
Satu Minggu kemudian
"Mom, Packing semua barang-barang kita. Malam ini kita kembali ke indonesia" ucap Wardana pada Lina
"Baiklah, Dad. Lalu bagaimana masalah dengan Adam? Apa semua sudah selesai? Apa Devano sudah menyelesaikan semuanya?" tanya Lina lagi. Karna memang Wardana sudah menceritakan jika semua yang terjadi pada Devano adalah ulah dari saudara tirinya.
"Entahlah, Mom. Devano juga belum menceritakan detailnya pada Daddy. Hanya saja dia meminta kita untuk segera kembali ke indonesia. Devano mau pernikahannya dengan Nadira segera di resmikan. Bahkan anak itu sudah mengurus semuanya. Acara resepsi akan di lakukan di jogja" terang Wardana lagi.
Mendengar itu membuat Lina mendekat dengan kedua sudut bibir yang terangkat. "Yang bener kan, Dad. Acara resepsi akan di lakukan di jogja? Memang sebaiknya seperti itu, Karna oma Devano juga dulu pernah meminta. Jika Devano menikah, Acara resepsi harus di kraton" ucap Lina lagi sambil duduk di samping Wardana.
"Iya, Mom. Itu Devano juga sudah meminta orang-orang suruhannya buat mempersiapkan acara resepsi di kraton"
"Baguslah kalau begitu. Bukan kah dulu bunda memang ingin jika Devano menikah, Acara resepsi harus di lakukan di jogja. Karna biar bagaimanapun, Hanya Devano cucunya yang paling tua" ucap Lina
Lina menatap pada Wardana"Lalu apa Sky sama Cristy juga ikut kembali ke indonesia, Dad?" tanya Lina pada Wardana
"Tentu, Mom. Bahkan mereka berdua juga sudah mempersiapkan semuanya"
"Syukurlah kalau begitu"
Di indonesia
Seorang pria paruh baya sedang menatap sebuah foto yang ada di tangannya. Pria itu mencengkram ujung foto nya.
"Untuk saat ini kamu boleh saja merasa menang, Devano. Tapi jangan pernah lupa, Karna kemenanganmu hanyalah bersifat sementara, Karna saya akan melakukan hal yang bisa membuat keluargamu hancur" ucap Adam sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Bersenang-senanglah dengan sisa waktu yang masih kamu miliki, Devano. Karna semua itu akan segera berakhir"
"Seandainya saja hari itu Risa tidak datang, Mungkin saat ini aku sudah bisa melihat bagaimana kehancuran keluarga Wardana"
__ADS_1
Hal itu membuat ingatan Adam kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu, Tepatnya hari di mana dirinya sudah mulai melakukan rencana liciknya untuk membuat keluarga Wardana kehilangan reputasi nya. Namun yang terjadi malah tidak sesuai dengan ekspektasi Adam.
Flashback beberapa hari yang lalu.
"Bagaimana, Apa kalian sudah menaruh obat tidur itu dalam minuman mereka?" tanya Adam pada orang-orang suruhannya.
"Sudah, Tuan. Kami sudah melalukan persia seperti yang anda minta. Dan kami yakin jika rencana kali ini pasti akan berjalan dengan mulus dan berhasil" balas salah satu dari mereka
"Good, Saya tidak mau tau, Kalian harus pastikan Devano meminumnya. Dan satu lagi, Jangan sampai ada orang yang tau tentang hal ini" ucap Adam lagi
"Tenang saja, Tuan. Saya jamin semuanya aman. Semua akan berjalan sesuai apa yang tuan inginkan" balas mereka lagi
Mendengar itu membuat kedua sudut bibir Adam terangkat, Pria paruh baya itu sudah membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Party ANNIVERSARY WARDANA GRUP
Seperti yang sudah di ketahui. Jika malam ini Devano mengadakan party untuk merayakan anniversary perusahaannya yang ke 30 tahun. Siapa saja di persilahkan datang dalam acara malam ini. Bukan hanya para pebisnis, Tapi juga para Reporter dan juga wartawan yang ikut andil dalam acara malam ini.
