Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
First kiss after married


__ADS_3

Jantungku semakin berdebar saat kata sakral itu menyapu indra pendengaranku. Tak perlu mengulang berkali-kali, Karna pak Devano mengucapkannya dengan sangat fasih dan hanya cukup sekali saja. Tanpa sadar, Kata-kata itu berhasil meluruhkan air mataku. Kalimat sakral yang aku dengar dan di ucapkan oleh pria yang sudah berhasil mengambil hatiku entah sejak kapan.


Tidak tau harus berkata apa, Tapi yang pasti saat ini rasanya aku sangat bahagia. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Tidak pernah menyangka jika sosok yang selama ini suka membuatku kesal sudah berhasil mengambil hatiku, Membuatku selalu merasa nyaman setiap kali ada di sampingnya. Jujur saja, Sebenarnya beberapa bulan terakhir, Aku memang suka memperhatikan pak Devano diam-diam. Melihat parasnya yang begitu hampir mendekati kata sempurna membuatku merasa candu. Apalagi saat melihat senyumannya, Senyuman yang sangat jarang dia tampakkan. Tapi sekali dia memperlihatkan langsung mampu membuatku merasa candu, Candu yang ingin selalu aku liat.


Hari ini, Detik ini aku sudah resmi menjadi istrinya. Menjadi sosok yang akan menemaninya setiap waktu. Menjadi orang terdekat yang harus selalu ada di saat suka dan juga duka. Semoga saja semuanya sejalan dengan apa yang aku harapkan, Tapi apakah pak Devano juga bisa menerima pernikahan ini dengan ikhlas? Atau hanya aku sendiri yang benar-benar menggunakan hati. Aku tidak tau itu. Tapi yang pasti, Aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik sebisaku dan semampuku.


Aku memejamkan kedua mataku saat benda kenyal itu menempel di keningku, Jantungku seakan tak mau berhenti berdetak, Bahkan detaknya berkali-kali lebih cepat dari pada batas normal pada umumnya. Matanya jernih, Hidungnya sangat mancung, Bibirnya tipis. Paras ini benar-benar seperti yang selalu ada dalam anganku.


Sosok suami idaman yang pernah melintas dalam benakku. Dalam setiap bait kalimat doa yang sering aku panjatkan setelah solatku. Apakah ini jawaban atas semua doa itu? apa Allah sudah mengabulkannya? Entahlah.


"Aku berjanji, Mulai detik ini dan seterusnya, Aku akan berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik sebisaku. Aku akan berusaha untuk menjadi seperti apa yang kamu harapkan, Pak. Aku akan berusaha menjadi sosok wanita yang tidak akan lagi membuatmu kesal. Semoga kita selamanya" batinku sambil terus memejamkan mataku. Karna memang pak Devano cukup lama mencium keningku


Harapanku untuk saat ini, Semoga saja pak Devano bisa benar-benar menerima pernikahan ini. Karna jujur saja aku juga ingin timbal balik dari perasaanku. Bukankah yang ada timbal baliknya akan jauh lebih istimewa.


Setelah cukup lama, Akhirnya pak Devano melepaskan ciumannya. Namun detak jantung ini masih saja tidak bisa di kondisikan. Apalagi saat kedua bola mata indahnya kembali menatap mataku. "Astaga, Ini benar-benar tidak aman untuk kondisi jantungku. Kalau pak Devano terus-terusan menatapku seperti ini, Bisa-bisa aku pingsan di buatnya" batinku sambil terus membalas tatapan pak Devan. Mantan bos menyebalkan yang saat ini sudah berstatus sebagai suamiku. Ciaaahhh suamiku katanya.


"Selamat ya Nad. Gak nyangka kamu malah nikah sama kak Devano. Aku bahagia, Sangat bahagia. Akhirnya semuanya berjalan sesuai dengan harapanku" ucap Bella sambil memelukku. Karna memang kami berdua sangat dekat bahkan sudah seperti saudara.


Mendengar perkataan Bella membuatku mengerutkan kecil keningku. Jujur saja aku memang benar-benar tidak paham dengan kata-kata itu"Maksud kamu apa, Bell?" tanyaku penasaran.


