
"Ya mana saya tau kalau akhirnya bakal seperti ini. Memangnya kamu mau waktu itu kita tidur di jalan" ujar Devano sambil menoleh pada Nadira
"Ya gak kau lah pak. Masa iya cewek secantik saya mau tidur di jalanan. Nanti yang ada dikira orang gila lagi sama orang-orang"
Devano mengulum bibir saat mendengar perkataan Nadira. Membuat wanita itu menatap tajam Devano karna merasa curiga"Kenapa bapak malah nahan tawa begitu, Mau ngetawain saya?" gumamnya sambil terus menatap tajam Devano.
"Tidak. Memangnya ada yang salah dengan raut wajah saya?"
"Sedikit. Sudahlah lebih baik cepat jalan"
Krukkk....Krukkkk
Terdengar suara bunyi perut Nadira. "Astaga ini perut kebiasaan banget sih. Malu-maluin, Kenapa selalu di depan pak Devan sih bunyinya" batin Nadira sambil menoleh ke lain arah.
"Kamu lapar?" tanya Devano yang mendengar bunyi perut Nadira.
Wanita itu menggeleng cepat"Tidak. Bapak kali yang lapar" jawabnya yang masih tidak mau menjawab jujur
"Eh Nadira. Saya kenal kamu bukan cuma sehari dua hari, Satu tahun lebih sudah cukup buat saya mengetahui semua kebiasaan kamu. Kita makan dulu sebelum pulang"
Setelah mengatakan hal itu, Devano kembali melajukan mobilnya, Membelah jalanan sore yang cukup padat. Karna memang ini waktunya orang pulang bekerja.
"Tidak perlu. Kita makan di rumah saja" jawabnya yang masih pura-pura menolak
Krukkkk....Krukkkkk
Lagi dan lagi. Suara perut Nadira terdengar dan begitu mengganggu"Astaga ini perut niat amat mau bikin malu. Bener-bener gak bisa di ajak kompromi" batin Nadira lagi.
"Bagaimana? Masih gak mau? Hmmmm"
"Iya iya. Tapi saya mau makan nasi goreng"
"Jangan ngadi-ngadi. Ini bukan indonesia, Mana ada orang jual nasi goreng. Ada-ada saja kamu ini"
"Ya kali aja ada yang jual nasi goreng"
Di Apartemen
"Nadira sama Devano kemana ya? Sudah 4 jam tapi mereka berdua belum juga sampai"ucap Lina yang baru menyadari hal itu.
"Entah. Masih kemana mereka kira-kira ya" sahut Christy
__ADS_1
Saat ini kedua wanita paruh baya itu sedang memasak untuk makan malam. Sedangkan Wardana dan juga Sky sedang melakukan pekerjaannya yang memang sudah tertunda karna harus menghadiri acara lelang di perusahaan Zein.
"Tapi biarkan saja ya. Siapa tau dengan begitu mereka bisa saling dekat dan bisa mengingat masa lalu. Bagaimana kalau kita langsung saja nikahkan mereka dal waktu dekat" usul Lina pada Cristy
"Ide bagus. Bukan kah lebih cepat lebih baik. Tapi apa mereka berdua akan mau?"
"Tidak perlu kasih tau mereka. Kita langsung saja siapkan acara resepsi. Bagaimana kalau kita nikahkan mereka di kota ini? Secepatnya"
"Boleh juga. Dengan begitu aku tidak khawatir lagi kalau memang Nadira tetap mau stay di jakarta. Karna memang dia mau pindah kesini karna sedikit paksaan dariku" balas Cristy sambil terus sibuk dengan masakannya.
Lina tersenyum saat mendengar jawaban dari Cristy. Hingga tak lama kemudian, Wanita itu kembali menatap Cristy sambil mengangkat kedua sudut bibirnya. Hal itu tentu saja membuat Cristy curiga.
"Kenapa kamu liatin aku sambil senyum-senyum begitu, Lin?"
Lina mendekat dan membisikkan sesuatu pada Cristy. Sebuah rencana yang sedikit licik namun mampu membuat Nadira juga Devano tidak bisa menolak.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Lina setelah selesai membisikkan rencananya.
"Oke juga. Bisa kita coba" balas Cristy seraya ikut mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah apa yang sudah mereka berdua rencanakan. Tapi yang pasti rencana itu akan membuat Nadira juga Devano memilih untuk segera menikah.
30 Menit kemudian. Semua masakan sudah tersaji dan tertata rapi di atas meja makan. Namun sampai detik ini masih tidak ada tanda-tanda kepulangan Devano dan juga Nadira.
