagaimana Nadira memasak makan malam untuk mereka.


"Cantik" kata Devano yang berhasil membuat kedua pipi Nadira seketika memerah. "Kenapa kamu bisa cantik seperti itu sih, Sayang. Gemes banget liatnya" sambung Devano lagi.


"Dari pada Oppa di sini ganggu aku, Lebih baik Oppa siapkan piring dan gelas. Bawa ke meja makan"


"Ciee yang mukanya merah. Makin cantik saja sayang"

__ADS_1


"Oppa, Keluar gak!" kata Nadira lagi sambil menatap tajam Devano.


"Baiklah,,,, Baiklah istriku sayang" balas Devano dan langsung keluar dari sana.


Devano keluar dari dalam dapur sembari membawa beberapa piring serta gelas di atas nampan yang ada di tangannya. Pria itu menatap Farah yang terlihat sedikit gelisah.


"Ada apa, Kak? Kenapa sepertinya wajahmu begitu gelisah. Apa ada hal yang terjadi?" tanya Devano sambil meletakkan piring serta gelas itu di atas meja makan.


Farah yang tiba-tiba mendengar suara Devano cukup terkejut. Wanita itu segera memasukkan ponselnya pada saku piyama yang sedang dia gunakan.


"Ahh tidak apa-apa kok, Dev. Kakak baik-baik saja" balas Farah sambil berusaha bersikap biasa saja.


"Benarkah, Kakak jangan berbohong. Dari raut wajah kakak saja sudah sangat jelas jika kakak sedang tidak baik-baik saja. Ada apa, Kak? Kaka bisa menceritakan semuanya terhadapku. Jangan pernah memendam masalah kakak sendiri. Karna aku adalah saudara kakak, Kita ini keluarga" balas Devano lagi.


Farah terdiam. Tidak langsung menjawab apa yang baru saja Devano katakan. Bagaimana bisa Farah mau menceritakan hal apa yang sudah membuatnya gelisah, Pasalnya ini sudah pasti ada hubungannya dengan Alex. Laki-laki yang mungkin saat ini sama sekali tidak Devano sukai.


Karna melihat Farah masih diam tak menjawab sepatah katapun, Devano menatap Farah dengan tatapan menyelidik"Jangan bilang kegelisahan kakak ini ada hubungannya dengan pria brengsek itu?!" tebak Devano yang terlihat seperti mengintimidasi Farah.


"Kak, Katakan. Apa yang aku bilang ini salah, Ayo kak! Tolong katakan" ujar Devano sambil menatap Farah yang masih terdiam.


Devano melirik pada ponsel Farah, Hingga tak berselang lama, Pria itu memutuskan untuk mengambil ponsel Farah.


Kedua mata Devano menatap tajam layar ponsel Farah. Di sana Devano bisa membaca pesan terakhir Alex yang belum sempat Farah hapus.

__ADS_1


"Ck!! Mau sampai kapanpun, Devano tidak akan membiarkan kakak kembali pada pria brengsek ini lagi, Karna dia sama sekali tidak pantas buat kakak, Dia hanyalah pria tidak tau diri yang sudah menyianyiakan wanita sebaik kakak" ucap Devano setelah membaca pesan itu.


"Tapi kakak masih mencintainya, Dev. Biar bagaimanapun, Dia adalah ayah dari bayi yang saat ini kakak kandung" kata Farah sambil menundukkan wajahnya.


Mendengar itu membuat Devano menatap tajam Farah"Apa kakak bilang, Cinta? Astaga, Kak! Tolong buka pikiran kakak, Setelah apa yang sudah Alex lakukan terhadap kakak, Kakak masih mengatakan cinta" Devano menggelengkan kepalanya, Tidak habis pikir dengan apa yang baru saja di katakan oleh Farah. Apa memang benar cinta itu buta, Bahkan setelah apa yang sudah Alex perbuat, Farah masih saja mencintainya.


Devano menatap tak percaya pada Farah. Pria itu meletakkan kembali ponselnya dan memutuskan untuk pergi dari sana. "Kalau sampai kakak masih nekad untuk kembali lagi pada pria brengsek itu, Jangan salahkan Dev jika seandainya Dev tidak lagi menganggap keberadaan kakak lagi" kata Devano dengan penuh penekanan.


Devano bangun dari duduknya, Saat membaca pesan dari Alex membuatnya merasa sangat kesal. Hatinya masih sangat terluka dan tidak terima saat teringat akan perlakuan Alex terhadap Farah saat di Bali waktu itu.


Devano mengembalikan ponselnya tanpa menoleh pada Farah. Namun langkahnya terhenti saat suara Farah menetap indra pendengarannya.


"Apa kakak salah jika kakak masih menyimpan rasa ini, Dev. Bahkan ini semua juga bukan keinginan kakak. Lalu apa yang harus kakak lakukan" Kata Farah yang terdengar sangat lirih.


Mendengar itu membuat Devano membalikkan tubuhnya, Menatap pada Farah yang sudah menampakkan raut wajah sendunya.


"Kakak sadar kan dengan apa yang baru saja kakak katakan? Ingat kak, Cinta boleh, Tapi jangan sampai hanya karna cinta kakak menjadi bodoh. Jangan pernah lupa atas apa yang sudah pria brengsek itu lakukan terhadap kakak. Buka matamu kak!" kata Devano sambil menatap pada Farah.


"Lalu apa yang harus kakak lakukan, Dev? Bahkan kakak pun juga tidak menginginkan hal ini, Tapi bagaimana caranya agar kakak bisa melupakannya" balas Farah lagi.


"Move on, Jangan pernah mengingat sedikitpun hal tentang pria brengsek sepertinya. Karna dia sama sekali tidak pantas buat kakak. Dia hanya laki-laki tidak tau diri yang tidak tau caranya bersyukur" balas Devano lagi. Sehingga ruang makan itu menjadi sangat rame. Dan membuat Nadira keluar cepat dari dalam dapur karna mendengar suara bising akibat pertengkaran yang sedang terjadi antara Devano dan juga Farah.


"Bagaimana bisa kakak melupakan semua hal tentang dia, Dev. Sedangkan dalam perut kakak ada janin yang selalu membuat kakak teringat akan mas Alex. Karna mau bagaimanapun, Mas Alex tetap ayah kandungnya, Dev" balas Farah lagi

__ADS_1


Nadira yang mendengar suara ribut membuatnya keluar dan langsung ke ruang makan. "Ada apa ini?" tanya Nadira sambil menatap Farah sama Devano.


Devano tak menjawab, Pria itu memutuskan untuk pergi dari sana. Karna selera makannya pun sudah tidak ada lagi.


__ADS_2