Bella melepaskan pelukannya sambil tersenyum kearahku"Selama ini aku tau kalau sebenarnya kamu ada hati sama sepupuku yang sangat menyebalkan ini kan" bisiknya tepat di telingaku. Dan hanya aku yang bisa mendengarnya.

__ADS_1


Kedua mataku membulat. Entah kenapa Bella bisa tau jika selama ini sebenarnya aku memang sudah ada hati akan bosku, Akupun tidak tau sejak kapan rasa itu ada. Tapi yang pasti aku selalu merasa nyaman setiap kali sedang bersama dengannya.


"Kok kamu tau?" balasku


"Ya taulah, Nad. Aku ini sahabat kamu, Aku paham dan aku mengerti semuanya. Bahkan aku juga tau saat kamu kesal setiap kali dulu melihat kak Dev bersama dengan Ratna. Iya kan" ucap Bella lagi.


Aku memilih diam, Karna memang aku tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan itu. Jujur saja, Beberapa bulan yang lalu, Hatiku selalu terasa panas saat melihat pak Devano bersama dengan Ratna. aku tidak mengerti apa saat itu aku sudah ada hati dengannya, Tapi yang pasti, Aku tidak suka itu. Apa itu yang di namakan cemburu.


"Kok diam saja, Nad?" tanya Bella saat melihatku hanya diam tak menjawab sepatah katapun.


"Mau aku jawab atau tidak, Kamu sudah pasti tau bagaimana jawaban atas pertanyaan kamu itu kan?" balasku pada akhirnya.


Tanpa terasa siang sudah berlalu. Malam datang begitu cepat. Jantungku kembali berdetak cepat saat aku melihat pak Devano masuk ke dalam kamarku.


"Mulai malam ini aku akan tidur di sini bersama dengan kamu" ucap pak Devan sambil menatapku.


"Kenapa berdiri saja, Duduklah di sini bersamaku"ucapnya lagi


Aku pun hanya menurut, Duduk di samping pak Devano di tepi ranjang. Rasanya panas dingin saat berada di dekat sedekat ini apalagi dengan status yang sudah berbeda. Bukan lagi asisten dengan atasan, Tapi suami dan istri.


Di saat kami berdua masih sama-sama diam, Tiba-tiba saja tampu mati. Aku yang memang sangat takut akan kegelapan tentu saja langsung memeluk pak Devano sangat erat.

__ADS_1


"Aaaaaaaa, Mati lampu pak" ujarku sambil memeluk pak Devano


"Tidak perlu takut, Ada saya di sini" jawabnya sembari membalas pelukanku. Berada di posisi seperti ini membuat detak jantungku kembali berdisko.


"Apakah malam ini akan menjadi malam pertama kita?" ucapnya tepat di telingaku.


Mendengar pertanyaan pak Devano membuatku semakin panas dingin"Bagaimana ini?" batinku.


Belum sempat aku menjawab, Lampu itu kembali menyala. Pak Devano mendekat dan langsung mencium bibirku lembut. Mendapat ciuman seperti itu membuat mataku terbelalak. Ini adalah pertama kalinya bagiku.


"Aku mencintaimu, Nadira"ujar pak Devano yang terdengar sangat lembut pada indra pendengaranku. Menatap hangat padaku. Aku hanya tertegun. Tidak tau harus menjawab apa. Apa aku juga harus mengatakan hal yang sama, Mengatakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya saat ini.


Cukup lama aku terdiam, Masih membalas tatapan pak Devano tak kalah hangat. Hingga aku putuskan untuk membalas hal yang sama. Namun sebelum itu, Aku mengambil nafas dalam sambil mengondisikan detak jantungku.


"Aku juga mencintaimu, Pak" balasku


"Pak? Masih mau manggil pak?"


"Lalu aku harus menjawab apa?" balasku


"Mulai hari ini panggil aku King oppa" ucap pak Devano. Panggilan itu membuatku teringat akan masa kecilku. King oppa

__ADS_1


__ADS_2