
"Apa itu artinya kita gagal malam pertama, Sayang?" tanya Devano yang terdengar sangat lirih sambil menoleh pada Nadira.
"Di saat seperti ini masih sempat-sempatnya oppa mikirin malam pertama. Astaga oppa, Kita kesampingkan dulu ya, Ini demi nyawa seseorang" balas Nadira pelan.
"Baiklah"
Devano ikut berdiri. Mengambil pakaian dari dalam lemarinya. Tak butuh waktu lama, Mereka berdua sudah siap dengan pakaiannya seperti semestinya.
"Yah gagal deh malam pertamanya" batin Devano sambil menggunakan hoodie hitam.Tiba-tiba saja perkataan Dion tadi terngiang begitu saja.
Jangan lupa sholat sunah sebelum melakukannya ha, Van. Agar tidak ada setan dan juga gangguan lainnya
Kata-kata itu tiba-tiba saja terngiang pada indra pendengaran Devano"Astaga, Apa ini salah satu gangguan yang di maksud Dion, Ahh. Tau gitu tadi aku sholat sunah dulu. Ini semua gara-gara aku yang terlalu berburu-buru" batinnya lagi. ..
"Sudah siap kan, Oppa? Kita berangkat sekarang ya" ujar Nadira dan langsung berjalan keluar dari dalam kamarnya. Devano mengekor di belakang Nadira sambil terus mengambil nafas dalam. .
Saat sudah tiba di bawah, Ternyata disana masih rame seperti sebelumnya. Mereka belum pada tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 22:30, Sudah sangat larut malam.
"Mau keman kalian? Kenapa sudah rapi saja. Malam-malam begini lagi" kata Cristy saat melihat Devano dan juga Nadira sudah siap.
"Kita mau ke rumah sakit ma" balas Nadira pelan.
Mendengar kata rumah sakit membuat semua orang yang ada di sana mengerutkan keningnya, Merasa penasaran untuk apa mereka berdua mau ke rumah sakit tengah malam seperti ini.
"Siapa yang sakit, Dir?" Cristy yang merasa begitu penasaran langsung bangun dari duduknya. Bahkan bukan bukan hanya Cristy, Lina dan juga yang lain ikut berdiri.
__ADS_1
"Widia, Ma. Nadir juga tidak tau pasti bagaimana kejadiannya, Tapi yang jelas, Keadaan Widia sangat memperihatinkan. Ini juga salah satu insiden yang membuat Devano juga Nadira sampai telat pulang kemaren"
Bella yang mendengar nama Widia sontak membuatnya mendekat pada Nadira"Widia? Maksud kamu Widia-" perkataannya terpotong karna Nadira cepat menimpalinya.
"Iya, Widia sahabat kita waktu SMA. Mantan istri Nathan. Orang yang sudah menusukku dari belakang" sergah Nadira pelan
"Lalu kenapa kamu masih mau perduli sama dia, Nad. Ingat, Karna dia kamu merasakan bagaimana rasanya kecewa dan luka secara bersamaan" ujar Bella sambil menepuk pundak Nadira.
Mendengar itu membuat Nadira mengambil nafas dalam, Jika di pikir memang apa yang di katakan Bella ada benarnya. Tapi apakah kita juga harus melakukan hal yang sama? Apakah semua itu harus kita balas pada orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati?
"Bell, Aku tau memang Widia pernah menggores luka dan menanamkan rasa kecewa, Tapi apa aku harus membalas rasa kecewa itu pada orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati? Bell, Biar bagaimanapun dia pernah menjadi sahabat kita, Orang terdekat kita. Jangan hanya mengingat satu kejadian sampai membuat kita melupakan kejadian yang lainnya. Sudahlah, Semua sudah berlalu dan hanya menjadi masa lalu" kata Nadira sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Jadi lebih baik untuk saat ini kita lebih utamakan kemanusiaan. Aku tau memang tak semudah itu memaafkan, Tapi setidaknya jangan sampai hal itu membuat kita ikut menjadi jahat. Ambil saja hikmah dari semua kejadian masa lalu" ujar Nadira lagi
"Baiklah. Kalau begitu aku ikut. Aku juga ingin tau bagaimana keadaan Widia saat ini. Aku akan mencoba melupakan yang sudah berlalu, Jika kamu saja bisa memaafkan, Kenapa aku nggak. Sebentar aku ganti baju dulu"
Dengan langkah berat mau tidak mau Dion akhirnya mengganti baju. Walaupun sebenarnya dia masih sangat enggan untuk bertemu dengan Widia. Jangankan bertemu, Mendengar namanya saja sudah membuatnya merasa sangat muak.
