
"Ini kita mau tetap di sini atau pulang?" tanya Devano setelah cukup lelah berdebat dengan Nadira yang tidak akan ada ujungnya.
"Ya pulanglah, Saya sudah capek dan mau segera istirahat. Males terus-terusan harus berdebat dengan bapak yang begitu menyebalkan " balas Nadira dan langsung berlalu dari hadapan Devano. Meninggalkan Devano yang sudah menatap Nadira kesal.
"Ck!!! Memangnya dia pikir saya tidak kesal karna ulahnya. Dasar tidak tau diri memang" Devano mengekor di belakang Nadira.
Setelah tiba di parkiran, Nadira menoleh pada Devano. Seakan bertanya di mana mobil pria itu. Karna memang pagi tadi Zein sudah meminjamkan satu mobil pada Devano untuk dia gunakan selama ada di Yokyo.
"Mobilnya yang mana, Pak?" tanya nya sambil memperhatikan Devano yang masih berjalan sedikit melambat. Pria itu tak menjawab pertanyaan Nadira. Devano hanya terus berjalan hingga melewati Nadira tanpa berkata sepatah katapun.
Hal itu tentu saja membuat Nadira merasa sangat kesal. Hingga akhirnya Nadira pun memutuskan untuk melontarkan kembali pertanyaan yang sama.
"Pak, Kenapa pak Devan tidak menjawab pertanyaan saya. Jangan bilang kalau pak Devan sudah mulai budi"
Perkataan Nadira berhasil membuat Devan menghentikan langkahnya. Pria itu membalikkan tubuhnya lalu menatap Nadira sambil sedikit mengangkat sebelah alisnya.
"Budi? Maksudnya?" tanya Devano pada Nadira yang sudah mengulum bibir
"Budeg dikit. Hahhaahha"
"Apa kamu bilang? Gak salah bilang budeg sama pria tampan sepertiku? Akan saya pastikan, Suatu saat nanti kamu memiliki perasaan yang memang sudah seharusnya ada sejak dulu"
Setelah mengatakan hal itu, Devano kembali membalikkan tubuhnya. Namun sebelum itu, Devano masih mengedipkan sebelah matanya serta mengangkat kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis.
"Uueekkkk, Mau muntah saya liatnya pak" balas Nadira sambil mengangkat sebelah bibirnya. Namun Devano sama sekali tak menggubris perkataan Nadira. Pria itu hanya kembali melangkahkan kakinya menuju mobil milik Zein.
__ADS_1
Melihat Devano masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya membuat Nadira semakin mempercepat langkah kakinya. Wanita itu ikut masuk ke dalam mobil itu.
Devano langsung melajukan mobilnya saat melihat Nadira sudah ikut masuk ke dalam mobil itu. Keluar dari gedung perusahaan tempat acara lelang milik Zein.
Di sepanjang perjalanan, Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Devano memilih fokus mengemudi sedangkan Nadira sudah damai dalam tidurnya.
"Aiiiss. Memang bener-bener kebo ini cewek. Cepet amat tidurnya" gumam Devano sambil sedikit melirik pada Nadira.
Pria itu membiarkan Nadira tidur tanpa mau mengganggunya sedikitpun. Hingga tak lama kemudian, Mobil itu sudah sampai di salah satu hotel elit milik Zein.
Devano masih menatap wajah Nadira, Menyibak anak-anak rambut yang memang sedikit menutupi wajahnya.
Lagi-lagi, Devano merasa selalu ada yang aneh dengan jantungnya setiap kali berada sedekat ini dengan Nadira"Kenapa saya selalu merasa jantung saya tidak aman setiap kali berada di jarak sedekat ini denganmu, Nadira. Apa jangan-jangan apa yang sudah di katakan Dion itu memang benar. Mungkin saya memang sudah ada hati sama kamu. Kamu yang selalu mampu membuat saya marah, Membuat saya kesal. membuat saya nyaman dengan cara yang tak pernah bisa saya dapatkan dari siapapun" gumam Devano sambil membelai lembut rambut panjang Nadira.
