
"Kurang ajar! Kenapa bisa jadi seperti ini? Kenapa tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya pikirkan" ucap Adam di sela langkahnya.
Dari kejauhan Adam sudah bisa melihat jika semua orang sedang berkumpul di pinggir kolam untuk menyaksikan to tontonan gratis di depan mata meraka. Bahkan kejadian itu tentunya sudah di liput oleh beberapa reporter yang memang ikut hadir dalam acara malam ini.
"Apa yang kalian lihat. Bubar-bubar. Ini bukanlah suatu pertunjukan" ujar Adam setelah tiba di sana.
Wajahnya benar-benar terlihat merah saat melihat orang-orang itu sedang membicarakan Risa anaknya.
"Huuuuuuu, Dasar tidak tau malu" ucap salah satu dari mereka dan langsung bubar dari sana.
Risa masih saja diam di dalam kolam itu, Dia tidak menghiraukan jika orang-orang itu memperhatikan nya. Yang ada dalam benak Risa saat ini, Bagaimana caranya agar rasa panas di tubuhnya segera hilang.
"Aduuhhh ada apa denganku. Kenapa rasanya aku menginginkan hal itu" batin Risa
"Apa-apaan kamu, Risa. Naik dan gunakan bajumu" kata Adam setelah tiba di sana. Namun Risa sama sekali tak menggubrisnya.
"Risa! Kamu dengar papa kan?"
Suara bentakan Adam berhasil menyadarkan Risa"Tidak bisa, Papa. Tubuh Risa rasanya sangat panas. Biarkan Risa berendam di sini" balas Risa sambil menoleh pada sang papa.
"Risa!! Papa bilang naik, Ya naik! " bentak Adam lagi
Bentakan itu seketika langsung mampu membuat air mata Risa meluruh begitu saja"Papa bentak Risa? Selama bertahun-tahun, Ini baru pertama kalinya papa bentak Risa"
Reza yang melihat raut sedih wajah Risa membuatnya turun. Pria itu membuka jasnya lalu menutup tubuh Risa. "Pakailah ini, Jangan biarkan mereka melihat tubuhmu yang seperti ini" ucap Reza pada Risa.
Setelah melihat Risa naik, Adam menarik tangan Melati dan membawanya keluar dari gedung itu. Tangannya mengepal kuat, Kedua matanya terlihat sangat merah. Kenapa malam ini justru keluarganya sendiri yang mendapatkan kesialan.
__ADS_1
"Arrggggghhh. Benar-benar di luar rencana" ucapnya setelah sampai di dalam mobilnya.
Mendengar itu membuat Melati mengambil nafas panjang, Wanita itu menatap suaminya yang sudah tersulut emosi.
"Pa, Mau sampai kapan papa akan berusaha menghancurkan keluarga Wardana? Mau sampai kapan, Pa? Sudahlah, Pa. Sudahi saja semua obsesi yang kamu miliki. Apa belum cukup semua yang sudah kamu lakukan? Mau sampai kapan?" tanya Melati sambil menatap Adam.
"Sampai papa bisa benar-benar melihat keluarga mereka hancur, Ma. Karna apa yang papa lakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah terjadi pada hidup papa selama ini. Mama tau bukan, Bagaimana papa melalui masa kecil papa. Karna mama nya Wardana, Papa harus kehilangan mama. Karna dia, Papa kehilangan hal yang seharusnya menjadi milik papa" ucap Adam pada Melati.
Hal itu membuat ingatan Adam kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu.
Flashback 40 tahun yang lalu
"Ayah, Tolong bawa mama ke rumah sakit" pinta Adam kecil pada sosok yang dia panggil ayah. Bagas namanya,
"Tidak perlu, Karna Bundamu sudah ayah berikan obat dari dokter. Nanti juga akan sembuh. Kamu jaga bunda, Karna papa mau mengantar mama Hera buat periksa kandungan" balas ayahnya pada Adam
Dengan terpaksa, Bagas menikahi Fatimah, Adik kandung dari Hera sendiri. Karna Hera yakin jika adiknya bisa menjadi pengganti yang baik untuk menjaga suami serta anaknya..
Setelah 3 bulan menikah, Fatimah di nyatakan hamil. Bagas pun sudah mulai mencintai istri keduanya yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Bulan dan bulan berlalu, Tepat di saat Adam merasakan jika kondisi sang bunda sangat menghawatirkan, Anak itu meminta pada sang ayah untuk membawa bunda nya ke rumah sakit. Namun di saat yang bersamaan, Fatimah juga harus periksa ke rumah sakit karna merasa perutnya sakit. Memang sudah waktunya persalinan.
"Ayolah, Ayah. Adam mohon, Bawa bunda ke rumah sakit" pinta Adam lagi dengan sangat memohon.
"Nanti, Ya. Nak. Untuk saat ini ayah harus mengantar mama Fatimah dulu. Dia mau melahirkan" balas Bagas dan langsung berlalu dari hadapan Adam dengan membawa Fatimah.
Melihat itu membuat Adam mengepal kedua tangannya. Karna sang ayah lebih memprioritaskan mama Fatimah dari pada bunda nya.
__ADS_1
"Kalau sampai bunda ku kenapa-napa. Aku tidak akan pernah memaafkan wanita itu" ucap Adam dan kembali masuk ke dalam kamar sang bunda.
"Bunda, Bunda gak papa kan?" tanya Adam saat melihat ekspresi sang bunda yang terlihat sedang menahan rasa sakit.
Mendengar suara Adam, Hera berusaha untuk menormalkan ekspresi nya"Bunda tidak apa-apa kok sayang. Adam dari mana saja? " balas Hera sambil berusaha tersenyum
"Adam, Kamu makin besar sayang. Ingat pesan bunda ya nak, Kamu harus menjadi orang sukses, Kamu harus bisa berdiri di atas kakimu sendiri"
Tepat setelah mengatakan hal itu, Hera tak lagi bernafas. Hal itu membuat Adam panik.
"Bunda, Bunda bangun, Bunda. Bunda bangun" ucap Adam dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Bunda tolong jangan tinggalkan Adam" ujarnya yang terdengar sangat lirih"
Adam berusaha memberitahu akan kematian sang bunda pada ayahnya. Namun Bagas sama sekali tidak menjawab panggilannya. hingga acara pemakaman selesai, Sang ayah belum juga kembali.
Tepat setelah hari sudah berganti hari, Bagas dan Fatimah sudah kembali dengan membawa bayi di antara mereka.
Sejak hari itu, Adam dendam terhadap mama tiri juga adik tirinya yang bernama Wardana. Karna kehadiran Wardana, Adam kehilangan segalanya.
Semakin hari, Adam merasa semakin kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Karna Bagas selalu memprioritaskan Wardana dari pada Adam.
Rasa benci yang Adam miliki jadi semakin besar. Adam selalu ingin mendapatkan apapun yang Wardana miliki. Begitu banyak obsesi yang terbesit dalam benaknya. Adam ingin melihat kehancuran dari Wardana. Karna menurutnya, Wardana dan mamanya adalah sumber hilang nya kebahagiaan Adam selama ini. Adam ingin Wardana juga merasakan apa yang selama ini dia rasakan.
Flashback off
"Sudahlah, Pa. Hilangkan semua dendam itu. Hal itu hanya akan membuat papa kehilangan satu persatu orang terpenting dalam hidup papa"
__ADS_1
suara itu berhasil menyadarkan Adam dari kejadian masa kecilnya. "Sampai kapanpun papa tidak akan pernah berhenti. Sebelum papa bisa melihat kehancuran keluarga Wardana" balasnya dengan mata merahnya