Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Kode Keras


__ADS_3

"Apa! Jadi maksud kamu saat ini mama sama papa sedang terbang ke paris?" tanya Risa yang cukup terkejut mendengar apa yang barus aja Reza katakan. Pasalnya memang selama ini kedua orang tua Risa tidak pernah meninggalkan Risa sendiri apalagi ke luar negri.


"Iya, Dan sepertinya ada hal yang membuat mereka ke luar negri. Tapi aku juga tidak tau itu apa" balas Reza pada Risa.


Risa terdiam, Tidak menjawab lagi perkataan yang baru saja terlontar dari Reza. Yang ada dalam pikiran Risa saat ini hanyalah kenapa kedua orang tuanya tiba-tiba saja pergi ke liar negri. Ada apa sebenarnya?


Hal itu tentu saja membuat beberapa pertanyaan terbesit dalam benaknya. Risa tentu ingin tau apa alasannya, Namun saat mengingat bentakan dari Adam, Membuat Risa enggan untuk menghubungi kedua orang tuanya.


*


*


*


Setelah melihat Devano dan juga Nadira masuk ke dalam mansion, Membuat Pamela menundukkan wajahnya. Bukan hal ini yang dia inginkan, Bukan rasa sakit seperti ini yang Mela harapkan. Tapi kenapa semuanya terjadi bagaikan mimpi buruk yang datangnya secara tiba-tiba.


Selama dua tahun, Pamela berusaha kuat dan berusaha buat sembuh untuk Devano. Tapi apa yang Mela dapatkan,?


"Kenapa semuanya jadi seperti ini, Kenapa hidup ini seperti tidak adil" gumam Mela salam batinnya.


Wanita itu keluar dari halaman mansion wardana, Langkahnya begitu berat, Dadanya benar-benar terasa sangat sesak. Hingga tanpa sadar air mata itu berhasil meluruh tanpa permisi.


"Kenapa hidupku seperti ini. Bahkan hanya dia satu+satunya orang yang aku ingat, Tapi kenapa, Devano tega mengkhianati aku dengan wanita lain" ucap Mela di sela isaknya.


Pamela berjalan kaki keluar dari sana. Tidak lagi menggunakan taksi, Ataupun ojek online. Di saat yang bersamaan, Tiba-tiba saja hujan turun. Semesta seakan mengerti bagaimana perasaan Pamela saat ini.

__ADS_1


*


*


*


"Hujan ya kak" kata Nadira sambil membuka gorden kamarnya. Memperhatikan rintikan hujan yang sedang mengguyur kota jakarta sore ini.


"Iya, Sayang" balas Devano pelan. Entah kenapa tiba-tiba saja Devano teringat akan Pamela.


"Oh iya, Sayang. Kenapa tadi kamu bilang kalau Mela adalah kakakmu. Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Devano yang mulai penasaran.


"Ya nggaklah, Oppa. Aku serius. Kak Pamela memang kakakku. Kami satu papa tapi beda mama. Kak Mela anaknya papa dari istri pertamanya" jawab Nadira sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Kening Devano mengerut saat mendengar apa yang baru saja Nadira katakan, Pasalnya selama ini Devano tidak pernah tau jika Pamela memiliki saudara, Yaitu Nadira.


"Karna selama ini kak Mela tinggal bersama dengan mamanya" balas Nadira lagi.


Tanpa terasa malam pun datang. Setelah melakukan sholat magrib, Nadira turun untuk membuat makan malam buat dirinya, Devano dan juga Farah. Wanita itu menyusuri anak-anak tangga di sana.


"Masak apa enaknya ya" kata Nadira sambil membuka kulkas. Melihat bahan makanan yang masih tersedia di sana. Ternyata hanya ada ayam potong serta ikan yang sudah di rendam dengan bumbu.


Nadira mengeluarkan semua bahan-bahan yang masih tersisa. Untuk kali ini Nadira memutuskan untuk membuat sup ayam jahe. Jika di lihat dari cuaca saat ini, Sepertinya memang sangat cocok jika makan malam dengan sup ayam jahe.


