Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Produk Limited Edition


__ADS_3

"Sudah. Tidak perlu mengingat hal yang akan melukai perasaanmu, Sayang. Dia hanyalah masa lalu mu, Dan aku adalah masa depanmu. Mulai hari ini, Kota harus bisa saling melengkapi satu sama lain" kata Devano yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaran Nadira


Mendengar itu membuat Nadira menatap wajah Devano.Tidak pernah menyangka jika pria yang begitu menyebalkan bisa mengatakan hal itu.


"Terima Kasih, Oppa. Terima Kasih karna atas semua nya. Terimakasih karna tanpa aku sadari, Selama ini oppa sudah mengajarkan begitu banyak hal sama aku. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari hidup oppa"


Lisa mengangkat kedua sudut bibirnya. Merasa ikut bahagia saat melihat Devano seperti itu. Wajahnya sangat terlihat jelas jika Devano sangat bahagia.


Aku bahagia bisa melihat kamu sudah menemukan cintamu, Kak. Aku doakan, Semoga saja hubungan kalian akan selamanya seperti ini. Maafkan kak Ratna yang sudah pernah membuatmu merasakan kecewa


Batin Lisa sambil memperhatikan Devano dan juga Nadira yang masih setia saling pandang. Kedua bola mata Devano menatap lekat kedua bola mata indah milik Nadira.


"Ehheemmm"


Suara itu membuat mereka berdua sadar. Devano dan Nadira menoleh pada Lisa yang sudah mengulum bibir di depannya"Lisa permisi dulu, Kak. Jangan lupa mesra-mesraan nya nanti di lanjut di dalam ya"


Setelah mengatakan hal itu, Lisa berlalu dari hadapan Devano dan juga Nadira.


Kruuuukkkkk....Kruuugggg...Kruuuggggg


Suara bunyi perut Nadira sudah mulai terdengar. Itu artinya para cacing di dalam perutnya sudah pada minta jatah. Karna memang sebelum berangkat ke indonesia, Nadira tidak sempat sarapan. Dia hanya meminum segelas susu coklat hangat.


"Kamu lapar, Sayang? Ayo kita masuk. Aku sudah membelikan beberapa makanan kesukaan kamu" kata Devano sambil menarik tangan Nadira.

__ADS_1


Setelah tiba di dalam, Devano meminta Nadira untuk duduk saja di meja makan. Pria itu ingin sarapan bersama pertama mereka sebagai suami istri disiapkan oleh Devano. Awalnya Devano berniat untuk membuat makanan spesial yang dia masak sendiri, Hanya saja di dalam kulkas belum ada bahan satupun yang bisa Devano gunakan untuk membuat makanan.


"Biar aku yang siapkan, Sayang. Kamu duduk manis saja di sini" kata Devano sembari berjalan ke dapur untuk menyajikan beberapa makanan yang sudah dis pesan dari restoran tadi.


Nadira hanya mengangguk. Wanita itu memperhatikan Devano yang sedang sibuk mengambil alat makan dari meja makan. Tiba-tiba saja kedua sudutnya terangkat.


Gak pernah nyangka jika status kita saat ini sudah berbeda, Pak. Semoga saja setelah ini kita tidak lagi saling menyebalkan. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu. Terimakasih atas segala hal yang sudah kamu ajarkan terhadapku selama ini. Mungkin, kamu memang benar, Bahwa tak semua laki-laki itu sama. Semoga saja kamu berbeda dari Nathan. Aku berharap, Semoga kamu bisa selalu menjadi pelangi dan bisa menjadi seperti bintang atau bahkan bisa menjadi seperti matahari yang tak pernah lelah datang untuk memberi keterangan buat bumi.


Batin Nadira sambil terus menatap Devano. Hatinya berdetak cepat saat melihat paras dari laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya ini. "Sepertinya aku memang sudah benar-benar mencintaimu, Pak. Bahkan detak jantung ini sudah kembali aku rasakan. Detak jantung yang dulu aku rasakan setiap kali menatap wajah Nathan" ucap Nadira yang tanpa sadar menyebutkan nama Nathan.