Devano masih terus memperhatikan wajah Nadira. Kenapa selama ini dia tidak pernah menyadari satu hal. "Kamu cantik, Nadira. Bahkan kamu lebih cantik dari pada apa yang saya bayangkan selama ini" ucap Devano lagi sambil terus menatap wajah Nadira.
Hingga tak berselang lama, Tatapan Devano beralih pada jari telunjuk Nadira. Di sana Devano bisa melihat jelas bekas luka karna pisau beberapa tahun yang lalu.
Melihat itu membuat ingatan Devano kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Tepatnya hari di mana Devano sedang datang ke rumah Nadira
"Berlian dimana, Om?" tanya Devano saat baru masuk ke dalam rumah itu.
"Nadira lagi di dapur, Dev. Biasa anak itu lagi bantuin mamanya masak buat makan siang" terang Sky pada Devano.
Mendengar jawaban dari Sky membuat Devano langsung berjalan menuju dapur. Tepat saat Devano sudah tiba di sana, Devano melihat sosok gadis kecil yang dia panggil dengan sebutan Berlian sedang menangis sambil memegang tangannya.
__ADS_1
"Berlian, Kamu kenapa?" tanya Devano dengan raut wajah paniknya.
Nadira tak menjawab. Wanita itu hanya melihat sekilas Devano sambil terus menangis"Dia kenapa tante?" ulang Devano sambil menoleh pada mama Cristy.
"Tangan Nadira kena pisau, Dev. Ini sampai berdarah"
"Hah!"
Devano yang mendengar itu tentu saja menjadi semakin panik. Devano mengambil tangan Nadira dan langsung memasukkan jari itu pada mulutnya. Hingga setelah memastikan darahnya berhenti mengalir, Devano melepaskan tangan Nadira.
"Masih sakit, Berlian?" tanya Devano sambil menatap wajah Nadira yang menurutnya sudah menjadi candu.
Nadira menggeleng cepat"Tidak, King. Terimakasih karna king oppa sudah mau meredakan rasa sakit karna pisau ini" balas Nadira sambil tersenyum
"Jangan nangis lagi, Ya. Aku tidak suka ada air mata yang jatuh dari mata Berlianku. Air mata itu sangatlah berharga, Sama seperti kamu yang akan selalu menjadi sosok berharga. Suatu saat nanti, Aku ingin kamu menjadi bagian dalam hidupku. Menjadi sosok yang akan selalu setia menemaniku hingga hembusan nafas terakhir. Jangan pernah nangis lagi, Ya" ujar Devano lembut sambil mengusap sisa air mata Nadira.
"Terimakasih, King oppa. Promise, Aku tidak akan pernah nangis lagi karna hal apapun itu" balas Nadira sambil tersenyum
"Promise ya, Berliannya king oppa gak boleh cengeng"
Dttttttt,,,,,,,Dtttttttt,,,,,Dttttt
Suara dering ponsel menyadarkan Devano dari kejadian beberapa tahun yang lalu. Devano mengambil ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan masuk pada ponselnya. Kening Devano memicing saat membuka serta membaca pesan yang ternyata dari nomor tidak di kenal.
[ Dia milikku, Selamanya akan selalu menjadi milikku. Aku akan berusaha merebut apapun yang seharusnya menjadi milikku. Termasuk Dia, Nadira..Hanya aku yang pantas untuknya. Paham!! ]
__ADS_1
"Nomor siapa ini. Enak sekali mengatakan Nadira miliknya. Nadira itu hanya milikku, MILIKKU. Tidak ada yang bisa merebutnya dariku, Siapapun itu. Termasuk orang ini. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil Berlian" ucap Devano sambil menatap tak suka pada pesan itu.
[ Kalau mimpi jangan terlalu tinggi, Karna jatuh rasanya akan sangat sakit. Karna mau sampai kapanpun, Nadira hanya milik saya, Saya tidak akan pernah membiarkan siapapun merebutnya dari genggaman saya. Termasuk ANDA!! ingat, Hanya saya yang bisa memiliki Nadira! Selamanya dia milik Devano Wardana ] send