
Di Tokyo
Widia yang merasa begitu bosa akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan rawat inapnya. Tepat saat tiba di luar, Wanita itu berpapasan dengan Daniel yang baru saja keluar dari ruangan yang ada di sebelahnya. .
"Mau kemana?" Daniel menatap pada Widia yang masih terdiam di sana. Setelah mendengar Daniel telfonan saat itu membuatnya mengira jika saat ini Daniel sudah memiliki istri dan juga anak.
"Mau kemana?" tanya Daniel lagi. Marna Widia masih terus dia tanpa menjawab sepatah katapun.
"A-aku bosan. Mau ketaman" balas Widia tanpa menoleh pada Daniel. Membuat pria itu sedikit tidak paham dengan tingkah Widia yang tiba-tiba saja berubah.
"Ada apa denganmu?" tanya Daniel yang merasa ada yang berbeda dari Widia.
"Tidak ada. Kenapa memangnya? Sudahlah, Mulai sekarang kamu tidak perlu pedulikan aku lagi. Stok urus hidup aku" kata Widia tanpa menoleh pada Daniel.
Mendengar hal itu membuat Daniel sedikit mengerutkan keningnya" Kenapa? Memangnya apa salahnya kalau aku mau perduli terhadapmu. Memangnya tidak boleh" jawabnya.
Namun Widia tak menggubris apa yang dia dengar dari Daniel. Wanita itu melangkahkan kakinya dan meninggalkan Daniel yang sudah terlihat semakin tidak mengerti dengan Widia.
Daniel mengekor di belakang Widia. Mengikuti nya hingga ke taman yang ada di samping rumah sakit.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Widia? Kenapa aku merasa kamu seperti menghindari ku. Memangnya aku ada salah?" Daniel duduk di samping Widia sambil menatap wajah wanita itu.
"Tidak ada. Sudah sana pergi. Tidak usah ikuti aku, Biarkan aku sendiri di sini"
Tak berselang lama, Ada suara anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan ayah. Membuat Daniel langsung menoleh pada sumber suara. Bahkan bukan hanya Daniel, Widia juga ikut menoleh ke arah sumber suara itu.
"Fika" ujar Daniel sambil duduk dan memeluk Fika. Sosok gadis kecil yang dia ambil dari panti asuhan satu tahun yang lalu.
__ADS_1
"Ayah" panggil Fika
"Fika ngapain kesini, Nak? Sebentar lagi kan ayah pulang" Daniel menatap Fika yang sudah tersenyum padanya.
"Tau nih Nil. Fika dari tadi maksa minta kesini. Katanya ingin cari mama di sini" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah mama dari Daniel.
"Fika ada-ada saja. Memangnya barang bisa di cari segampang itu" balasnya sambil mengusap lembut rambut Fika.
"Tapi Fika ingin segera memiliki mama, Ayah. Seperti teman-teman Fika yang sering di ajak main bersama dengan ayah dan juga mamanya" timpal Fika pada Daniel.
Hal itu membuat Daniel terdiam untuk beberapa saat. Pria itu mengambil nafas dalam "Sabar ya, Sayang. Ayah sedang berusaha mencarikan mama untuk Fika"
"Iya tapi kapan, Ayah. Bukan kah selama ini ayah selalu berkata seperti itu. Tapi harus sampai kapan Fika menunggu?"
Biarpun usianya masih 2 tahun, Entah kenapa anak itu sangat pintar. Bahkan lebih pintar dari pada anak-anak sebayanya.
Sedetik kemudian. Fika menatap pada Widia yang memang sejak tadi menatapnya. Wanita itu merasa seperti sangat dekat dengan anak kecil itu. Kedua matanya yang terlihat sendu membuat Widia merasa ada kedekatan.
Pelukan ini, Kenapa terasa sangat menenangkan. Batinnya. Wanita itu ikut membalas pelukan Fika. Mengusap lembut rambut Fika. Widia merasa seperti ada ikatan batin dengannya.