Namun sedetik kemudian, Wanita itu menggelengkan kepalanya"aaahh. Kenapa aku malah menyebutkan nama pria brengsek itu. Nadira, Nadira. Ingat jangan pernah posisikan Devano di tempat Nathan yang dulu. Karna posisi yang paling tepat buat Devano adalah posisi yang jauuuuhhh di atas posisi Nathan. Kamu harus yakin jika Devano pria yang berbeda. Kamu harus percaya jika pria itu tidak akan pernah menggoreskan luka di sana" batin Nadira lagi pada dirinya sendiri.


Dari dalam dapur. Devano membawa makanan yang sudah tersaji ke meja makan. "Silahkan makan, Sayang. Semoga kamu masih suka sama makanan ini" ujarnya sambil meletakkan makanan-makanan yang sudah di pesannya tadi di depan Nadira.


"Iya, Sayang. Bukan kah semua ini makanan kesukaanmu? Aku pikir kamu pasti sangat lapar setelah menempuh 6 jam lebih perjalanan. Terlebih lagi tadi sebelum berangkat kamu hanya minum segelas susu putih saja kan?" Devano menatap wajah Nadira yang masih memperhatikan semua makanan itu. Karna Devano memesan masing-masing dari menu makanan dua porsi.


"Memang. Tadi sebelum berangkat aku tidak sempat sarapan, Oppa. Tapi ini makanan banyak sekali. Biarpun aku lapar, Aku juga tidak serakus itu. Mana muat perutku memakan semua menu ini. Kita hanya berdua saja, Oppa" balas Nadira pada Devano.


"Sudahlah. Lebih baik sekarang kamu makan yang banyak. Untuk menambah tenaga sebelum kita memulainya" Saat mengatakan hal itu, Devano memainkan sebelah matanya. Membuat kedua mata Nadira terbelalak.


"Memulai apa?" tanya Nadira pada Devano yang sudah terlihat mengulum bibirnya.


"Memulai buka pabrik buat produksi produk baru yang limited edition" Devano kembali mengedipkan sebelah matanya pada Nadira.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Nadira mengerutkan keningnya, Karna merasa tidak paham dengan apa yang baru saja Devano katakan.


"Membuka pabrik baru? Sejak kapan WARDANA Grup memiliki pabrik? Memangnya sebelumnya sudah ada ya?" tanya Nadira dengan polosnya


Devano mengambil nafas panjang lalu membuangnya kasar. Ini Nadira pura-pura tidak mengerti atau memang masih sepolos itu?


"Sejak nanti, Mau buka pabrik pertama dan membuat pruduk-produk limited edition" seru Devano yang terlihat sedikit kesal.


Melihat raut wajah Devano membuat Nadira menatapnya"Ada apa denganmu, Oppa? Memangnya aku salah bertanya ya?" ucapnya dengan wajah polos sambil menatap Devano


"Sayang. Yang aku maksud itu bukan pabrik buat Wardana grup"


"Lalu? Oh aku tau. Kamu mau buat pabrik dengan nama lain, Begitu kan?" lagi-lagi perkataan Nadira membuat Devano menepuk jidatnya.


Astaga, Kenapa dengan istriku ya allah. Dia benar-benar tidak mengerti apa memang terlalu polos


Batin Devano sambil menatap Nadira yang masih menunjukkan raut wajah penasaran dan seakan minta penjelasan.


"Bukan, Sayang. Kalau hanya untuk memulai membuat pabrik buat WARDANA GRUP, buat apa aku memintamu untuk makan yang banyak. Lebih tepatnya membuat pantik dan produk baru dengan kualitas yang Limited edition untuk menjadi penerus WARDANA Grup" terang Devano sambil menatap wajah Nadira.


"Oh begitu, Kenapa tidak bilang dari tadi" gumamnya yang masih tidak terlalu paham. Namun sedetik kemudian"Hah, Membuat pabrik dengan kualitas limited edition buat menjadi penerus WARDANA GRUP? itu artinya-" kata Nadira sambil membulatkan sempurna kedua matanya. Namun perkataan Nadira terhenti saat Devano menimpalinya.


"Iya. Pabrik baru untuk memproduksi produk limited edition buat kedua orang tua kita, Sayangku" balas Devano sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


__ADS_2