Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Memilih hadiah


__ADS_3

Setelah membaca pesan dari Adam membuat Devano mengangkat kedua sudut bibirnya. Setidaknya rencananya kali ini bisa berjalan dengan lancar. Seketika Devano teringat akan Reza, Risa beserta yang lain. Semua ini bisa terjadi karna bantuan dari mereka semua.


Devano mencari nomor ponsel Reza lalu langsung mengirimkan pesan padanya.


[ Terimakasih, Za. Berkat bantuan kamu, Risa dan juga yang lain, Aku berhasil menjalankan rencana ini. Terimakasih atas semua yang sudah kalian lakukan. Sebagai gantinya, Nanti aku akan membantu kamu agar bisa mendapatkan hati Risa ] Send


DI TEMPAT LAIN


Setelah mengambil rekaman video beserta beberapa foto Risa yang sedang di sekap, Mereka melepaskan semua ikatan dari tubuh Risa.


"Good, Risa. Akting kamu benar-benar bagus. Bahkan aku tidak melihat adanya rekayasa dari beberapa foto serta Video yang sudah aku kirim ke Devano. Bahkan akting kamu benar-benar seperti Real" kata Reza sambil menoleh pada Risa.


"Aku tau itu, Karna sebenarnya aku memiliki bakat menjadi aktris" balas Risa sambil terkekeh.


Reza, Risa dan juga yang lain masih stay di sebuah Villa milik keluarga Reza. Tempat yang sudah di jadikan untuk melancarkan rencana Devano. Tak lama kemudian, Ada sebuah pesan masuk dari nomor Devano. Melihat nomor yang tertera di sana membuat Reza langsung membuka pesan itu dan membacanya.


Kedua sudut bibirnya terangkat saat membaca kalimat terakhir dari pesan yang Devano kirimkan untuknya.


"Ck!! Ada-ada saja, Dev. Tapi itu sepertinya imbalan yang cukup sepadan dengan apa yang sudah aku lakukan" kata Reza pelan.


Kemudian Reza sedikit melirik pada Risa yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Sejenak Reza terdiam. Pria itu menatap wajah Risa yang cukup mampu membuat jantungnya berdetak. Bahkan Risa sudah mampu membuatnya jatuh cinta pada pertemuan pertama mereka saat di pom bensin tempo hari.


[ Imbalan yang cukup sepadan dengan apa yang sudah gue lakukan. Gue tidak mau tau, Lho harus bisa membuat gue dan Risa bersatu. Bagaimanapun caranya. Karna gue sudah terlanjur jatuh hati ] Send


Setelah itu, Reza meletakkan ponselnya. Mendekat pada Risa yang masih terlihat sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sudah menarik perhatiannya di sana. Tapi yang pasti, Risa sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Reza.


Melihat Risa seperti itu membuat Reza mendengus kesal. "Ehemm" Reza berdehem sambil menatap Risa. Namun wanita itu sama sekali tak menggubris. Masih begitu fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


"Apa sih yang dia lihat, Bagaimana bisa tidak menghiraukan keberadaan pangeran tampan sepertiku" kata Reza pelan.


"Ehemmmm" kata Reza lagi. Tapi lagi-lagi Nadira tak menggubris. Hingga Reza memutuskan untuk mendekat dan duduk di samping Risa.


"Liatin apa sih? Kayaknya menarik sekali" ujarnya sambil melongo dan mencoba mengintip layar ponsel Risa.


Risa menoleh pada Reza"Oh tidak ada, Hanya saja aku sedang memilih hadiah yang pas untuk aku berikan pada istrinya kak Devan. Biarpun aku tidak bisa hadir ke sana, Setidaknya aku harus mengirimkannya lewat ekspedisi online" terang Risa pada Reza.


Wanita itu memperlihatkan beberapa pilihan barang yang sejak tadi Risa lihat"Kalau menurut kamu, Di antara barang-barang ini, Lebih baik aku pilih barang yang mana untuk aku berikan sebagai hadiah pernikahan buat istrinya kak Dev" ujarnya sembari memperlihatkan beberapa pilihan barang pada Reza.


Reza tak langsung menjawab, Pria itu memperhatikan gambar barang yang Risa perlihatkan. Hingga tatapan Reza jatuh pada salah satu barang yang mungkin akan sangat berguna"Bagaimana kalau ini" kata Reza sambil menunjuk pada gambar sepatu.


"Sepatu? Kenapa harus sepatu?" tanya Risa yang masih tidak paham. Kenapa di antara banyak pilihan, pilihan Reza malah jatuh pada sepatu.


