
Setelah Devano menekan tombol kecil yang ada di samping lemari penyimpanan lukisan, Devano melebarkan kedua matanya tatkala melihat lemari itu terbuka membelah dua. Ternyata di sana ada sebuah ruangan bawah tanah. Terlihat anak-anak tangga yang mengarah pada ruangan di bawah sana.
"Ruangan bawah tanah. Jangan-jangan om Adam menyembunyikan mamanya Nathan di sana" ujar Devano sambil menatap ruangan bawah tanah yang terlihat gelap.
Devano memanggil yang lain untuk ikut masuk ke ruangan itu. Jalannya cukup sempit, Namun siapa sangka jika di bawah ada sebuah ruangan yang nampak terlihat sangat indah.
"Pintu apa itu, Tuan muda?" kata Firman sambil melirik pada Devano
"Entahlah, Om. Lebih baik kita buka sekarang. Siapa tau saja di sana ada mamanya Nathan" balas Devano
Om Firman langsung meminta anak buah yang lain untuk membuka pintu ruangan itu. Setelah pintu terbuka, Ternyata memang benar, Di sana terlihat seorang wanita paruh baya dengan kedua mata yang terlihat menatap kosong pada benda yang ada di depannya.
"Mama" ujar Nathan sembari berlari menuju tempat sang mama. Setelah satu tahun lebih, Akhirnya hari ini Nathan kembali bisa melihat sosok mama yang selama ini Nathan rindukan. Dan semua itu berkat Devano. Jika saja tadi mereka langsung pergi tanpa mengecek kembali, Mungkin saat ini Nathan masih belum bisa bertemu dengan sang mama.
Nathan memeluk erat Rianti, Namun mamanya sama sekali tidak memberi respon. Tatapannya tetap saja terlihat sangat kosong. Bahkan kedua sudut matanya terlihat berair.
Melihat itu membuat Nathan merasa tidak paham. Ada apa dengan sang mama sebenarnya. "Ma, Mama tidak merindukan Nathan?" ujar Nathan sambil terus memeluk sang mama. Namun Rianti masih tak memberikan respon apapun.
"Pa, Ada apa dengan mama? Kenapa mama hanya diam saja seperti ini, Pa?" tanya Nathan sambil menoleh pada Antonio.
Antonio tak menjawab, Karna jujur saja dia juga tidak paham ada apa dengan istrinya. Kenapa tatapannya kosong serta tidak memberikan respon sedikitpun.
"Sepertinya om Adam sudah memberikan obat yang bisa membuat mama kamu jadi seperti ini, Nathan" perkataan Devano membuatnya menoleh"Apa maksud kamu, Dev?" tanya Nathan yang masih tidak terlalu paham dengan kalimat yang baru saja terlontar dari Devano.
"Menurut pemahamanku terhadap kondisi mama kamu, Sepertinya mama kamu sebelumnya pernah di berikan sebuah obat yang bisa mengakibatkan sebuah gangguan mental jika di konsumsi secara terus-menerus" kata Devano yang mencoba mengatakan apa yang bisa dia lihat dari kondisi mamanya Nathan. Bukan tanpa sebab Devano berkata demikian. Karna sejak tadi Devano memperhatikan mamanya Nathan ciri-cirinya sama persis dengan salah satu temannya yang pernah menjadi korban perundungan.
__ADS_1
Mendengar itu tentu saja membuat Nathan mengepalkan kuat kedua tangannya. Bahkan bukan hanya Nathan, Tapi Antonio juga melakukan hal yang sama. "Jadi selama ini Adam sudah membohongiku. Dia mengatakan tidak akan menyakiti istriku, Tapi apa yang sudah dia lakukan!" kata Antonio dengan amarah yang sudah berkobar.
Setelah melihat keadaan istrinya serta apa yang Devano katakan, Membuat Antonio tersulut emosi yang membara seketika itu.