"Oke, Aku ikut. Tapi aku tunggu di luar saja ya" kata Dion sembari mengekor di belakang Bella.
"Pasti Dion sangat enggan untuk ikut ke rumah sakit" ujar Nadira dalam batinnya.
Memang selama ini Dion tidak pernah mengatakan apa-apa pada Bella kenapa dia sangat tidak menyukai Widia. Hanya Nadira satu-satunya orang yang tau apa alasan yang sebenarnya.
*
__ADS_1
*
*
Nadira berjalan cepat saat sudah samapi di halaman rumah sakit. Saat mendengar perkataan suster yang tadi menghubunginya, Membuat Nadira merasa panik dan khawatir. Biarpun hatinya sudah pernah di buat kecewa, Namun untuk saat ini Nadira tidak mau mengingat hal itu lagi.
"Pelan-pelan jalannya sayang" kata Devano sambil mengejar Nadira yang sudah lebih dulu melewati setiap koridor di sana.
"Oppa, Apa kamu lupa tadi suster bilang kit tidak boleh datang terlambat. Kalau sampai kita terlambat, Nanti yang ada Widia tidak tertolong" kata Nadira sambil terus mempercepat langkahnya menuju ruangan ICU. Karna memang saat ini Widia sedang di rawat di ruangan itu sejak malam kemaren.
"Bagaimana, Nona. Apa anda sudah menemukan donor darah AB- untuk pasien?" tanya salah satu suster yang ada di sana.
"Ambil cepat darah saya, Sus. Kebetulan darah saya adalah AB-. Ambil sebanyak yang di butuhkan, Pastikan Widia tertolong" kata Nadira pada suster itu.
Devano yang mendengar langsung menarik tangan Nadira"Sayang. Apa-apaan kamu. Kenapa harus kamu yang mendonorkan darah?" protes Devano yang tidak terima
"Sudah tidak apa-apa, Oppa. Apa kamu mau aku menyesal jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada Widia. Jadi biarkan aku melakukan tugasku, anggap saja ini bentuk perikemanusiaan"
Setelah mengatakan hal itu. Nadira mengekor di belakang suster yang tadi, Menuju ruangan IGD untuk di ambil darahnya sesuai dengan kebutuhan Widia.
Devano memilih diam di sana. Menatap punggung Nadira yang sudah masuk ke dalam ruangAN IDG yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.
Bella yang melihat Devano membuatnya mendekat sambil menepuk pelan pundaknya"Tidak perlu heran, Karna memang Nadira orangnya sebaik itu. Dia memiliki hati seperti malaikat yang bisa sangat mudah memaafkan orang lain, Melupakan apa yang sudah pernah orang lain lakukan padanya" terang Bella sambil menatap Devano.
"Ingat kak, Dia wanita yang mudah rapuh, Mudah luka, Mudah kecewa. Tapi dia juga mudah memaafkan. Satu pesanku, Jangan pernah kecewakan Nadira, Karna biarpun dia mudah memaafkan, Dia sangat tidak mau jika harus mengulang dengan orang yang sudah pernah melukainya" kata Bella lagi.
__ADS_1
"Aku janji, Mulai malam ini tidak akan pernah membuatnya kecewa, Bella. Akan aku jadikan Nadira ratu, Seperti semestinya. Karna jujur saja, Aku sudah sangat mencintainya. Walaupun aku tidak tau sejak kapan rasa ini ada" balas Devano pelan.