
"Bagaimana caranya agar Mela mau pergi ke luar negri bersama dengan Keenan" kata Sky sambil terus mengemudikan mobilnya. Pasalnya Pamela memang kekeh tidak mau pergi kemana-mana apalagi ke luar negri. Karna Pamela masih sangat penasaran kenapa dengan sangat mudah Devano melupakannya.
"Bagaimanapun caranya, Aku harus bisa memastikan Mela mau berangkat malam ini juga. Dengan, Atau tanpa persetujuan darinya sekalipun" kata Sky lagi.
Sedangkan Nadira dan juga Devano. Setelah keluar dari halaman rumah yang tadi, Devano melajukan mobilnya menuju Apartemen, Selain ingin packing barang-barang yang akan mereka bawa, Devano memang sengaja membawa Nadira ke apartemen agar tidak terjadi hal yang tak di inginkan seperti tadi.
"Sayang, Coba kamu hubungi Bella" Devano melirik pada Nadira. Mendengar itu membuat Nadira langsung mengambil ponselnya"Iya, Oppa" jawabnya pelan.
Nadira menghubungi nomor Bella saat itu juga, Dan tak butuh waktu lama, Bella sudah menjawab panggilannya.
📱:Halo, Dir, Ada ada? Tumben kamu telfon aku?
📱:Bell, Dimana kamu sekarang?
📱:Oh aku dirumah. Kenapa memangnya, Nad?
📱:Aku sama Oppa Devan otw ke rumahmu. Ada hal penting yang mau kita tanyakan
📱: Baiklah. Aku tunggu, Nad
Setelah itu, Sambungan telponnya terputus, Devano menoleh pada Nadira"Bagaimana, Sayang. Apa Bella ada dirumahnya?" tanya Devano pelan.
"Iya, Oppa. Katanya saat ini dia ada di rumah. Kita bisa langsung kesana, Bella sudah menunggu"
Mendengar perkataan Nadira membuat Devano semakin mempercepat laju mobilnya. Hingga tak berselang lama, Mobil itu sudah sampai di depan rumah Bella. Di sana ternyata sudah ada Bella dan juga Dion yang menunggu kedatangan mereka.
"Akhirnya kalian sampai juga. Ada apa, Kak?" tanya Bella setelah Devano dan juga Nadira sudah duduk di sebuah kursi yang ada di depan rumah Bella.
Devano serta Nadira saling lirik"Kalau boleh tau, Ponsel kamu hilang di mana?" tanya Devano. Karna dengan begitu, Kemungkinan besar mereka akan dengan mudah menemukan siapa pelaku yang sudah menjebak Nadira.
Bella mengerutkan keningnya. Untuk apa Devano menanyakan akan hal ini. Terlebih dari raut wajah Devano menampakkan raut wajah yang tak menentu.
__ADS_1
"Di kampus, Kak. Memangnya kenapa?" tanya Bella sambil menatap pada Devano.
"Di kampus sebelah mana? Karna ada hal penting yang harus kakak urus dari ponselmu" Bella semaki merasa tidak mengerti dengan apa yang Devano katakan.
"Ada apa memangnya, Kak? Aku tidak paham"
"Tadi pagi ada seseorang yang mengirimkan pesan pada Nadira dan membuatnya datang ke tempat yang tidak seharusnya. Beruntung saja aku datang tepat waktu, Kalau tidak, Aku tidak tau apa yang akan mereka lakukan pada Nadira" kata Devano sambil melirik pada Nadira.
Dion yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut bertanya, Pasalnya bukan hanya Bella yang tidak mengerti dengan perkataan Devano, Dion juga merasakan hal yang serupa. Pria itu tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja Devano katakan pada mereka.
"Apa maksudmu, Dev. Bicara yang jelas. Jangan terbelit-belit seperti itu" timpal Dion pada Devano.
"Siapa yang berbelit-belit, Hanya saja otak kalian yang lemot"
"Enak saja kalau ngomong. Kau yang ngomongnya tidak jelas. Bagaimana sih maksudnya, Coba jelaskan lagi"
Devano mengambil nafas dalam lalu kembali menceritakan apa yang baru saja dia katakan. Hingga akhirnya Bella dan juga Dion mengerti.
"Benar, Dion. Oleh karena itu aku harus tau dimana kira-kira ponsel Bella itu hilang" timpal Devano lagi.
"Nanti akan coba Bella ingat-ingat lagi ya kak. Soalnya Bella sendiri juga lupa di mana terakhir memegang ponsel itu" balas Bella sambil cengengesan. Memang seperti itulah Bella, Suka lemah dalam ingatan. Ada banyak hal yang sangat mudah dia lupakan begitu saja.
