
[ Saya minta, Lumpuhkan total PT JM sekarang juga ] kirim
Dtttttt
Dtttt
Dttttt
[ Baik, Tuan ]
Setelah itu, Wardana memutuskan untuk memberitahu Devano akan hal ini. Karna anggota nya membutuhkan Devano untuk saat ini.
📱:Halo, Daddy. Ada apa?
📱:Ada yang sedang ingin main-main dengan keluarga kita, Dev. Daddy minta, Setelah ini kamu datang ke alamat yang akan Daddy kirimkan. Kasih pelajaran Antonio, Karna dia sudah berani mengancam Daddy. Dan satu lagi, Pastika kakakmu selamat. Bagaimanapun caranya
📱: Baik, Dad. Devano akan mengusahakan yang terbaik
Nadira menatap Devano sambil menikmati semangkuk bakso yang sudah Devano pesankan untuknya.
"Ada apa, Oppa?" tanya Nadira pada Devano
"Ada masalah penting, Sayang. Setelah ini aku harus pergi dulu ya. Kamu jangan kemana-mana. Tetaplah di sini hingga aku kembali"
"Tapi kamu mau kemana, Oppa?"
"Nanti akan aku ceritakan semuanya, Sayang. Aku harus segera pergi. Kamu habiskan makanannya ya. Nanti aku akan meminta Bella untuk kesini menemanimu"
Setelah mengatakan hal itu, Devano bangun dari duduknya dan meninggalkan satu kecupan singkat pada kening Nadira. "Aku pergi dulu, Sayang" ujar Devano lembut sambil mencium kening Nadira.
Nadira yang mendapat kecupan singkat seperti itu membuatnya terpaku. Kedua matanya terbuka lebar serta jantungnya berdetak sangat cepat. Bahkan detak jantung itu berdetak jauh lebih cepat dari pada batas normal pada umumnya. ..
Devano berlalu dari hadapan Nadira, Namun belum juga sampai ke ruang tengah, Pria itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya kembali. Berjalan ke arah meja makan lalu mencium bibir Nadira lembut.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat kedua mata Nadira terbuka lebar. Tak pernah menyangka jika Devano akan melakukan hal itu.
"I Love you, Istriku. Maaf, Aku butuh tambahan energi" kata Devano sambil mengusap rambut Nadira penuh sayang. Kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar dari sana. Meninggalkan Nadira yang masih terdiam.
Nadira bangun dari duduknya dan mengejar Devano yang belum sampai di pintu utama. "Oppa, Tunggu" kata Nadira dan mengejar Devano.
Mendengar suara Nadira membuat Devano menghentikan langkah kakinya"Ada apa, Sayang?" tanya Devano sambil menatap Nadira yang sedang berjalan ke arahnya.
Nadira tak menjawab. Wanita itu hanya semakin mempercepat langkahnya dan langsung mencium pipi kanan Devan"Love you more, Suamiku" balasnya yang tentunya seketika mampu membuat kedua sudut bibir Devano terangkat.
"Tunggu aku pulang ya, Sayang. Siap-siap untuk malam pertama kita yang sempat tertunda" bisik Devano tepat di telinga kanan Nadira sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Dasar suami mesum" balasnya sambil mengangkat sebelah sudut bibinya"Bodo amat. Aku pergi ya sayang, Jangan lupa kunci pintu" balas Devano yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaran Nadira.
"Iya, Oppa. Hati-hati. Karna ada aku yang menunggu kepulanganmu" kata Nadira sambil mengedipkan matanya serta mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Iya, Sayang. Kalau ada tamu Jangan buka pintu kalau bukan orang yang kamu kenal ya, Kamu bisa lihat lewat dulu siapa yang datang" kata Devano pada Nadira. Karna Devano takut jika tiba-tiba saja ada Nathan yang datang ke apartemen itu.