"Kenapa aku merasa seperti sangat dekat dengan anak ini. Bahkan setelah melihatnya, Aku merasa tenang. Seakan rasa rinduku terhadap anakku terobati" Widia membatin sambil terus memeluk Fika.
"Tante mau kan jadi mama aku?"
Di Tempat Lain
"Risa, Kamu mau sampai kapan seperti ini terus, Nak. Mana Riss yang dulu? Kemana Risa yang selalu terlihat ceria dan penuh dengan semangat" ujar Melati, Mama dari Risa.
__ADS_1
Risa tak menjawab, Wanita itu hanya mengeluarkan air matanya seperti biasa. Semenjak kejadian malam itu, Melati dan juga Adam tidak pernah mendengar suara Risa lagi.
"Risa, Mama mohon sayang. Hanya kamu satu-satunya harapan yang mama miliki. Jika kamu seperti ini terus, Bagaimana denhan nasib perusahaan kita. Kamu adalah satu-satunya pewaris tunggal semua kekayaan mama dan juga papa, Risa. Lupakan Devano. Masih banyak pria lain yang jauh lebih baik dari pada Devano"
Mendengar itu membuat Risa membalikkan tubuhnya. Menatap tajam sang mama yang ada di ambang pintu.
"Apa mama sadar dengan apa yang mama katakan? Apa mama pernah memikirkan bagaimana perasaan Risa? Apa mama tau betapa sulitnya Risa melupakan dan menghapus semua rasa ini? Apa mama tau. Ma, Selama setahun lebih, Riss terdiam dan mengurung di sini biar apa? Itu semua Risa lakukan agar Riss tidak pernah lagi bertemu dengan kak Devano. Selama itu, Riss mencoba melupakannya. Tapi nyatanya apa? Risa tidak bisa, Ma. Setiap hari perasaan Riss semakin tumbuh besar" ucap Riss yang terdengar sangat lirih
Ini pertama kalinya Melati mendengar suara Risa setelah lebih dari satu tahun hanya terdiam tanpa mau mengeluarkan sepatah katapun.
"Ajarkan pada Risa bagaimana caranya melupakan laki-laki yang memang tidak seharusnya Risa cintai. Katakan bagaimana caranya, Ma?" tanya Risa sambil menatap sang mama
"Ada, Hanya ada satu caranya" balas Melati sambil mendekat pada Risa.
"Apa, Ma? Katakan pada Risa"
"Move on! Kamu hanya perlu move on sayang. Buka hati untuk laki-laki lain. Karna caramu untuk melupakan. Devan dengan mengurung diri serta terdiam di sini itu adalah salah besar. Keluarlah, Lihat dunia sudah sangat merindukanmu. Kamu buktikan pada Devano jika kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh dari pada dia" pekik Melati pada Risa.
Mendengar itu membuat Riss terdiam. Masih mencerna apa yang baru saja di katakan oleh sang mama. Jika di pikir, Apa yang di katakan Melati memang benar. Risa hanya perlu move on dan mencari pengganti Devano.
Mungkin memang apa yang di katakan oleh mama benar. Aku barus move on, Aku tidak boleh seperti ini terus, Karna harapan mama dan papa hanyalah aku.
Risa membatin sambil menatap keluar jendela. pikirannya sedikit terbuka setelah mendengar perkataan sang mama yang memang ada benarnya.
"Baiklah. Siapkan aku mobil. Hari ini Risa ingin keluar"
Setelah mengatakan hal itu Risa langsung berlalu dari hadapan sang mama. Masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya di sana yang hanya sesaat.
__ADS_1
15 menit kemudian. Risa sudah siap dengan celana jeans, Baju seperut serta kaca mata hitam yang sudah melekat pada tempatnya.
"Benar kata mama, Aku harus move on. Aku harus bisa menemukan pengganti kak Devano. Tapi aku harus mencarinya di mana"