Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Bertemu mereka lagi


__ADS_3

Devano yang sejak tadi sibuk memandangi wajah Nadira akhirnya memutuskan untuk membawa masuk wanita itu. Devano memutuskan untuk menunggu Nadira sampai dia bangun.


"Uuuhhhh, Berat juga ini cewek. Bagaimana tidak berat, Makannya saja banyak" ucap Devano sambil membawa Nadira masuk ke dalam hotel itu.


Devano masuk ke dalam lift untuk membawanya menuju kamar hotel VVIP yang ada di lantai 7. Devano membaringkan tubuh Nadira di atas ranjang. Setelah itu Devano ikut merebahkan tubuhnya di samping Nadira. Namun di tengah sudah di batasi dengan bantal guling.


2 jam sudah berlalu, Mereka berdua masih nyaman dan damai dalam tidurnya masing-masing. Bahkan saat ini penghalang di tengah mereka pun sudah tidak ada lagi. Saat ini Devano dan Nadira tidur dengan jarak yang begitu dekat. Tangan kanan Devano melingkar erat pada perut Nadira.


Tak lama kemudian, Nadira menggeliat saat merasa ada tangan kekar melingkar di atas perutnya. Kedua matanya terbuka lebar saat melihat wajah Devano. Nadira langsung bangun dari posisi tidurnya, Menatap sekeliling kamar itu"Ini di hotel. Astaga, Pak Devan mau berbuat mesum apa bagaimana membawa ku ke tempat ini, Jangan bilang dia sudah melakukan yang aneh-aneh padaku" ujar Nadira sambil memperhatikan pakaiannya yang ternyata masih menempel sempurna di tubuhnya. Tidak ada satupun yang aneh.


"Pakaian ku masih aman" ucapnya sambil menoleh pada Devano yang masih lelap dan damai dalam tidurnya.


"Pak bangun. Bangun pak" gumam Nadira sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devano. Namun pria itu sama sekali tidak merasa terganggu. Devano malah menarik tangan Nadira dan membuatnya jatuh dalam pelukannya.


"Tetaplah seperti ini. Aku sangat merindukanmu, Berlian" ucap Devano sambil memeluk erat Nadira.


Nadira hanya bisa diam tanpa menjawab sepatah katapun. Berada di jarak sedekat ini membuat jantung Nadira berdetak sangat cepat. Bahkan detaknya melebihi batas normal pada umumnya.


"Astaga, Ada apa dengan detak jantungku. Kenapa rasanya jantungku berdetak sangat cepat saat berada di posisi sedekat ini dengan pak Devano. Apa aku sudah mulai ada rasa"ucap Nadira sambil terus memperhatikan Devano.


Nadira masih terus menatap wajah Devano. Pria itu memang bukan hanya tampan, Tapi sangatlah tampan.


"Bodoh sekali Ratna mengkhianati pria sepertimu, Pak. Bahkan kamu bukan hanya memiliki paras yang begitu tampan, Kamu juga memiliki hati yang begitu baik. Seandainya aku yang ada di posisi Ratna, Bisa mendapatkan cinta dan semua kasih sayangmu. Pasti aku akan menjadi wanita paling beruntung. Karna bisa memiliki pria yang nyaris sempurna sepertimu" ucap Nadira sambil terus menatap wajah Devano.


Tepat saat Nadira mau membelai rambut Devano, Pria itu membuka kedua matanya. Hal itu tentu saja membuat Nadira tertegun, Salah tingkah itu sudah pasti. "P-pak Devan sudah bangun?" tanya nya terbata

__ADS_1


"Hmmm" balas Devano sambil menatap balik kedua bola mata Nadira.


"Bapak itu tidur apa pingsan sih. Mana meluk-meluk saya lagi. Mau cari kesempatan dalam kesempitan apa bagaimana" Nadira yang sudah salah tingkah akibat Devano hampir memergokinya yang mau membelai rambut Devano.


"Jangan sampai pak Devan menyadari apa yang sudah aku lakukan tadi" batinnya sambil menoleh ke lain arah. Karna Nadira takut jika jantungnya akan semakin tidak aman kalau terus menatap bola mata Devano.


