Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Malioboro


__ADS_3

"Siapa yang sudah mengatakan jika kamu tidak pantas untukku?" tanya Zein sambil menarik tanga Ratna.


"Bunda kamu" balasnya tanpa menoleh pada Zein. Cukup terkejut dengan jawaban yang terlontar dari mulut Ratna. Tidak pernah menyangka jika sang bunda yang sudah membuat keadaan ini berubah.


"Apa!! Jadi semua ini karna Bunda" kata Zein sambil menatap punggung Ratna yang sudah kembali masuk ke dalam panti.


Ratna masuk ke dalam panti tanpa menoleh pada Zein. Setelah itu, Zein memutuskan untuk kembali ke rumah. Kali ini Zein benar-benar harus bicara dengan sang bunda. Karna mau bagaimanapun, Seharusnya Mariana tidak lagi ikut campur akan urusan Zein. Bukan kah Zein sudah dewasa. Dia sudah bukan lagi anak kecil yang harus di atur olehnya.


"Bunda, Kali ini bunda harus aku tegor. Apa-apaan bunda mengatakan semua itu pada Ratna" kata Zein sambil berjalan dengan langkah lebarnya masuk kedalam mobil.


Pria itu langsung menyalakan mobilnya lalu melajukan mobil itu pergi dari halaman panti asuhan. Yang ada di benaknya saat ini adalah bicara empat mata dengan Mariana.


Zein melajukan mobilnya di atas rata-rata. Beruntung karna jalanan tidak terlalu padat, Membuat Zein hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di kediaman kedua orang tuanya.


"Bunda...Bunda...." teriak Zein sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Bunda....Bunda....Bunda..." panggil Zein lagi.


Mariana yang mendengar suara Zein memanggilnya membuat wanita paruh baya itu keluar dari dapur. Karna sejak tadi Mariana sedang sibuk memasak untuk menyambut kedatangan seseorang. Seseorang yang tak lain adalah seorang gadis yang sudah Mariana jodohkan dengan Zein.


"Ada apa sih, Zein? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu? Ada apa?" tanya Mariana sambil menatap Zein yang sudah terlihat sangat marah.


"Apa maksud bunda bilang seperti itu sama Ratna?" tanya Zein sambil menatap pada sang bunda.


Mariana masih berusaha pura-pura tidak mengerti dengan apa yang Zein tanyakan. Wanita paruh baya itu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Zein. Dari mana saja kamu, Zein. Kenapa baru pulang?" ujar Mariana yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Zein masih menunjukkan raut wajah marahnya. Pria itu menatap tajam sang bunda "Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Bunda. Jawab pertanyaan Zein. Apa maksud bunda berkata seperti itu terhadap Ratna?" tanya Zein sambil terus menatap Mariana.


"Apa maksud kamu, Zein. Memangnya apa yang sudah bunda katakan" Mariana berusaha untuk tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang baru saja terlontar dari Zein.


Mariana yang ingin menghindari pertanyaan itu akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke dapur dan melanjutkan kegiatan masaknya kembali.


Namun langkahnya terhenti saat Zein mencoba mengancamnya"Jangan pura-pura tidak mengerti, Bunda. Zein tau sebenarnya bunda paham apa maksud dari perkataan Zein. Tolong jelaskan, Kenapa bunda bisa berkata jika Ratna dan Zein seperti langit dan bumi. Memangnya apa yang membedakan. Kami berdua hidup di atas bumi yang sama. Lalu apa yang membedakan?" tanya Zein pada Mariana.


Mendengar pertanyaan Zein membuat Mariana membalikkan tubuhnya"Tentu saja beda, Kita siapa dia siapa. Wanita itu sama sekali tidak pantas bersanding dengan kamu, Zein. Karna dia bukanlah siapa-siapa" kata Mariana


"Apa mama tau siapa wanita yang mama bilang bukan siapa-siapa? Dia adalah ibu dari anak ku, Ma" Zein yang memang belum sempat mengatakan pada Mariana. Akhirnya memutuskan untuk mengatakannya. Apalagi saat mendengar apa yang sudah di katakan oleh Mariana.


Hal itu tentu saja membuat Mariana tidak langsung paham. Wanita itu mengerutkan kecil keningnya sambil menatap pda Zein. "Apa maksud perkataan kamu, Zein?" tanya Mariana.


"Anak. Jadi Zein memiliki anak dengan wanita itu" ujar Mariana sambil menatap punggung Zein.


*


*


*


Tanpa terasa Devano, Nadira dan juga yang lain sudah sampai di Jogja. Mereka semua keluar dari dalam mobilnya setelah mobil itu terparkir di salah satu hotel yang sudah di siapkan oleh Firman.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan" ujar Firman sambil menundukkan wajahnya sopan.


"Terimakasih, Firman." balas Wardana sambil menatap Firman.


Sedangkan Devano dan juga Nadira. Setelah sampai di hotel, Mereka masih tidak langsung keluar dari salam mobilnya, Devano meminta Dito untuk turun, Kemudian kembali melajukan mobilnya keluar dari halaman hotel. Untuk kali ini Devano memutuskan untuk membawa Nadira ke salah satu tempat yang selalu terlihat sangat indah saat malam hari. Tempat yang selalu terlihat ramai.


Nadira yang belum mengetahui kemana Devano akan membawanya tentu mengerutkan keningnya. Nadira cukup penasaran saat tiba-tiba saja Devano membawanya pergi.


"Oppa, Kita mau kemana?" tanya Nadira sambil menatap Devano yang sudah sibuk dengan stir mobilnya.


"Malioboro, Sayang. Kamu belum pernah ke tempat itu kan?" kata Devano sambil sekilas melirik pada Devano.


Mendengar kata Malioboro tentu saja seketika membuat Nadira mengangkat kedua sudut bibirnya. Pasalnya selama ini Nadira memang ingin melihat Malioboro saat sedang malam hari.


"Benarkah? Asiikkkk. Nanti aku mau makan gudeg ya, Oppa" ucapnya yang menampakkan raut wajah bahagianya


Devano ikut tersenyum saat melihat raut wajah bahagia yang Nadira tampakkan. "Tentu, Sayang. Nanti kamu bisa makan makanan khas jogja sepuasnya" balas Devano.


Setelah itu mobil kembali senyap. Nadira memilih fokus melihat jalanan sambil membuka jendelanya. Sedangkan Devano memutuskan untuk fokus mengemudi.


15 menit kemudian, Mobil itu sudah sampai di tempat yang mereka tuju, Yaitu Malioboro. Devano mencari tempat parkir yang pas.


"Sayang, Kita jalan kaki saja ya. Biar kamu bisa langsung memilih kuliner khas Jogja" kata Devano sambil memarkirkan mobilnya.


Nadira mengangguk cepat"Boleh, Oppa. Kayaknya bakal lebih seru kalau jalan kaki. Kita bisa ngerasain kayak orang pacaran yang lagi ngedate" balasnya yang terlihat sangat antusias.

__ADS_1


Tujuan Devano mengajaknya ke tempat ini memang agar mereka memiliki waktu berdua dan mencoba hal-hal yang belum sempat mereka lakukan sebelumnya" Karna tujuanku mengajak kamu ke tempat ini memang itu, Sayang. Aku mau kita melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang pacaran. Yasudah. Ayo kita turun" Pria itu membukakan safety belt milik Nadira. Kemudian turun dari dalam mobilnya dan membukakan pintu mobil buat Nadira.


"Hati-hati, Tuan putri" gumamnya sambil tersenyum


__ADS_2