Di saat Nadira masih sibuk dengan ayam yang ada di tangannya. Tiba-tiba saja Nadira di kagetkan dengan suara Farah yang baru saja masuk ke dalam dapur.

__ADS_1


"Kamu masak, Nad?" tanya Farah sambil mendekat pada Nadira.


"Eh kak, Bikin kaget saja" balas Nadira sambil menoleh pada Farah yang sudah tersenyum padanya"Maaf ya kalau kakak bikin kaget. Masak apa?" Lanjut Farah lagi.


"Ini kak, Aku lagi masak buat makan malam. Hanya masak bahan seadanya saja sih kak. Di kulkas hanya ada ayam sama ikan ini saja. Jadi aku berencana untuk membuat sup ayam jahe, Bukan kah hujan-hujan seperti ini cocok jika makan dengan sup ayam jahe" balas Nadira sambil tersenyum


"Biar aku bantu ya, Nad" Farah bergegas mengambil alih ayam yang ada di tangan Nadira, Namun hal itu terhenti karna Devano yang lebih dulu mengambil ayam itu.


Saat tadi melihat Nadira keluar dari dalam kamarnya, Devano yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di tangannya segera menyelesaikan semua berkas-berkas itu. Karna memang sebelumnya Devano sudah memutuskan untuk masak makan malam setelah mereka menginap di Mansion Wardana.


"Jangan, Kak. Biar Dev saja yang membantu Nadira. Sekarang lebih baik kak Farah tunggu saja di meja makan. Tidak baik orang hamil lama-lama berdiri" ujar Devano setelah mengambil alih ayam itu dari tangan Nadira.


Perkataan Devano membuat Farah terkekeh. Sejak kapan orang hamil di larang banyak berdiri."Ada-ada saja kamu,Dev. Sejak kapan orang hamil tidak boleh banyak berdiri, Justru itu bagus" balas Farah sambil terus terkekeh.


Devano menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. "Begitu ya kak. Dev hanya ngarang saja sih tadi. Mana Dev tau jika wanita hamil tidak apa-apa banyak berdiri. Kan istri Devano belum hamil. Jadi belum ada pengalaman" balas Devano pada Farah.


"Makanya, Lebih baik kalian cepat punya anak saja. Sebenarnya bukan banyak berdiri sih, Dev. Tapi perbanyak jalan, Biar nanti kalau sudah mau melahirkan bisa secara normal dan juga lancar. Itu sih yang kakak tau dari ibu panti" balas Farah pelan


"Kalau Devano sih pengennya cepat punya anak kak. Tapi gak tau deh kalo ibu negara. Apa dia mau cepet-cepet punya anak atau masih mau nunda" balas Devano sambil melirik pada Nadira yang sedang sibuk membuat bumbu untuk ayam jahenya.


Mendengar perkataan Devano, Nadira mengangkat kedua sudut bibirnya. Jika di tanya apakah Nadira masih mau menunda kehamilan, Jawabannya sudah tentu iya, Karna masih ada keinginan serta cita-cita yang ingin Nadira wujudkan. Terlebih lagi saat ini kuliah Nadira masih semester 5, Masih tersisa beberapa semester lagi.


"Wah sepertinya itu kode keras Nad. Jadi kamu mau langsung hamil apa masih menunda untuk punya anak dulu?" tanya Farah pada Nadira.


Wanita itu tak langsung menjawab, Karna jujur saja jawabannya sudah jelas Nadira masih ingin menunda kehamilan. Di usianya yang masih 19 tahun, Tentunya masih begitu banyak hal yang ingin Nadira lakukan. Nadira takut jika terburu-buru memiliki anak nanti yang ada anak mereka tidak terurus seperti semestinya.

__ADS_1


"Kok diam saja, Nad? Kamu mau langsung punya anak atau masih mau menunda dulu?" ulang Farah karna Nadira hanya diam


"A-aku"


__ADS_2