"Kebiasaan. Yasudah, Nanti kalau misalnya kamu sudah ingat, Bisa langsung hubungi kakak. Oh ya, Sebenarnya kami berdua datang kesini bukan hanya ingin membicarakan soal itu, Tapi ini tentang resepsi pernikahan kami yang akan berlangsung 3 hari lagi di jogja. Aku mau kalian berdua hadir dalam acara itu" kata Devano pada mereka berdua.
"Hah! Acara resepsi di jogja. Kenapa kakak baru mengatakan hal ini pada Bella sekarang sih kak. Untung saja Bella belum berangkat study tour ke Bali" balas Bella pada Devano.
Memang dua hari lagi campus Garuda akan melakukan study tour ke Bali dalam waktu satu minggu.
"Tidak usah ikut. Kalau hanya study tour lain kali pasti akan di adakan lagi, Tapi kalau acara resepsi pernikahan kakak, Tidak akan terulang. Hanya sekali seumur hidup" Devano menatap Nadira sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
*
__ADS_1
*
*
"Ratna, Apa kamu sudah memikirkan ulang tawaran ku hari itu?" tanya Zein sambil berjalan mendekat pada Ratna yang sedang duduk di kursi panjang yang ada di samping pangi asuhan.
Mendengar pertanyaan itu membuat Ratna terdiam. Masih terlalu bingung dengan apa yang harus dia jawab. Pasalnya Ratna sendiri merasa tidak enak hati jika seandainya dia menerima ajakan Zein untuk menikah.
"Kenapa kamu diam saja, Ratna? Apa kamu tidak mau menikah denganku? Tanya Zein lagi
Namun lagi-lagi Ratna terdiam. Wanita itu memainkan tangannya untuk sekedar menghilangkan rasa gundah di dalam hatinya.
"Ratna, tolong kamu jawab aku, Apa memang sudah tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya. Aku mohon, Ratna. Tolong berikan satu kali saja kesempatan untuk aku bisa mempertanggung jawabkan hal yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Biarkan aku menjadi bagian dalam hidup kamu dan juga Aira" kata Zein yang terdengar sangat lirih.
Ratna semakin bingung bagaimana caranya menanggapi semua yang Zein katakan. Pasalnya di sini yang tidak pantas bukanlah Zein. Melainkan Ratna Sendiri. Apalagi saat ini dia sedang mengandung anak dari pria lain. Membuatnya cukup sadar diri, Jika dia sangat jauh dari kata pantas untuk bersanding dengan Zein Abimana. Seorang pengusaha sukses yang memiliki perusahaan di bidang property.
"Maafkan aku, Zein. Sebenarnya di sini yang tidak pantas itu bukan kamu, Melainkan aku. Aku benar-benar merasa sangat tidak pantas bersanding dengan pria yang hampir mendekati kata sempurna seperti dirimu, Zein" kata Ratna yang terdengar sangat lirih.
Perkataan Ratna membuat Zein menangkup kedua pipi Ratna. Pria itu menatap kedua bola mata Ratna begitu dalam"Tatap aku, Ratna. Siapa yang mengatakan kamu tidak pantas untukku?" tanya Zein sambil menatap kedua bola mata hitam itu.
"Ayo katakan, Ratna. Siapa yang mengatakan kamu tidak pantas untukku?" tanya Zein lagi
Hingga tiba-tiba saja kalimat yang begitu menyakitkan kembali terngiang begitu saja. Membuat air mata Ratna meluruh.
"Bunda kamu, Zein. Bunda kamu yang sudah mengatakan jika aku tidak cukup pantas bersanding dengan pria sepertimu. Kita bagaikan langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersama. Kamu terlalu jauh untuk ku gapai, Zein" batin Ratna sambil memejamkan kedua matanya yang mulai terasa sangat panas.
Jangan pernah berharap kamu bisa menjadi bagian dari keluarga Abimana, Karna kamu hanyalah wanita tak tau diri yang sangat jauh dari kata pantas untuk bersanding dengan putra saya. Jadi saya ingatkan sekali lagi, Berhenti mendekati Zein. Karna kalian bagaiman langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersatu.
Kata-kata itu tiba-tiba saja terngiang. Membuat hati Ratna terasa sangat sakit. Seperti teriris. Luka tak berdarah namun terasa sangat menyakitkan. Setiap kata yang di ucapkan oleh bunda Zein benar-benar melukai perasaannya.
"Pergi dan jangan pernah datang lagi kesini, Zein." kata Ratna serta langsung berlalu dari sana. Meninggalkan Zein yang masih terlihat sangat bingung dengan maksud perkataan Ratna.
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu, Orang tua Zein memang datang menemui Ratna di rumah sakit. Bunda Zein memberi peringatan pada Ratna agar tidak dekat-dekat dengan putranya. Bahkan bukan hanya itu, Bunda Ratna juga mengancam akan membunuh bundanya sendiri jika sampai Ratna menghiraukan peringatan yang di berikan oleh bunda Zein.