Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Membeli Sesuatu


__ADS_3

"Devano sama Nadira kemana? Kok mereka ngilang aja" ujar Lina saat tak mendapati keberadaannya Devano dan juga Nadira di dalam hotel itu.


Kedua orang tua Nadira yang mendengar itu ikut menghentikan langkahnya, Mereka menoleh ke sekitar dan memang tidak ada Nadira serta Devano di sana. Karna memang sebelum pergi, Mereka tidak mengatakan apa-apa pada orang tuanya. Devano dan Nadira hanya meminta supir untuk turun kemudian melajukan mobilnya keluar dari halam hotel tempat mereka akan menginap selama acara di Jogja.


"Coba mama telfon,"


Lina mengambil ponselnya, Mencari nomor Devano dan langsung menghubunginya. Tak butuh waktu lama, Devano sudah menjawab panggilannya.


📱:Iya ma, Ada apa?


📱:Halo, Dev. Kamu sama Nadira gak?


📱:Iya, Ma. Kami berdua sedang makan malam di luar. Aku sama Nadira sedang di Malioboro..


📱:Baiklah, Jadi ceritanya kalian sedang kencan berdua sampai tidak mengatakan pada kami.


📱:Iya ma, Sengaja Devan tidak mengatakan agar tidak ada yang mengganggu. Sudah dulu ya ma, Dev lagi makan soalnya.


📱:Baiklah

__ADS_1


Setelah sambungan telponnya terputus, Devano kembali menatap pada Nadira yang terlihat sangat menikmati gudeg yang sudah mereka pesan tadi. Melihat Nadira sangat lahap memakannya membuat Devano tersenyum lebar.


"Suka gak, Sayang?" tanya Devano sambil menatap Nadira.


Nadira mengangguk cepat"Sangat, Kak. Rasanya sungguh enak. Ini pertama kalinya aku makan gudeg, Dan ternyata rasanya seenak ini"


Devano mengusap pucuk kepala Nadira sambil tersenyum"Makan yang banyak, Sayang. Supaya nanti kamu kuat saat kita main" gumamnya sambil mengulum bibirnya.


Mendengar kalimat dari Devano membuat Nadira membelalakkan kedua matanya. Kenapa akhir-akhir ini suaminya sering mesum.


"Ish oppa, Jangan bicara soal itu di tempat umum, Nanti ada yang mendengarnya bagaimana. Kan malu" Nadira mencebikkan bibirnya sambil menoleh pada Devano yang sudah terkekeh kecil.


"Oppa, Jangan kenceng-kenceng! Malu di dengar orang" kata Nadira lagi


"Memangnya main apa yang kamu artikan sayang. Ini maksud aku main catur, Apa kamu lupa ucapan papa tadi siang. Kalau malam ini kita akan main catur"


Seketika wajah Nadira merah saat mendengar perkataan Devano. Kenapa dia bisa lupa pembicaraan saat di rest area sore tadi.


"Cie mukanya merah. Jangan bilang kamu mengasumsi jika main yang aku maksud adalah main itu"

__ADS_1


Nadira menutup wajahnya yang sudah terasa panas karna menahan malu. Tidak pernah menyangka jika dia salah mengartikan maksud dari perkataan Devano.


"Astaga. Malu-maluin saja kamu Nadira, Bisa-bisanya salah mengartikan. Memalukan" batin Nadira sambil menutup wajahnya.


Melihat tingkah Nadira hanya membuat Devano mengulum bibirnya. Tingkah istrinya sungguh menggemaskan jika sedang malu-malu seperti itu.


"Jangan liatin aku seperti itu dong, Oppa!"


"Memangnya apa salahnya jika aku melihat istriku yang sangat cantik ini. Tidak dosa bukan"


"Tau lah Oppa"


Setelah menghabiskan makanannya, Devano mengajak Nadira untuk duduk di salah satu kursi panjang yang ada di sana. Menikmati malam ini berdua. Bak berkencan dengan kekasih.


"Sayang, Kamu tunggu di sini dulu ya, Aku mau beli sesuatu"


"Mau beli apa, Oppa?


"Nanti kamu juga tau aku mau beli apa, Kamu tetap di sini jangan kemana-mana"

__ADS_1


__ADS_2