
15 menit kemudian. Risa sudah siap dengan celana jeans, Baju seperut dan kaca mata hitam yang sudah di pasang pada tempatnya.
Wanita itu menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin"Benar apa kata Mama, Aku harus move on. Aku harus bisa menemukan pengganti kak Devano. Tapi aku harus mencari di mana" ujarnya sambil menatap dirinya sendiri.
Setelah cukup lama menatap dirinya di cermin, Riss keluar dari dalam kamarnya. Hari ini sang papa memang tidak ada di rumah. Karna pria paruh baya itu sedang sibuk mengurus hal penting hingga membuatnya pergi sejak tadi pagi sekali.
Di bawah, Riss sudah bisa melihat keberadaan mamanya di ruang tengah"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Melati pada Risa
"Iya, Ma. Risa pergi dulu" gumam Riss dan langsung berlalu dari hadapan mamanya.
"Hati-hati, Risa"
Melati menatap punggung Risa yang sudah keluar dari dalam rumahnya. Ada sedikit rasa lega. Karna setidaknya ini adalah pertama kalinya Risa mau keluar dari rumah setelah lebih satu tahun hanya berdiam mengurung diri di sana.
Risa masuk ke dalam mobilnya. Membawa mobil itu keluar dari halaman rumahnya. Membelah jalan yang hari terlihat sangat cerah.
"Udaranya nyaman sekali. Rasanya aku sudah sangat lama tidak merasakan udara segar ini" gumamnya sambil membuka atap mobilnya. Merasakan udara sejuk serta angin sepoy di sana.
"Pergi ke mall enak kali ya. Sudah lama juga tidak kesana" ujar Risa lagi
Mobil itu terus membelah jalan menuju mall plaza. Hari ini Riss ingin menghabiskan waktu di luar. Namun sesekali dirinya mengambil nafas dalam. Karna merasa sangat kesepian tidak memiliki satu teman pun.
Lagi dan lagi, Di saat seperti ini membuat Risa teringat akan Devano. Karna memang dulu Devano yang selalu setia menemani kemanapun Risa pergi. Hingga kebersamaan itu membuat perasaan Risa tumbuh begitu saja. Perasaan yang semakin hari semakin besar.
Risa menggelengkan kepalanya cepat "No Risa, Kamu harus move on! Tidak perlu lagi mengingat akan perasaanmu terhadap kak Dev. Karna dia itu kakak kamu, Iya, Dia hanyalah kakak mu. Sebatas kakak tidak lebih" ujar Risa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
30 Menit kemudian, Mobil itu sudah sampai di mall plaza tujuan Risa. Dia memarkirkan mobilnya serta langsung turun dari sana. Namun saat Risa masih menutup pintu mobilnya, Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengambil tas milik Risa. Membuat wanita itu cukup terkejut.
"Aaaa copet...Copet tolong... Copet" ucap Risa sambil mengejar pencopet itu. Karna memang belum sempat sarapan, Risa tidak kuat lagi untuk mengejarnya.
"Ahhhh, Bagaimana ini. Kenapa sial sekali hidupku. Mana semua uang dan kartu kreditku ada di sana. Ponselku juga. Bagaimana caranya aku menghubungi mama" Risa duduk di sana karna merasa kakinya cukup lelah.
10 Menit kemudian, Tepat saat Risa sudah mau kembali masuk ke dalam mobilnya, Ada seseorang yang datang membawa tas nya yang tadi di ambil oleh pencopet.
"Ini tas milikmu kan, Nona?" ujar pria itu sambil menyerahkan tasnya pada Risa.
Di tempat Lain
"Mama.....Mama...." panggil Alex yang baru saja masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya.
Isma yang mendengar suara Alex memanggil namanya tentu saja membuat wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya. Ada apa dengan anaknya? Tumben pagi-pagi begini sudah datang ke rumahnya.
Alex terdiam. Wajahnya terlihat cukup menyedihkan pagi ini. Membuat Isma tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan anak semata wayangnya ini.
"Ada apa denganmu, Alex?" tanya Isma lagi
"Mama, Saat ini Alex membutuhkan bantuan mama" pekiknya sambil menatap sang mama
Isma mengerutkan keningnya"Membutuhkan bantuan mama? Tumben" balasnya
"Tolong mama bantu Alex untuk kali ini, Alex mohon ma. Sekarang Alex sudah sadar jika Farah adalah istri terbaik pilihan mama. Alex tidak mau berpisah dengannya ma" ucap Alex pada Isma.
