
"Bau masakan ini, Kenapa sangat mirip dengan bau masakan yang sering Nadira buatkan untukku" ucap Devano sambil mempercepat langkahnya menuruni anak-anak tangga di sana.
Setiap kali sedang lembur dan membuat mereka menginap di kantor, Nadira memang akan selalu membuatkan spaghetti untuk Devano, Karna yang dia tau Devano memang sangat menyukai makanan itu.
Saat sudah sampai di bawah, Langkah Devano terhenti saat melihat ada sosok wanita yang sedang sibuk memasakan di dapur rumahnya. Siapa wanita ini? batinnya sambil terus menatap punggung wanita itu.
"Biasa saja liatnya, Dia Bella bukan Nadira" suara Dion membuat Devano mengalihkan pandangannya. Bella yang mendengar suara bising di belakangnya langsung membalikkan tubuhnya menatap pada Dion dan juga Devano.
Malam tadi, Bella memang datang ke rumah Devano setelah mendengar dari Dion perihal rencana Devano akan Ratna juga Fadil. Hanya saja setelah tiba di rumah itu, Bella yang sudah terlalu lelah langsung masuk ke dalam kamar yang biasa dia gunakan saat sedang menginap di sini. Kedua orang tua Devano memang sangat dekat dengan Bella. Apalagi setelah kehilangan anak perempuannya beberapa tahun yang lalu membuat Daddy serta mommy Devano memberikan kasih sayang yang begitu besar akan Bella. Bahkan Bella sudah di anggap anak oleh mereka berdua.
"Ada, Apa? Kok kalian berdua berisik sekali" tanya Bella sambil menoleh pada Devano juga Dion yang sudah duduk di meja makan.
"Biasa sayang. Yang lagi merindukan seseorang" balas Dion sambil mengulum bibirnya.
Devano yang mendengar perkataan Dion langsung menatap tajam pria itu"Jangan mulai ngaco. Ini masih sangat pagi" balas Devano pada Dion.
"Lah. Diapa juga yang ngaco. Kamu saja yang belum menyadari jika Nadira sudah meninggalkan separuh hatinya padamu"
Bersamaan dengan itu, Bella datang dengan membawa 3 porsi spaghetti di atas nampan yang ada di tangannya. Bella mengerutkan keningnya saat melihat ada lingkaran hitam di bawah mata Devano.
"Ada apa dengan mu kak? Kenapa mata panda. Memangnya kak Dev begadang ya?" tanya Bella sambil memberikan spaghetti yang baru selesai di masaknya pada Dion juga Devano. Tak lupa segelas air putih yang menjadi pelengkap sarapan pagi ini.
Devano mengambil nafas dalam lalu membuangnya pelan. Pria itu masih terdiam karna tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan yang terlontar dari Bella. Jika dirinya menjawab begadang, Nanti yang ada Bella juga Dion akan menanyakan kenapa bisa sampai begadang hingga menimbulkan lingkaran hitam di bawah kedua matanya.
"Kok diam saja, Kak. Apa kak Devan habis begadang tadi malam?" Bella kembali mengulangi pertanyaannya saat melihat Devano masih terdiam di sana.
"Hmmm iya, Tadi malam aku memang habis begadang. Karna ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum berangkat ke Tokyo" Devano sengaja berbohong agar Bella dan Dion tak lagi bertanya perihal alasannya begadang malam tadi. .
__ADS_1
Namun bukan Dion namanya jika langsung percaya begitu saja. Dion merasa belum puas jika belum menggoda sahabatnya yang saat ini ada di depannya.
"Benarkah? Bukannya tadi sore kamu mengatakan jika tidak ada pekerjaan sehingga membuatmu bisa kembali dengan cepat. Jangan bilang alasan mu yang sebenarnya begadang adalah wanita itu" Dion sengaja membawa kata wanita itu untuk melihat raut wajah yanga akan di tampakkan oleh Devano.
