
"Lalu bagaimana dengan Risa, Pa? Saat ini saja kita belum tau di mana keberadaan anak itu. Masa iya kita mau meninggalkan Risa sendiri" kata Melati sambil menatap Adam.
"Kalau soal Risa, Itu biar menjadi urusan papa. Sekarang mama segera bereskan semua barang-barang kita, Dua jam lagi kita akan berangkat"kata Adam sambil sekilas melirik pada Melati
Melati tak menjawab. Wanita itu hanya mengikuti apa yang suaminya perintahkan. Karna memang Melati tidak pernah berani untuk membantah.
"Ada apa sebenarnya, Kenapa papa secara tiba-tiba mengajak ku ke luar negri. Pasti ada hal yang tidak beres. Lalu bagaimana dengan nasib Risa. Ya allah, Risa. Sebenarnya kamu kemana nak? Kenapa tadi malam tidak pulang. Mama sangat menghawatirkan mu, Risa." , Melati hanya bisa membatin sambil menyiapkan koper lalu memasukkan barang-barangnya di sana.
Sedangkan Adam, Terlihat cukup bingung. Setelah memesan 2 tiket pesawat. Adam langsung menghubungi anak buahnya yang lain. Hingga tak butuh waktu lama, Seseorang di ujung telfon langsung menjawab panggilannya.
📱:Halo, Seno. Tolong kamu cari tau di mana keberadaan anak saya. Dan pastikan keadaannya baik-baik saja. Saya tidak mau tau, Kamu harus bisa menemukan Risa
📱:Baik, Tuan. Saya akan berusaha menemukan nona. Tuan tenang saja
📱:Segera. Setelah kamu bisa menemuka Risa, Kamu langsung bawa anak itu ke paris. Untuk tempat dan alamatnya, Nanti akan saya kirim
📱:Paris? Memangnya tuan mau pindah kesana
📱:Ya
Adam langsung mematikan sambungan telponnya. Memang untuk saat ini Adam memilih fokus untuk menghindar dari pencarian polisi, Hingga Adam memutuskan untuk stay di paris buat sementara waktu.
DI TEMPAT LAIN
Nathan menatap raut wajah sang mama yang masih terus terdiam dengan tatapan kosongnya. Cepat, Pa. Kita harus segera bawa mama ke rumah sakit. Nathan tidak mau mama sampai kenapa-napa" kata Nathan pada Antonio, Ayahnya.
"Iya, Nathan. Kamu tenang saja, Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit terdekat" balas Antonio sambil terus melajukan mobilnya.
Dan benar saja, Tak lama kemudian, Mereka sudah bisa melihat gerbang rumah sakit terdekat. Melihat itu membuat Antonio semakin melajukan cepat mobilnya. Hingga mobil itu terparkir sempurna di halaman rumah sakit.
Ternyata, Devano juga ikut ke sana. Devano turun dari mobilnya dan mengekor di belakang tubuh Nathan yang" sudah menggendong tubuh sang mama.
__ADS_1
"Lho tunggu di sini, Biar gue yang bantu daftar pada resepsionis"Kata Devano pada Nathan. Nathan hanya memberi anggukan pelan.
"Sus, Saya mau daftar atas nama pasien ibu Rianti" ucap Devano pada petugas resepsionis
"Baik, Mas. Kalau boleh tau ada keluhan apa?"
"Begini, Sus. Sepertinya beliau terkena gangguan mental. Apa hari ini ada jadwal dokter Psikiater?" tanya Devano pada suster itu
"Sebentar ya, Biar saya melakukan pengecekan terlebih dahulu"
Setelah menunggu, Akhirnya suster itu mengatakan jika hari ini adalah hari Weekend. Tidak ada dokter psikiater, Hanya ada dokter umum.
"Mohon maaf, Mas. Untuk hari weekend, dokter psikiater kami memang tidak ada jadwal. Hari ini hanya ada satu dokter, Yaitu dokter umum. Bagaimana? Jika masih ingin melanjutkan, Akan saya kasih tau beliau. Tapi tenang saja, Karna dokter Keenan bukan sembarang dokter. Dia mampu dalam berbagai akademik, Salah satunya menangani orang gangguan mental" terang suster itu
Mendengar nama Keenan membuat Devano teringat akan temannya"Dokter Keenan? Baiklah, Saya mau" kata Devano pada dokter itu
"Baiklah, Mas. Bisa langsung bawa pasien masuk ke dalam ruangan IGD ya. Biar saja kasih tau dokter Keenan"
Devano tak menjawab, Pria itu hanya mengangguk dan langsung berlalu dari sana. Menghampiri Nathan dan mengatakan untuk membawa sang mama masuk ke dalam ruangan IGD.
