
"Eh kenapa kamu malah nangis anak kecil? Apa yang membuatmu seperti itu?" tanya Devano merasa heran karna Nadira tiba-tiba saja menangis tanpa alasan yang jelas.
"Tidak papa. Cuma pengen nangis aja. Huuuuu, Hiks...hiks" ucapnya sambil mengusap kedua matanya yang sudah basah.
Melihat itu membuat Devano menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal"Dasar wanita aneh. Bisa-bisanya menangis tanpa sebab. Memang benar-benar wanita yang berbeda"ucapnya di sela langkahnya.
Setelah mengatakan hal itu. Devano bangun dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi. Hari ini, Bagaimanapun caranya mereka berdua harus kembali ke jakarta. Karna memang kebetulan hari ini ada jadwal meeting yang cukup penting. Meeting bersama dengan salah satu klien yang di nantikan oleh Devano.
"Aneh sekali wanita itu, Bisa-bisanya menangis tanpa sebab yang jelas" ucap Devano lagi setelah tiba di dalam kamar mandi.
30 menit kemudian, Devano membuka pintu kamar mandi. Kedua matanya memicing saat tak melihat keberadaan Nadira di dalam kamar itu.
"Kemana tu orang. Kenapa kamar ini kosong?" ujarnya sambil berjalan pelan keluar dari dalam kamar mandi.
Menatap setiap sudut kamar itu, Namun hasilnya masih nihil, Karna tidak ada tanda-tanda keberadaan Nadira di sana.
"Nadira, Kamu di mana?" panggilnya
Tak berselang lama. Pintu kamar hotel terbuka. Devano menoleh ke arah pintu itu, Disana langsung menampakkan Nadira yang masuk sambil menekuk wajahnya.
"Dari mana saja kamu?"
"Huufff. Saya dari bawah pak" jawabnya sambil berjalan kecil dan duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
Melihat raut wajah Nadira yang begitu letih membuat Devano mengerutkan kecil keningnya. "Ada apa denganmu? Ada masalah?" tanya Devano yang merasa ada yang aneh dari tingkah Nadira pagi ini.
"Tidak ada. Masalahnya hanya ada pada perut saya"
"Maksudnya bagaimana? Kalau ngomong itu yang jelas sedikit bisa kan! Kamu dari mana?" tanya Devano lagi.
"Tadi saya keluar kamar karna terlalu lama menunggu pak Devan. Niatnya mau beli makan buat kita berdua. Tapi setelah saya tiba di bawah, Bapak tau apa yang terjadi"
"Nggk lah, Kan kamu belum kasih tau saya" balas Devano yang membuat Nadira menatapnya sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Tolong deh pak, Masih pagi jangan buat saya kesal. Bisa kan!?" pungkasnya pada Devano"Iya iya maaf. Ada apa memangnya?" tanya Devano lagi.
"Saya berpapasan sama bu Ratna"
"Apa! Kamu berpapasan sama Ratna. Bagaimana ceritanya? Memangnya dia juga ada di hotel ini?"tanya Devano sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Mendengar hal itu membuat Devano menatap Nadira sambil mengerutkan keningnya" Maksud kamu bagaimana? Memang apa kok bisa kamu mengatakan jika saya akan terkejut" balas Devano sambil terus menatap Nadira.
"Bu Ratna Hamil"
"What! Jangan bercanda!" pungkas Devano sambil menatap Nadira.
"Siapa yang bercanda. Jadi begini, Pak"
__ADS_1
Ingatkan Nadira kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu.
Setelah Devano masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba saja Nadira mendengar suara perutnya yang sudah mulai demo. Nadira mengusap perutnya yang memang terasa lapar.
"Ah, Kenapa rasanya aku lapar sekali pagi ini. Apa karna semalam aku makannya berlebihan" ucap Nadira sambil terus menatap ke arah perutnya.
"Kenapa pak Devano lama sekali. Kalau nunggu dia aku bisa mati kelaparan. Lebih baik sekarang aku turun sekalian beli sarapan buat dia juga" ucap Nadira lagi dan langsung menggunakan bajunya serta mengikat tinggi rambutnya.
Setelah itu. Nadira mengambil dompet serta ponselnya dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam hotel. Menyusuri koridor lalu masuk ke dalam lift.
5 Menit kemudian, Nadira sudah tiba di restoran hotel itu, Memesan beberapa makanan untuk take away buat dirinya dan juga buat Devano.
Di saat sedang menunggu pesanannya selesai, Nadira memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di sana. Sesekali memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Bersamaan dengan itu, Tanpa sengaja Nadira mendengar suara yang cukup familiar menyapu indra pendengarannya. "Itu kan suara bu Ratna" batin Nadira sambil menoleh ke kanan dan juga ke kiri.
"Apa!! Kamu hamil? Bagaimana bisa Ratna? Bukan kah selama ini aku selalu mewanti-wanti agar kamu tidak pernah melupakan obat kontrasepsi itu. Kenapa hal ini bisa terjadi?" ucap Fahri saat mendengar jika Ratna mengandung benihnya.
"Sayang. Kenapa kamu malah marah sama aku? Aku juga tidak mau ini terjadi. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah terlanjur" balas Ratna pada Fahri yang sedang mengacak kasar rambutnya sendiri.
"Gugurkan anak itu. Dia tak berguna dan hanya akan menggagalkan semua rencana kita" ucap Fahri sambil menatap Ratna.
"Tidak mau. Aku sudah memiliki satu rencana akan hal ini" balas Ratna sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Rencana, Rencana apa?" tanya Fahri yang terlihat sangat penasaran.
"Aku akan mengatakan jika anak ini adalah anak Devano. Dengan begini, Kita akan dengan mudah bisa menguasai harta kekayaan dari keluarga WARDANA" ucap Ratna sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.