Reza mengangguk cepat. Seperti yang sudah Reza ketahui, Nadira adalah seorang mahasiswa sekaligus asisten Devano. Jadi menurutnya sepatu ini akan sangat berguna untuknya.


Risa tak menjawab. Wanita itu terdiam sambil berusaha mencerna perkataan Reza. Mungkin memang ada benarnya, Di antara semua barang-barang itu, Sepatu lah yang paling tepat untu di jadikan hadiah buat Nadira"


DI TEMPAT LAIN


Nadira mengerutkan keningnya saat melihat Devano yang senyum-senyum sendiri. Hal itu membuat Nadira merasa penasaran, Ada apa dengan suaminya? Tumben sekali Devano memainkan ponselnya sambil senyum-senyum. Apa yang sebenarnya menarik perhatiannya di sana.


"Oppa, Ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi aku perhatikan kamu sibuk dengan ponselmu sambil tertawa. Kalau boleh tau lagi chatting sama siapa?" tanya Nadira sembari menampakkan raut wajah seperti orang yang sedang cemburu.


"Sebentar, Sayang. Aku balas dulu" ujar Devano sambil terus sibuk dengan ponselnya serta tertawa. Membuat Nadira kesal dan mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Ih dasar tidak jelas" balasnya. Nadira yang merasa kesal dengan sikap Devano langsung memalingkan wajahnya menuju jendela.

__ADS_1


Devano yang baru saja selesai membalas pesan Reza menoleh pada Nadira"Apa kata kamu, Sayang?" tanya Devano karna memang tadi dia sedikit tidak menghiraukan pertanyaan yang terlontar dari Nadira.


"Sayang, Kenapa kamu diam saja?" ulang Devano. Karna Nadira hanya diam sambil menatap ke arah luar jendela. Pria itu menatap wajah Nadira yang sedikit cemberut. Membuat Devano sadar jika mungkin saja Nadira mengira jika sejak tadi dirinya sibuk berbalas pesan dengan wanita lain..Padahal itu bukan siapa-siapa. Melainkan Reza.


"Sayang, Kamu cemburu ya?" tanya Devano yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaran Nadira. Namun Nadira hanya diam tak membalas sepatah katapun. Mulutnya sedikit manyun, Serta raut wajahnya seperti kehilangan mood.


Melihat Nadira seperti itu membuat Devano mengulum bibirnya, Dari sini Devano paham jika saat ini istrinya sedang cemburu. Padahal orang yang sudah berhasil membuatnya cemburu hanyalah seorang Reza.


"Kata orang cemburu itu tandanya cinta, Lalu saat ini istriku sedang cemburu. Apa itu artinya istriku mencintaiku ya" kata Devano tepat di telinga kiri Nadira. Namun wanita itu masih diam. Tidak menoleh ke arah Devano apalagi menjawab perkataannya.


"Aku aku perhatiin. Sepertinya kamu lebih cantik dengan ekspresi cemburu seperti ini deh, Sayang. Selain cantik, Wajah kamu juga terlihat semakin imut" kata Devano lagi.


Mendengar itu membuat Nadira menoleh pada Devano"Dasar tidak jelas. Kenapa tidak di teruskan saja chattingan nya. Aku tidak masalah" ujar sambil cemberut.


Devano tak menjawab. Pria itu hanya mengambil ponselnya lalu memberikan ponsel itu pada Nadira"Baca, Sayang" gumam Devano sembari menyodorkan ponselnya pada Nadira.


Kedua mata Nadira terbuka lebar saat membaca nama yang tertera di layar ponsel Devano. Dengan nama "KAWAN MONYET"


"Kawan monyet? Siapa dia?" tanya Nadira pada Devano.


"Baca saja dulu isi pesannya. Biar kamu tau siapa yang di maksud kawan monyetku" balas Devano sambil terus mengulum bibirnya.


Akhirnya Nadira tak lagi banyak bertanya. Wanita itu langsung membaca semua pesan yang Devano kirim beserta balasannya.


Devano:Terimakasih karna sudah mau membantuku, Reza. Tanpa bantuan dari kamu, Risa dan juga yang lain, mungkin semua rencana ini tidak akan berhasil. Sebagai imbalannya, aku akan membantu kamu agar bisa dekat dengan Risa


Kawan Monyet:Sama-sama Dev, Aku juga ikut bahagia dengan keberhasilan ini. Sepertinya itu imbalan yang cukup menarik. Jangan lupa usahakan agar kami bisa sampai kejenjang selanjutnya. Seperti kamu dan juga Nadira.

__ADS_1


__ADS_2