"Terimakasih, Dev. Lho sudah sangat membantu. Gue janji, Gue akan membalas kebaikan lho hari ini" balas Nathan pada Devano.
Setelah itu, Nathan dan Antonio membawa Rianti masuk ke dalam ruangan IGD. Sedangkan Devano hanya menunggu di luar ruangan sambil memainkan ponselnya.
Tak berselang lama, Ada suara langkah kaki yang sedang berjalan ke arahnya. Devano yang sedang sibuk memainkan ponselnya mengangkat wajahnya. Menoleh ke arah suara langkah kaki.
"Keenan" ujar Devano saat melihat dokter Keenan yang ternyata adalah teman kuliahnya.
"Loh, Devano. Kamu Devano Wardana kan?" tanya Keenan yang ingin memastikan"Iya, Ini gue Devano Wardana. Lo apa kabar?" tanya Devano sambil menatap ke arah Keenan.
"Kabar gue baik. Nanti kita bicara lagi, Ya. Gue masih harus periksa pasien" balas Keenan dan langsung masuk ke dalam ruangan IGD.
__ADS_1
Devano menatap punggung Keenan yang sudah masuk ke dalam ruangan IGD"Keenan, Gak nyangka bisa ketemu dia di sini" ucap Devano pelan.
Devano kembali duduk dan memainkan ponselnya lagi. Devano menghubungi nomor Nadira dan mengatakan jika berhasil dalam melakukan misi penyelamatan mamanya Nathan. Tak butuh waktu lama, Nadira sudah menjawab panggilannya.
📱:Hallo, Sayang. Kamu lagi dimana?
📱:Ya, Oppa. Aku lagi di kampus. Ada hal yang harus aku urus sekarang. Oh iya, Bagaimana misinya, Oppa? Semuanya baik-baik saja kan?
📱:Alhamdulliah urusan di sini sudah selesai, Sayang. Sekarang aku lagi di rumah sakit. Nanti aku telfon lagi ya, Oh iya, Nanti aku jemput kamu ke kampus, Kita makan siang bareng
📱:Iya, Oppa. See u oppa.
Setelah itu, Mereka sama-sama memutusakan sambungan telponnya.
"Dev" panggil seseorang dan berhasil membuat Devano menoleh ke arah sumber suara. Suara yang tidak terlalu asing menerpa indra pendengarannya kembali. Devano menatap tak suka pada orang itu.
"Dev, Kamu di sini juga?" tanya nya sembari melangkah menuju tempat Devano"Hmmm" balas Devano dengan nada dinginnya.
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Devano membuat wanita itu mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar.
"Aku tau apa yang sudah aku lakukan keterlaluan, Tapi aku mohon, Maafkan apa yang sudah aku perbuat terhadapmu, Dev. Sekarang aku sadar, Betapa bodohnya aku sudah menyianyiakan laki-laki sebaik dan sesempurna dirimu. Sekali lagi maafkan aku, Dev" kata Ratna yang terdengar sangat lirih.
"Hmmm. Bukan kah semuanya sudah berlalu. Biarlah yang lalu menjadi kenangan, Tidak perlu lagi di ungkit apa lagi di ingat" jawab Devano tanpa menoleh pada Ratna
"Tapi apa aku masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Apa aku masih memiliki ruang di dalam hati kamu?" tanya Ratna sambil menatap Devano
"Jangan menghayal. Saya dan kamu hanyalah masa lalu kelam yang tak perlu di ingat apalagi di ulang. Karna saya sudah memiliki masa depan bersama dengan wanita yang tentunya tidak seperti dirimu"
Mendengar itu membuat Ratna teringat pada saat di lampu merah. Saat dimana Ratna melihat Devano bersama dengan seorang wanita"Memangnya siapa wanita itu?" tanya Ratna lagi yang memang begitu penasaran.
"Wanita sempurna yang saat ini sudah menjadi istriku"
__ADS_1
"Apa!!! Kamu sudah menikah?"
Devano tak lagi menjawab, Merasa cukup malas jika berlama-lama ada di samping Ratna. Hingga Devano memutuskan untuk pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah katapun. Meninggalkan Ratna yang masih terlihat sangat penasaran.