Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Suara yang tidak asing


__ADS_3

"Semoga saja apa yang dulu Devano katakan bisa terlaksana. Sepertinya Nadira cocok untuk menjadi pengganti Ratna yang tidak tau diri itu" batin Lina sambil terus menatap Nadira.


Sarapan itu pun berjalan dengan semestinya, Tidak ada pembicaraan di sana.Hanya terdengar suara bising sendok juga garpu saja.


10 menit kemudian saat sarapan sudah selesai, Kedua orang tua Nadira juga orang tua Devano memilih duduk di ruang tengah sembari membicarakan perihal kerjasama yang akan mereka lakukan.


"Oh ya, Lin. Bagaimana ceritanya kok bisa pertunangan anak kamu batal?" tanya Cristy pada Lina. Karna memang malam tadi Lina sempat mengatakan jika pertunangan anaknya sudah batal.


Lina mengambil nafas dalam lalu membuangnya pelan. Wanita itu tak menjawab hanya mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan kejadian di taman pada Cristy.


"Coba kamu liat ini" Lina memberikan ponsel itu pada Cristy.


Sebuah rekaman Video Devano beserta Ratna yang ada di taman sedang di putar. Cristy menggelengkan kepalanya saat mendengar suara voice note dari video itu.


"Bagaimana, Apa menurutmu wanita seperti ini pantas untuk menjadi istri dari anak ku Devano?" tanya Lina pada Cristy.


"Gak lah, Gila apa anakmu mau nikah sama wanita yang hanya memanfaatkannya saja. Astaga, Ada-ada saja. Tapi wajah wanita ini seperti tidak asing. Aku seperti pernah melihatnya, Tapi di mana ya" Saat melihat wajah Ratna, Cristy merasa sangat tidak asing dengan wajah itu. Cristy terus berusaha mengingat dimana pernah melihatnya.


Beberapa detik kemudian, Cristy yang sudah teringat akan wajah Ratna langsung menunjukkan video itu pada Sky suaminya.


"Pa, Lihat deh video ini. Apa papa ingat sama wanita yang ada di video ini?" ujar Cristy sambil memberikan ponsel Lina pada suaminya.


Sky terdiam, Memperhatikan video yang sedang di putar di sana. "Wajahnya seperti tidak asing ya ma, Seperti pernah lihat tapi dimana ya" seru Sky pelan.


"Nah itu dia, Pa. Mama seperti merasa tidak asing dengan wajahnya. Mama seperti pernah melihat nya tapi mama lupa itu di mana" balas Cristy pada Sky.


"Mungkin memang kebanyakan orang akan tidak asing dengan wajahnya. Karna memang dia adalah seorang modelling yang akhir-akhir ini memang sedang naik daun. Tepatnya setelah pertunangannya dengan Devano. Iya kan Mom?" Wardana menoleh pada Sky juga Lina secara bergantian.


"Iya, Ratna adalah seorang modelling yang tidak tau diri. Tidak pernah menyangka dia yang menurut saya polos memiliki akal licik seperti itu. Saya tidak terima dia memperlakukan Devano seperti itu, Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah memaafkan apa yang sudah di lakukan oleh Ratna" timpal Ratna yang terlihat cukup menahan emosi.


"Sabar, Ma. Jangan sampai jantung mama kumat hanya karna kejadian ini. Biarlah Devano mengurus semuanya sendiri, Daddy percaya anak kita bisa mengatasi semuanya"


"Tapi, Dad. Mommy juga merasa luka saat melihat rekaman video ini, Mommy tidak terima, Dad"

__ADS_1


"Daddy tau, Tapi anak kita sudah dewasa. Dia pasti tau apa yang harus dia lakukan"


Lina yang mendengar perkataan suaminya seketika menjadi diam. Karna memang terkadang Lina lupa jika Devano sekarang sudah dewasa. Devano bukan lagi anak kecil yang harus semuanya di urus oleh kedua orang tuanya.


"Kamu sudah siap mau kemana, Sayang?" tanya Cristy saat melihat Nadira sudah siap dan terlihat sangat rapi.


"Kan waktu itu Nadira sudah bilang sama mama kalau hari ini Nadira mau ikut kak Zein ke kantornya" terang Nadira pelan.


"Oh iya, Acara lelangnya hari ini ya?" tanya Wardana pada Nadira.