Tapi Devano tidak membalas perkataan Dion, Pria itu mengalihkan pembicaraan agar terhindar dari pertanyaan yang tadi malam sempat Dion berikan padanya.
"Eh, Waktu itu kamu sempat cerita soal kerja sama dengan DK Grup. Apa itu sudah terlaksanakan?" tanya Devano yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Jadi. Malah saat ini perusahaan tempat ku bekerja sudah melakukan beberapa proyek besar dengan mereka. Hanya saja aku sering merasa kasihan dengan sosok wanita yang sering datang menemani direktur DK Grup setiap kali ada acara" Dion menjadi teringat beberapa kejadian yang menurutnya terasa tidak wajar.
Devano mengerutkan kecil keningnya"Maksudmu bagaimana. Aku tidak mengerti?" tanya Devano yang memang tidak terlalu paham dengan apa yang Dion katakan padanya.
"Iya, Setiap kali ada pertemuan, Pak Alex memang akan selalu membawa serta istrinya untuk menemani. Tapi setiap kali aku memperhatikan istrinya, Aku melihat seperti ada tekanan dari wajahnya. Kamu ingat kan sayang kejadian di gedung Prisma di bali" Dion menatap pada Bella yang sejak tadi hanya menyimak.
"Iya benar. Aku selalu melihat wajah kak Farah seperti ada tekanan. Tapi setiap kali aku berusaha bertanya, Kak Farah tidak pernah mau menjawab pertanyaanku" balas Bella sambil terus menikmati spaghetti buatannya yang di ajarkan oleh Nadira beberapa waktu lalu.
"Iya benar. Apa kamu mengenalnya?" tanya Dion sambil menatap Devano.
"Sebentar. Apa pria yang bernama Alex orangnya tinggi besar, Sedikit brewok dengan rambut klimis?" tanya Devano lagi.
"Iya, Apa kamu mengenal merek?" tanya Bella dan Dion secara bersamaan.
"Tak salah lagi"
*
*
__ADS_1
*
Siang sudah berlalu, Devano sudah bersiap untuk melakukan penerbangan ke kota Tokyo. Pria itu di antar oleh Dion dan juga Bella ke bandara. Karna memang penerbangannya jam 19:00.
"Hati-hati kak. Jangan lupa cari Nadira setelah sampai di sana" ucap Bella sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Bener itu, Sayang. Menyelam sekalian minum" timpal Dion sambil terkekeh.
Devano hanya mengangguk. Memutuskan untuk tidak menggubris perkataan Dion yang ujung-ujungnya akan menanyakan hal yang sama seperti sebelumnya.
"Iya, Terimakasih kalian sudah mau mengantarku. Aku pergi dulu"
Setelah mengatakan hal itu, Devano langsung masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan segera take off.
"Akan kah aku bisa bertemu dengan Nadira di sana" kata Devano sambil menatap sebuah gambar di layar ponselnya.
Ternyata itu adalah foto Nadira bersama dengan dirinya. Foto yang pernah mereka ambil saat menghadiri sebuah pesta pernikahan salah satu rekan bisnis Devano. Karna saat itu, Ratna tidak bisa menemani Devano dan membuat Devano mengajak Nadira untuk ikut bersama dengannya. Menjadi partner dansa di acara itu.
"Kamu memang sangat cantik, Nadira" ucapnya tanpa sadar.
6 Jam berlalu. Pesawat yang di tumpangi Devano akhirnya landing di sana. Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Devano yang merasa cukup lelah memutuskan untuk menginap di salah satu hotel yang tak jauh dari bandara. Karna mau langsung ke tempat kedua orang tuanya Devano tidak tau menahu di mana alamat mereka saat ini.
"Lebih baik aku menginap di hotel ini saja. Sepertinya tubuhnya butuh istirahat untuk menghadiri acara lelang besok siang" ucap Devano sambil melangkahkan kakinya.
"Devano" suara itu membuat Devano menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah sumber suara yang tadi memanggil namanya
"Kak Zein"
__ADS_1