"Saya tidur, Kamu yang pingsan. Sudah saya bangunin berkali-kali juga tapi sama sekali tidak ada sahutan. Dasar kebo!"


"Enak saja mengatakan saya kebo. Yang kebo di sini itu bapak, Bukan saya"


"Kenapa saya pulak"balas Devano sambil bangun dari tidurnya.


"Tak ah. Lebih baik sekarang kita pulang. Ini sudah sore menjelang malam" Kata Nadira sambil menoleh pada Devano.


10 menit kemudian, Mereka berdua sudah keluar dari dalam kamar hotel. Devano sudah membawa barang-barangnya keluar dari sana. Karna mulai hari ini Devano akan menginap di tempat Nadira sesuai permintaan kedua orang tua Nadira siang tadi.


"Devano, Nadira" panggil orang itu


Mendengar itu tentu saja membuat Nadira langsung menghentikan langkah kakinya. Devano juga Nadira membalikkan tubuhnya. Kening mereka berkerut kecil sembari saling lirik.


"Hei kalian. Gak nyangka bisa bertemu di sini. Kalian lanjut honeymoon ya?" tanya salah satu dari orang itu.


Nadira mengangkat kedua sudut bibirnya yang terasa sangat kaku."Kok bisa kebetulan begini, Ya. Bagaimana jamu yang saya berikan hari itu, Mantap bukan?"


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari wanita itu, Nadira kembali menoleh pada Devano. "Alhamdulilah" balas Devano pada akhirnya.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian bisa coba lagi, Kebetulan saya ada produk jamu baru. Kalian mau beli, Kalau mau biar saya ambilkan sekarang" balas Wanita itu yang terlihat sangat antusias.


"Tidak usah" balas Devano dan juga Nadira secara bersamaan.


"Yah kok tidak usah. Saya kasih satu botol gratis buat percobaan. Mau ya"


"Iya mau ya. Ini ramuan buatan istri saya sendiri. Asli bikin makin ehemmm" timpal suaminya.


"Tidak perlu pak, Hendra. Soalnya saat ini saya sedang ada janji temu dengan seseorang" balas Devano cepat


"Saya permisi dulu ya. Ayo sayang"


Setelah mengatakan hal itu, Devano menarik tangan Nadira. Berlalu dari hadapan pak Hendra juga bu Hesti yang sudah nampak kecewa. Ya, Mereka berdua adalah pasangan suami istri yang memberikan Nadira juga Devano jamu saat di bali.


"Tidak apa-apa istriku, Nanti kalau kita bertemu dengan mereka lagi kita coba rayu dan bujuk sampai mau membeli jamu racikan yang kamu buat sendiri ya" ucap suaminya sambil menepuk pundak istrinya.


"Iya, Suamiku. Padahal kita kan niatnya baik, Kenapa mereka malah tidak mau ya" balas istrinya sambil terus menatap punggung Devano juga Nadira yang sudah semakin menjauh. Mereka berdua memang suka traveling dan entah kenapa bisa kebetulan bertemu dengan Devano yang sedang bersama dengan Nadira.


Sedangkan Nadira dan Devano semakin mempercepat langkahnya. Mereka berdua takut jika pasangan suami istri itu akan mengejar dan memaksa mereka seperti saat di bali.


"Kenapa kita malah jadi kek buronan begini sih pak. Astaga" ujar Nadira setelah sampai di dalam mobil


"Entahlah. Kenapa juga harus bertemu dengan mereka lagi. Memangnya dunia sesempit itu" balas Devano


"Makanya. Ini tuh awalnya karna ulah bapak. Coba saja waktu itu pak Devan tidak mengaku-ngaku kita sedang honeymoon, Pasti semuanya tidak akan seperti ini, Kita tidak akan seperti buronan yang harus selalu menghindar saat bertemu dengan mereka" kata Nadira sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ya mana saya tau. Kan waktu itu tidak ada cara lagi selain saya mengatakan kita pengantin baru. Memangnya kamu mau kita tidur di jalan waktu itu"


"Ya gak mau lah pak. Kenapa harus bertemu mereka lagi"


__ADS_2