"Selamat malam, Pak Devano. Senang bisa hadir dalam acara anniversary perusahaan WARDANA GRUP" ucap salah satu kolega Devano sambil mengulurkan tangannya.
Devano menjabat tangan orang itu"Terimakasih sudah berkenan hadir, Pak. Silahkan nikmati hidangannya" Balas Devano sopan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Tak berselang lama, Datang Adam dan juga istrinya, Melati. Melihat kedatangan Adam membuat Devano mengepalkan kuat kedua tangannya. Ada rasa jijik saat melihat sosok itu. Namun Devano masih berusaha untuk bersikap biasa saja. Bersikap seakan dia tidak mengetahui apa yang sudah Adam lakukan selama ini.
"Selamat datang, Om" ucap Devano yang masih berusaha bersikap seperti biasanya.
"Happy anniversary buat perusahaan Wardana Grup ya, Devano. semoga kedepannya makin maju dan makin jaya" ucap Adam yang pura-pura baik di depan Devano. Padahal apa yang dia katakan sama sekali tidak sejalan dengan apa yang ada dalam hatinya.
"Saya sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran keluargamu, Devano."Batin Adam sambil mengangkat kedua sudut bibirnya. Membayangkan apa yang akan terjadi malam ini. Membayangkan kehancuran keluarga Wardana dan juga kehancuran reputasi keluarga itu.
__ADS_1
"Terima Kasih, Om. Silahkan nikmati hidangannya" gumam Devano yang masih berusaha sopan pada Adam.
Di belakang Adam, Ada Nathan bersama dengan papanya. Pria itu memberikan sebuah isyarat dengan mengedipkan sebelah matanya pada Devano. Devano yang tidak mengerti maksud dari kedipan Nathan membuatnya sedikit mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku merasa ada hal yang ingin dia katakan. Tapi apa ya" batin Devano sambil terus memperhatikan Nathan.
Setelah itu, Nathan mendekat serta langsung membisikkan sesuatu pada Devano. Berbisik dan hanya bisa di dengar olehnya.
"Berhati-hatilah, Karna Adam sedang melakukan suatu rencana jahat untuk menghancurkan reputasi keluargamu" bisik Nathan pada Devano
Mendengar itu membuat Devano mengangguk cepat. Kemudian tatapannya beralih pada Adam yang sudah duduk di sana. Tatapan yang begitu tajam serta mata yang terlihat merah.
"Sepertinya memang ini saatnya dia tau siapa Devano Wardana" batin Devano sambil terus menatap tajam Adam.
Tak lama kemudian. Acara itu pun di mulai, Devano masih berusaha bersikap biasa saja sambil memberi beberapa sambutan di sana. Padahal sebenarnya amarahnya sudah naik ke ubun-ubun.
Dari atas panggung, Devano melihat kedatangan Risa bersama dengan Reza, Mereka berdua memang semakin dekat setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
"Hai, Dev. Happy anniversary ya buat perusahaan lo" ucap Reza setelah Devano turun dari atas panggung.
"Terima Kasih sudah berkenan hadir kawan monyetku" balas Devano sambil mengulum kan bibirnya. Nadira yang mendengar itu hanya terkekeh. Wanita itu tiba-tiba saja teringat saat meeting bersama dengan Reza di restoran pelangi hari itu.
"Panggilan yang sangat unit" ucap Nadira sambil mengulum bibirnya serta melihat ke arah Reza juga Devano secara bergantian.
"Hai penguntit cantik, Senang bisa bertemu denganmu lagi" ucapnya. Karna Reza memang belum tau jika Devano dan Nadira sudah menikah.
"Hai juga pak, Reza. Akhirnya kita bertemu lagi" balas Nadira sopan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Bagaimana, Apa Devano masih suka menyulitkan mu?" tanya Reza sambil terus menatap Nadira
__ADS_1
"Sudah biasa kan, Pak"
Risa sejak tadi memperhatikan Devano yang terus menatap Nadira tanpa mengedipkan matanya. "Penguntit atau istri?" ucap Risa yang langsung bisa membuat Devano serta Reza menoleh ke arah Risa