
"Aku akan mencaritahu siapa dalang dari semua ini. Siapapun itu, Dia akan menerima ganjaran yang setimpal" ucapku sambil mengepal kuat kedua tanganku.
Setelah selesai mengganti ban mobil, Aku masih memeriksa kembali keadaan mobil itu, Memastikan jika semuanya memang baik-baik saja"Ada masalah dengan mobilnya, Pak?" tanya Nadira yang tiba-tiba saja ada di sampingku.
"Sudah aman, Ayo kita kembali sekarang. Hari sudah semakin malam" balasku. Karna saat aku melihat jam, Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 20:00.
Saat sudah di dalam mobil, Aku liat ternyata ponselku mati, Padahal awalnya aku ingin mengabarkan pada mommy jika kami berdua sedang ada di jalan arah pulang.
"Yah kok malah mati, Oh ya Nad, Boleh pinjam ponsel kamu, Soalnya saya mau menghubungi mommy, Tapi ponsel saya mati" ucapku pada Nadira
Nadira langsung mengeluarkan ponselnya, Namun ternyata ponsel milik Nadira juga kehabisan baterai"Yah ponsel saya juga mati, Pak" balasnya
"Ya sudah. Mana saya lupa gak bawa charger" gumamku pelan
Aku terus melajukan mobilku, Perjalanan tak semulus yang aku pikirkan, Karna tepat saat sudah setengah jalan, Tiba-tiba saja ada insiden lagi yang membuat kami berdua kembali harus menepi.
"Ada apa di depan ya, Pak? Kok ramai sekali" tanya Nadira sambil menatap ke depan, Di mana di sana sedang terlihat kerumunan. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Kami berdua yang sudah penasaran akhirnya turun dari sana, Setelah sampai di sana, Aku lihat Nadira menutup mulutnya. "Astaga, Widia" ucapnya sambil terus menutup mulutnya saat melihat wanita yang sedang terbaring dengan penuh darah. Sepertinya wanita ini adalah korban kejahatan, Karna memang tempatnya cukup sepi.
Keningku mengerut"Kamu mengenalnya?" tanyaku pada Nadira. Nadira mengangguk"Iya, Pak. Dia adalah Widia, Mantan istrinya Nathan" balas Nadira
"Kita bawa ke rumah sakit" karna Nadira mengenalnya, Aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, Melihat luka di beberapa bagian membuatku merasa iba. Aku meminta orang-orang untuk menghubungi ambulans.
Hingga cukup lama menunggu, Ambulans itu pun datang. Tubuh Widia langsung di bawa masuk ke dalam ambulans itu. "Apa yang terjadi?" tanya Nadira pada orang-orang yang lebih dulu di sana. ..
"Entah... Tadi wanita ini hanya berteriak minta tolong lalu memekik kesakitan, Saat kami kesini, Ternyata dia sudah terbaring dengan penuh darah" terang salah satu orang di sana.
Nadira mengambil nafas dalam, Aku lihat ada raut sedih dari wajahnya saat melihat kondisi wanita yang bernama Widia, Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiran wanita itu.
Aku menoleh pada Nadira yang masih terdiam mematung sambil terus menatap tubuh wanita itu yang sudah ada di dalam ambulan. Kedua matanya berkaca-kaca, Membuatku tidak paham. Memang dulu Nadira sempat mengatakan jika mantan kekasihnya selingkuh dengan wanita yang bernama Widia. Tapi apakah wanita ini orangnya? Pikirku.
__ADS_1
"Mau tetap di sini atau ikut mengejar mobil ambulans itu?" tanya Devano pada Nadira.
Perkataan Devano membuat Nadira tersadar"Kita ikuti pak. Aku ingin tau bagaimana keadaannya" jawab Nadira cepat serta masuk ke dalam mobil.
Devano ikut masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya, Mengikuti mobil ambulans itu. di sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan, Karna Nadira hanya diam saja.
"Kamu harus bertahan, Widia. Biarpun dulu kamu sudah membuatku kecewa, Tapi aku masih sangat ingat jika kamu pernah menjadi sahabat baikku saat jaman SMA" batin Widia dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ayo pak, Kita kejar ambulans itu" ucap Nadira pada Devano.