"Kita tidak bisa membiarkan semua ini, Pa. Sudah cukup selama ini kita diam dan membiarkan Adam melakukan apa yang dia inginkan. Akan Nathan pastikan, Dia menyesali apa yang sudah Adam lakukan terhadap mama" kata Nathan sambil menatap sang papa dengan mata merahnya.
"Sudah, Lebih baik sekarang kita segera bawa mama kamu keluar dari sini, Sebelum orang-orang om Adam sadar" ucap Devano pada Nathan dan Antonio
Akhirnya mereka semua keluar dari sana sebelum anak buah Adam sadar dari pingsannya. Setelah mereka tiba di luar, Ternyata benar saja. Satu persatu dari mereka sadar dan membuat anak buah Devano harus kembali menghadapi mereka.
Beruntung karna di saat yang bersamaan, Polisi datang dan langsung membuat anak buah Alex terkejut. Mereka mencoba kabur dari sana. Namun para polisi itu berhasil menangkap dan mengamankan mereka. Biarpun ada satu orang yang berhasil kabur dari sana.
"Terimakasih atas kerjasamanya" ujar salah satu polisi itu pada Devano"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu" Devano beserta yang lain sudah beranjak dari sana.
📱:Halo, Ada apa menghubungiku?
📱:G-gawat tuan
📱:Gawat? Gawat kenapa? Bicara yang jelas
📱:Mereka berhasil mengambil tawanan. Dan saat ini anak-anak yang lain sudah di tangkap oleh polisi
📱:Apa!!! Dasar tidak berguna. Bagaimana bisa hal itu terjadi?
📱:Semua ini karna Devano. Saran saya, lebih baik untuk sementara waktu tuan bersembunyi, Karna pihak polisi juga akan menangkap tuan sebagai ketua dari kami.
__ADS_1
📱: Benar-benar tidak berguna!!
Adam memutuskan sambungan telponnya. Mungkin apa yang di katakan oleh anak buahnya ada benarnya, Adam perlu bersembunyi untuk beberapa waktu.
"Kurang ajar Devano. Dia selalu ikut campur dengan urusanku. Awas saja nanti, Akan ada masanya aku kembali dan melanjutkan obsesiku untuk menghancurkan keluargamu. Dasar tidak berguna" umpat Adam yang terlihat sangat kesal.
Adam memutar balik laju mobilnya, Saat ini yang ada dipikirannya adalah pergi sejauh mungkin, Agar para polisi tidak bisa menemukan keberadaannya. Dan Adam bisa terbebas untuk sementara waktu. Setidaknya sampai obsesi itu bisa dia lakukan.
Selama perjalanan, Ada rasa kesal yang begitu besar dari dalam hatinya. Karna semua yang dia rencanakan berantakan karna ulah dari Devano. Anak dari laki-laki yang begitu iya benci.
"Arrrrggghhhhhh, Brengsek kalian. Awas saja nanti, Saya akan membalas semua ini" kata Adam sambil terus melajukan mobilnya.
Setelah tiba di rumahnya, Adam langsung turun dari dalam mobilnya, Berjalan dengan langkah lebarnya masuk ke dalam mansion nya.
"Papa sudah pulang?"tanya Melati saat melihat kedatangan suaminya. "Cepat mama bereskan barang-barang kita. Sebentar lagi kita akan segera ke keluar negri" kata Adam dan langsung naik ke atas.
Melati mengekor di belakang Adam. Wanita paruh baya itu tentu saja merasa penasaran, Kenapa tiba-tiba saja suaminya meminta untuk membereskan barang-barang mereka.
"Memangnya ada apa, Pa? Kenapa tiba-tiba papa mau mengajak mama ke luar negri?" tanya Melati sambil mengikuti langkah Adam.
"Tidak usah banyak tanya, Mama hanya perlu membereskan semua barang-barang kita"
"Lalu bagaimana dengan Risa? Kita saja masih belum tau di mana keberadaan Risa"Melati mengambil nafas dalam saat mengingat Risa.
"Itu biar jadi urusan papa. Mama cepat bereskan semua barang-barang kita. 2 jam lagi kita berangkat"
__ADS_1