"Tetap saja aku tidak tenang, Sayang. Aku tidak mau kamu kenapa-napa. Pokoknya kamu jangan pernah buka pintu kalau tidak mengenal orangnya" pinta Devano lagi
"Iya, Oppa iya. Sudah sana pergi, Kalau begini terus yang ada nanti kamu gak jalan-jalan"
Devano menepuk jidatnya saat teringat jika sang Daddy memintanya untuk datang ke alamat yang akan di kirim oleh daddy. "Astaga, Kenapa aku bisa lupa kalau keadaannya urgent. Aku pergi sayang. Love you"
Setelah mengatakan hal itu, Devano benar-benar keluar dari dalam apartemennya. Meninggalkan Nadira yang sudah mengulum bibir saat melihat tingkah Devano.
"Apa aku sudah mulai bucin sama pak Devan ya. Ahhh, Kenapa setiap melihat tingkahnya yang seperti itu membuatku ingin terus tersenyum. Sepertinya pak Devan akan menjadi salah satu alasan ku bahagia. Salah satu alasanku tersenyum. Salah satu alasanku untuk kembali memberikan hati. Aku percaya, Dia berbeda" ujar Nadira sambil menatap pundak Devano yang sudah semakin menjauh.
Setelah itu, Nadira masuk ke dalam apartemen itu. membereskan bekas makanannya di meja makan. Kemudian memperhatikan setiap sudut ruangan apartemen yang terlihat sedikit berdebu"Dari pada bosan, Lebih baik aku bersih-bersih saja. Sepertinya apartemen ini memang sudah lama tidak di tempati" kata Nadira sambil mengusap meja di sana.
Sedangkan Devano. Setelah keluar dari apartemen, Pria itu masih menunggu anak buahnya yang sedang di jalan untuk mengantarkan mobilnya. Tak butuh waktu lama, Devano sudah bisa melihat mobilnya masuk ke area gedung apartemen.
"Mohon maaf jika membuat tuan muda menunggu agak lama. Tadi jalannya sedikit macet"
__ADS_1
"Tidak masalah. Oh ya, Saya minta kamu buat stay di sekitar unit apartemen saya. Pastikan tidak ada siapapun yang datang kesana. Apalagi Nathan dan orang suruhannya" pinta Devano pada anak buahnya. Karna memang jujur saja Devano sedikit was was untuk meninggalkan Nadira sendiri. Biarpun Devano sendiri tau jika istrinya adalah mantan atlet bela diri saat jaman sekolah menengah atas.
"Baik, Tuan. Saya akan menjaga nona di sana"
"Tapi jangan terlalu dekat. Cukup pantau dari jarak jauh saja"
Setelah mengatakan hal itu. Devano melajukan mobilnya. Melesatkan mobil itu cepat keluar dari gedung apartemen.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari sang Daddy. Devano langsung membuka pesan itu dan semakin mempercepat laju mobilnya menuju alamat yang sudah di kirimkan oleh Wardana.
Di Tempat lain
Di saat Antoni sedang menuju markas. Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari sekretarisnya di kantor. Keningnya mengerut saat melihat nama yang tertera di sana.
"Ada apa Hera menghubungiku. Bukankah hari ini tidak ada jadwal penting untukku" ujar Antonio sambil terus menatap layar ponselnya.
Nathan yang mendengar suara dering ponsel sang papa membuatnya melirik"Kenapa tidak papa angkat saja? Siapa tau saja ada hal penting yang mah Hera katakan" pungkas Nathan sambil terus melajukan mobilnya.
Antoni terdiam. Tak membalas apa yang Nathan katakan. Pria paruh baya itu hanya langsung mengusap layar hijau di sana.
📱:Halo, Hera. Ada apa kamu menelpon? Bukankah hari ini tidak ada jadwal meeting
📱:Perusahaan kita lumpuh total, Om
📱:Apa maksudmu, Hera? bicara yang jelas. Om tidak mengerti
📱: PT JM lumpuh total, Om Antoni. Perusahaan kita bangkrut
📱:Apa!! bagaimana bisa hal itu terjadi, Hera?
📱: Ini semua karna om sendiri!. Bukan kah selama ini Hera sudah mengingatkan untuk tidak mencari masalah dengan keluarga Wardana. Sekarang om tanggung sendiri akibatnya.
Betapa terkejutnya Antonio saat mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Hera, Keponakan dari istrinya. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi"Tidak mungkin" ucapnya yang terdengar sangat lirih
__ADS_1