"Iya, Tapi pelan-pelan saja ya. Jangan sampai membahayakan keselamatan kita" balas Devano
Ajiiiimmmmmm
Suara bersin Nadira menyadarkan Devano dari kejadian kemarin. Pria itu kembali menatap Nadira yang masih setia duduk di sampingnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. Ahhhh kenapa aku malah memikirkan hal itu. Lebih baik untuk saat ini aku fokus pada malam pertamaku dengan Nadira saja" batin Devano dan kembali menatap kedua bola mata indah milik Nadira.
"Duuuuhhh, Kenapa aku jadi nervous begini ya, Apa iya malam ini akan menjadi malam yang membuat aku dan Nadira menjadi kita" batin Devano lagi
"Duuuhh, Kenapa rasanya panas dingin begini. Aku harus menjawab apa. Apa iya harus secepat ini? Tapi apa aku sudah siap menyerahkan harta terbesarku pada pak Devan" batin Nadira sambil terus terdiam. Jantungnya berdetak sangat cepat, Apa yang dia dengar dari Devano sudah membuatnya mematung.
"Apa kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya?" tanya Devano lagi pada Nadira.
"Memangnya harus secepat itu ya, Pak?" jawabnya "Pak lagi. King oppa" tegur Devano saat Nadira tetap memanggilnya dengan sebutan pak.
Lagi-lagi perkataan Devano membuat Nadira semakin merona"Iya, King oppa" balasnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Cukup lama kamar itu senyap. Tidak ada sepatah katapun yang keluar, Baik Devano ataupun Nadira, Mereka berdua hanya saling lirik. Hingga tak berselang lama, Nadira menjawab pertanyaan Devano.
"Jika memang oppa mau malam ini, Aku sebagai istri ikut bagaimana baiknya" jawab Nadira polos.
__ADS_1
Astaga, Jawaban Nadira polos sekali ya, Mendengar jawaban dari Nadira membuat Devano mengulum bibirnya"Pasrah sekali sayang" ujarnya
"Bukankah tadi oppa bilang lebih cepat lebih baik"
Devano yang mendengar jawaban Nadira tentu saja langsung mengangkat kedua sudut bibirnya. "Ganti baju dulu gih" ucap Devano saat melihat Nadira masih menggunakan baju santai.
"Pakai piyama?" tanya Nadira polos
"Kok piyama. Kita kan mau malam pertama sayang, Masa iya mau pakai piyama" balas Devano"Lalu kalau bukan piyama apa dong oppa?" tanya Nadira lagi
"Lingerie. Kamu pasti memilikinya kan?" Nadira terdiam, Tiba-tiba saja dia teringat akan kado pernikahan yang di berikan oleh Bella siang tadi.
"Ini baju apa, Bell? Kenapa seperti kurang bahan begini?"
"Ini Lingerie namanya. Jangan lupa kamu pakai malam ini. Aku jamin, Kak Dev akan langsung terpana melihatnya"
"Gak mau, Masa iya aku mau pakai baju kurang bahan begini. Nanti yang ada bagian tubuh sensitif ku kelihatan dong. Gak mau! Pak Devan kan agak mesum"
"Elah, Nanti juga kalian akan sama-sama polos" balas Bella sambil terkekeh.
"Sayang. Kok malah diam saja. Kamu pasti punya Lingerie kan?" tanya Devano lagi saat melihat Nadira masih diam
"Duuuhhh bagaimana ini, Masa iya aku harus pakai baju kurang bahan itu. Kan malu" batin Nadira
"Lingerie?" tanya Nadira pada Devano dengan wajah merahnya
Buat kalian yang penasaran dengan visual Devano dan juga Nadira. Sini-sini merapat, Author bakal kasih liat😅
Devano Wardana. Pria tampang dengan hidung mancung, Mata sipit dan bibir merah. Dingin dan menyebalkan. Tapi punya hati yang baiknya luar biasa. Suka perduli sama orang lain.
__ADS_1
Nadira sky puspita. Gadis cantik dengan hidung mancung, Mata indah dan bibir ranum. Baik hati keras kepala. Suka mancing emosi Devano😅