"Kita langsung makan sekarang saja ya, Biar nanti Devano sama Nadira makan berdua. Tapi sebelum itu, Kita lakukan rencana kita dulu" ujar Lina sembari mengambilkan makanan untuk suaminya, Wardana.
"Kalau papa ikut apa kata kalian saja. Papa ikut bagaimana baiknya untuk mereka berdua" jawab Sky
"Kalau mas Dana bagaimana?"
"Saya juga ikut apa kata kalian saja. Tapi apa Devano akan semudah itu percaya?"
"Pastilah, Dad. Anak kita kan paling mudah di bohongi" Lina menjawab sambil terkekeh.
"Iya. Karna terlalu mudah percaya sampai tertipu dengan kelakuan Ratna" balas Wardana lagi.
Mendengar itu membuat Lina kembali terlihat kesal"Jangan ingat-ingat itu lagi, Dad. Mommy masih sakit hati. Awas saja si Ratna, Kalau mommy sudah ada di indonesia, Mommy akan memberikan pelajaran buat wanita yang tidak tau diri itu"
"Sudah sudah. Lebih baik kita makan sekarang, Takut nanti Nadira sama Devano keburu datang. Memangnya mau rencana kita gagal" ujar Cristy saat melihat raut wajah Lina mulai berbeda.
"Kamu benar juga, Cris. Lebih baik saat ini kita fokus sama rencana kita dulu"
Mereka berempat pun makan tanpa ada yang berbicara. Hanya terdengar suara alat makan saja di sana. Hingga makan malam itu selesai Devano juga Nadira belum juga sampai.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 19:30. Kedua orang tua Nadira dan juga Devano sedang mengobrol santai di ruang tamu sambil menonton siaran televisi. Lina yang mulai menghawatirkan Devano akhirnya meminta Wardana untuk menghubungi anaknya.
"Dad, Kok mereka belum juga sampai ya. Mommy tiba-tiba saja khawatir. Coba daddy hubungi Devano, Tanyakan sekarang mereka ada di mana" pinta Lina pada suaminya. Karna memang jujur saja hatinya mulai gelisah. Sudah berjam-jam namun Devano juga Nadira belum juga sampai di apartemen ini.
"Iya, Mom. Daddy juga mulai panik"
Wardana mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi nomor Devano yang ternyata tidak aktif. Hal itu semakin membuat mereka panik dan khawatir.
"Nomor Devano tidak bisa di hubungi, Mom"
Lina semakin merasa gelisah dan tidak tenang. Karna mau bagaimanapun, Ini sudah terlalu lama mereka di jalan.
"Duh. Kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini ya" ucap Lina
Di saat seperti itu, Tak berselang lama terdengar suara bel pintu apartemen, Sky melihat siapa yang datang dari celah pintu, Dan ternyata memang benar, Itu adalah Devano dan juga Nadira.
"Mereka yang datang. Sekarang kalian siap-siap untuk menjalankan misi. Biar saya yang buka pintunya" ucap Sky pada Lina, Wardana dan juga Cristy
Mendengar jika Devano dan juga Nadira yang datang, Mereka bertiga langsung masuk ke dalam kamar Lina. Memberi sedikit polesan make up pada wajah Lina agar membuatnya terlihat sedikit pucat.
"Siap kan, Lin?" tanya Cristy
"Tentu saja. Akan aku pastikan misi kita akan berhasil" jawab Lina sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
Ceklek
Sky membuka pintu apartemen. Di sana Sky sudah bisa melihat jika Devano juga Nadira sudah berdiri sambil tersenyum di sana.
'"Kemana saja kamu, Dev? Kenapa tidak angkat telpon dari daddy mu?"tanya Sky sambil masuk ke dalam hotelnya.
"Tadi di jalan ada insiden om. Memangnya Daddy telpon kenapa? Ponsel Devano mati"
"Cepat masuk ke kamar sana. Lihat sendiri bagaimana kondisi mommy mu saat ini"
"Mommy. Memangnya mommy kenapa?" tanya Devano lagi.
"Sebaiknya kamu liat sendiri"
Devano tak lagi menjawab, Pria itu langsung berjalan cepat ke arah kamar yang di tunjukkan oleh Sky. Betapa terkejutnya Devano saat melihat kondisi sang Mommy yang sudah terbaring lemah di sana.
"Mommy. Mommy kenapa?" tanya Devano sembari mendekati Lina.
__ADS_1
Christy menatap Lina sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ini saatnya menjalankan misi" batin Lina sambil membalas kedipan mata Cristy