Nadira mengangguk"Iya, Om. Acara lelangnya hari ini. Kalau menurut Nadira nih ya, Mama papa sama om dan tante datang ke sana. Banyak barang yang akan di lelang hari ini. Udah gitu barang-barang nya kebanyakan branded jaman dulu. Siapa tau saja salah satu dari benda itu ada yang cocok" gumam Nadira pelan.


"Memangnya itu acara di buka untuk umumnya?"


"Iya, Om. Untuk acara lelang tahun ini, Kak Zein memang sengaja membuka untuk umum, Siapapun bisa datang sekalipun tidak membawa undangan" terang Nadira lagi.


"Benarkah. Sepertinya kita memang harus datang ke sana. Siapa tau saja Nadira benar, Ada barang yang cocok untuk kita" Seru Lina pada Wardana suaminya.


"Kalau soal itu kamu tenang saja. Nanti saya akan meminta Agus untuk mensurvei lokasi pertama. Itu kan jaraknya tidak terlalu jauh dari perusahaan" terang Sky


*


*


*


Di tempat yang berbeda. Devano bangun dari tidurnya saat secercah cahaya matahari sudah mulai masuk lewat celah gorden yang ada di hotel itu. Devano mengerjabkan kedua matanya untuk beberapa saat. "Sudah pagi rupanya" gumamnya sambil merenggangkan tangan juga kakinya.


Setelah beberapa saat, Pria itu bangun dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Mengingat perkataan Zein hari itu membuat Devano mandi dengan sangat cepat. Karna tanpa dia sadari, Jam sudah menunjukkan pukul 09:00 siang.


"Aku selama tidur apa pingsan ya, Kenapa gak terasa sudah siang saja" katanya sembari memilih pakain yang sesuai untuk di gunakan hari ini.


Akhirnya pilihan Devano jatuh pada setelan jas berwarna mocca. Salah satu setelan jas yang dulu di pilihkan oleh Nadira saat sedang ada acara penting.

__ADS_1


Melihat jas itu membuat Devano kembali teringat akan Nadira"Jas ini, Ini kan jas yang dulu di pilih oleh Nadira. Apa aku pakai jas ini saja" gumamnya sambil mengambil jas itu.


"Ternyata aku memang sangat tampan. Akan aku pastikan, Ratna menyesali perbuatannya" gumamnya lagi.


"Tidak usah sok kecakepan deh, Pak. Gantengnya juga tidak seberapa"


Kata-kata Nadira waktu itu tiba-tiba saja terngiang. Devano mengangkat kedua sudut bibirnya saat teringat akan perkataan Nadira.


"Jika ada dia di sini, Pasti dia akan mengulangi perkataan yang dulu kembali. Apalagi kalau mendengar perkataan ku barusan" gumam Devano lagi sambil terus memperhatikan dirinya dari kaca yang ada di depannya.


Dttt.....Dtttttt..Dtttt


Mendengar suara ponsel berdering, Devano langsung mengambil ponselnya, Melihat nama siapa yang tertera di sana. Ternyata itu adalah nomor ponsel Zein. Memang malam tadi Devano saling tukar nomor dengan Zein saat berjalan ke kamar hotel.


📱:Halo, Kak. Ada apa?


📱:Kamu di mana? Belum berangkat ya. Ini acaranya sebentar lagi akan segera di mulai.


📱: Ini Devano sudah bersiap, Kak. Sebentar lagi jalan


📱:Yasudah


Zein langsung mengakhiri sambungan telponnya"Siapa yang kakak telfon?" Tanya Nadira saat merasa tidak asing dengan suara yang ada di ujung telpon.


"Oh, Itu dia De-" perkataan Zein terhenti saat ada salah satu staff nya memanggil di sana.


"Pak, Zein. Maaf, Bisa ikut saya sebentar. Ada beberapa barang dari penyumbang yang belum bapak lihat" ucapnya pada Zein


"Baiklah. Saya akan segera kesana"


"Sebentar ya, Nad. Kakak kesana dulu. Kamu duduk di sana atau liat-liat barang lelang juga boleh" Devano meninggalkan Nadira yang masih merasa penasaran dengan sosok yang baru saja Zein hubungi.


"Kenapa suara orang tadi seperti tidak asing untukku" gumamnya sambil menatap punggung Zein yang sudah semakin menjauh

__ADS_1


__ADS_2