__ADS_1
"Loh, Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini, Alex. Kenapa sekarang sudah berubah pikiran? Seharusnya kamu senang dong bisa pisah sama Farah dan bisa kembali lagi dengan wanita tak berguna itu"
Alex terdiam saat mendengar perkataan sang mama. Pasalnya untuk saat ini dia sudah tidak membutuhkan Vanya lagi. Terlebih Vanya sudah menikah dengan Adit tanpa sepengetahuannya.
"Alex menyesal, Ma. Maafkan Alex yang selama ini tidak pernah menghargai Farah sebagai istri Alex" kata Alex lagi
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu mengatakan hal itu, Alex. Apa kamu sudah tau bagaimana sifat asli wanita tak tau diri itu"
Lagi-lagi perkataan Isma membuat Alex terdiam. Tidak tau harus mengatakan apa lagi. Tapi untuk saat ini, Alex hanya ingin memperbaiki semuanya.
"Kamu dengar baik-baik, Alex. Sebenarnya dulu alasan mama tidak merestui hubungan kamu dengan Vanya karna dia sering menjadi simpanan pria beristri. Salah satunya om kamu sendiri"
"Apa!! Jadi sebenarnya mama sudah tau bagaimana kelakuan Vanya? lalu kenapa mama tidak mengatakan pada Alex?"
"Iya, Mama sudah tau segalanya tentang Vanya. Bagaimana latar belakang hidupnya. Bagaimana latar belakang keluarganya. Setiap kamu dekat dengan wanita, Mama akan selalu meminta Johan untuk mencari tau bagaimana kepribadian wanita itu, Termasuk Vanya. Karna mama tidak akan membiarkan anak mama satu-satunya salah dalam memilih pasangan hidup. Pasangan yang akan menemani kamu hingga kelak nanti" terang Isma
"Tepat saat mama sedang ada acara di panti, Mama tidak sengaja melihat Farah. Wanita yang dengan sangat mudah mengambil hati mama saat itu. Tingkahnya yang begitu sopan membuat mama ingin menjadikannya sebagai anak. Oleh karena itu, Mama langsung memutuskan untuk menjodohkannya denganmu. Awalnya mama pikir cinta akan datang dengan seiring berjalannya waktu. Tapi.. mama salah" ucap Isma lagi.
Wanita itu duduk di samping Alex dengan mengambil nafas sejenak. "Biarpun kalian tinggal terpisah dengan mama, Namun mama selalu meminta Johan untuk memantau. Hingga bertahun-tahun berlalu. Mama sama sekali tidak pernah mendapatkan kabar baik, Yang mama dapatkan hanyalah kamu yang selalu memperlakukan Farah dengan kasar. Memperlakukannya dengan sesuka hatimu. Apa kamu sadar bagaimana dengan perasaan Farah saat itu? Apa kamu sadar, Sudah berapa banyak luka yang kamu goreskan, Alex?"
"Dan setelah mama mendapatkan kabar jika Farah ternyata adalah anak dari Wardana, Membuat mama pasrah untuk melepasnya. Mungkin memang sebaiknya kalian berpisah," ucap Isma lagi
Mendengar kalimat terakhir dari sang mama, Membuat Alex mengangkat wajahnya"Tidak, Ma. Alex tidak ingin berpisah dengan Farah. Tolong bantu Alex untuk mendapatkan hatinya kembali, Ma," ucap Alex yang terdengar sangar lirih.
"Kenapa? Apa kamu sudah menyesal? Satu hal yang mungkin selama ini tidak pernah tau tau, Alex. Penyesalan memang akan selalu datang di saat kita sudah kehilangan."
__ADS_1
"Berjuanglah sendiri, Alex. Karna selama ini sudah cukup buat mama memperjuangkan kebahagiaan kamu. Memperjuangkan tentang kebaikanmu. Sekarang mama mau kamu mengusahakannya sendiri. Perjuangkan Farah dengan caramu sendiri" kata Isma dan langsung berlalu dari hadapan Alex.