Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Dia orangnya


__ADS_3

"280.000 yen" ucap pria yang baru saja masuk dan masih berdiri di ambang pintu.


Semua mata tertuju pada sosok itu. Kedua matan Nadira memicing saat melihat siapa yang saat ini menjadi pusat perhatian semua orang. Badannya tinggi tegap, Matanya lebar namun cenderung sipit, kulitnya putih, Hidungnya mancung. "Pak Devano" ujar Nadira dalam batinnya.


Ya, Pri itu adalah Devano. Sosok menyebalkan yang sering menguji kesabaran Nadira selama ini. Namun sosok itu tanpa sadar selalu mampu membuatnya mengukir senyum.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" batin Nadira lagi sambil terus menatap sosok yang saat ini masih berdiri di sana.


"Woww. 280.000 yen. Ada yang menawar lagi?" tanya Zein sambil menatap orang-orang yang ad di sana. Namun tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Termasuk Nathan. Namun Nathan menatap tidak suka pada Devano.


"Ck! Orang ini sudah berhasil merebut hal yang seharusnya menjadi milikku" ucap Nathan pelan sambil menatap Devano.


"Baik. Kalau sudah tidak ada yang mau menawar, Saya kunci. Selamat kepada Devano wardana" ucap Zein sambil menoleh pada Devano.


Mendengar perkataan Zein membuat kedua orang tua Devano yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya membalikkan tubuhnya dan menatap pada Devano.


"Mom, Itu Devano. Kapan dia datang kesini?" tanya Wardana pada Lina.


"Iya, Dad. Kapan Devano datang kesini" bukan hanya Nadira yang bertanya-tanya kapan Devano sampai di sini, Melainkan kedua orang tuanya juga ikut bertanya-tanya. Sebab Devano memang tidak pernah mengatakan jika akan datang ke Tokyo.


Lina bangun dari duduknya"Dav, Kamu kesini kenapa tidak mengabari mommy atau pun Daddy? Kapan kamu sampai?" tanya Lina setelah sampai di sana sambil menatap Devano.


Devano tersenyum"Dev baru sampai tadi jam 2 pagi, Mom. Devano memang sengaja tidak mengatakan pada mommy ataupun daddy. Karna Devano mau memberikan kejutan. Mommy sama Daddy juga ada di sini?"balas Devano sambil memeluk mommy nya.


Nadira mengerutkan keningnya saat melihat Lina di peluk oleh Devano"Jangan bilang anaknya tante Lina sama om Wardana adalah dia" serunya sambil terus memperhatikan Devano.

__ADS_1


Devano masih belum menyadari keberadaan Nadira di sana. Bahkan pria itu tidak tau jika sejak tadi Nadira sudah menatapnya. Kalau sampai Devano menyadari akan hal itu, Nanti yang ada pria itu akan besar kepal.


Wardana yang menyadari tatapan Nadira tentu saja merasa sangat penasaran. "Ada apa, Nadira?" tanya Wardana sambil menatap Nadira.


Suara wardana berhasil menyadarkan Nadira. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menoleh pada Wardana yang memang duduk di sampingnya.


"Oh tidak apa-apa, Om. Pria itu siapanya om?" Nadira langsung bertanya pada Wardana karna sejak melihat Lina memeluk Devano terbesit rasa ingin tau dari dalam benaknya.


Wardana mengangkat kedua sudut bibirnya"Menurut kamu dia mirip sama om atau tidak?" bukannya menjawab Wardana malah balik tanya pada Nadira.


Pertanyaan Wardana membuat Nadira merasa bingung. Wanita itu menatap wajahnya dan wajah Devano secara bergantian.


"Sedikit mirip tapi lebih baik om sih dari pada pria menyebalkan itu" jawab Nadira yang memang masih merasa kesal akan Devano


"Pria menyebalkan? Memangnya kamu mengenalnya?" tanya Wardana lagi.


Di Tempat lain.


"Mama" panggil Alex saat baru saja masuk ke dalam rumah orang tuanya.


Suara Alex membuat Isma yang sedang sibuk membaca koran menurunkan koran itu, Ini adalah pagi pertama Alex kembali ke rumah setelah perpisahannya dengan Farah beberapa hari yang lalu.


"Alex. Kenapa kamu datang seorang diri, Mana Farah?" tanya Isma sembari menoleh ke arah pintu. Karna memang orang pertama yang Isma tanyakan selalu Farah. Isma tidak pernah menganggap Farah sebagai menantunya, Karna baginya, Farah sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Alex, Kenapa kamu diam saja? Dimana Farah, Kenapa dia tidak ada, Apa Farah masih di luar?" tanya Isma lagi saat melihat Alex masih diam tak menjawab apapun dari setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh sang mama.

__ADS_1


Isma yang merasa ada yang aneh dengan Alex tak lagi bertanya, Wanita paruh baya itu bangun dari duduknya dan berniat melihat Farah di depan. Namun langkahnya terhenti saat suara Alex menerpa indra pendengarannya.


"Tidak perlu keluar, Ma. Karna wanita itu tidak ada di sana"


Perkataan Alex tentu saja membuat Isma merasa cukup bingung, Langkahnya langsung terhenti di sana. Isma membalikkan tubuhnya menatap pada Alex yang masih berdiri di tempatnya.


"Kenapa Farah tidak ikut? Bukan kah mama sudah mengatakan untuk kamu selalu membawa dia kalau datang kesini" ujar Isma pada Alex


"Mama, Sebenarnya aku-" perkataannya masih terhenti. Karna Alex cukup merasa bingung dengan Alasan yang tepat. Alex sadar jika sang mama memang begitu menyayangi mantan istrinya. Istri terbaik pilihan mamanya yang dia sia-siakan selama ini.


"Aku apa?" Isma bertanya lagi sambil menatap Alex.


Alex masih terdiam, Entah kenapa lidahnya mendadak terasa begitu kelu untuk mengatakan pada sang mama apa yang sudah dia lakukan terhadap Farah.


"Kenapa kamu diam saja, Alex. Aku apa?" ulang Isma lagi.


Alex mengambil nafas dalam dalam lalu membuangnya kasar. Alex menatap raut wajah sang mama"Alex dan Farah sudah bercerai, Ma. Maafkan Alex yang mungkin perkataan Alex ini membuat mama kecewa" terang Alex sambil menundukkan wajahnya.


Betapa terkejutnya Isma dengan berita yang dia dengar barusan"Jangan bercanda, Alex. Kamu hanya ingin mengerjai mama saja kan?" tanya Isma yang masih tidak begitu yakin.


"Alex tidak sedang bercanda, Ma. Ini memang kenyataan. Maafkan Alex yang terpaksa menalak Farah"


"Kenapa kamu melakukan itu, Alex! Apa kamu lupa jika mama sudah sangat menyayangi Farah. Buat mama, Farah bukan sekedar menantu, Tapi sudah seperti anak sendiri. Kalau bukan karna Farah, Mungkin mama sudah tidak ada di dunia ini lagi, Alex. Apa kamu lupa kejadian 5 tahun yang lalu. Hah!" Isma benar-benar marah saat mendengar Alex sudah menalak Farah.


"Alex melakukan itu juga karna terpaksa, Ma. Alex harus bagaimana saat melihat wanita itu berselingkuh dan berduaan dengan pria lain di dalam kamar. Apa Alex harus diam saja" Alex sudah mulai memasang wajah tersakiti di depan sang mama. Namun bukan Ism namanya jika langsung percaya begitu saja terhadap apa yang dia dengar dari Alex.

__ADS_1


"Farah tidak mungkin seperti itu" batin Isma sambil menatap Alex.


__ADS_2