
Jangan pernah mengganggu aku lagi, Nathan. Karna sebentar lagi aku akan segera menikah. Lupakan semua masalalu kita yang memang tak seharusnya ada
Kata-kata itu kembali terngiang. Nathan terus menatap Devano dengan tatapan tidak suka"Jangan bilang kalau pria itu adalah calonnya Nadira. Tapi kalau pun iya, Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan pria itu merebut hal yang seharusnya menjadi milikku. Selama janur kuning belum melengkung, Itu artinya Nadira masih bisa aku perjuangkan" ujar Nathan sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.
Kedua orang tua mereka hanya saling pandang"Sepertinya aku harus segera memberitahukan perihal rencanaku pada mereka secepatnya. Atau bahkan kalau perlu malam ini juga" batin Wardana sambil terus memperhatikan Devano juga Nadira yang masih belum melepaskan pelukannya.
"Sepertinya memang Nadira calon pengganti yang tepat untuk Devano. Setelah pulang dari sini, Aku harus memberitahukan perihal rencanaku pada Daddy" Kali ini Lina yang membatin sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya. Ada rasa bahagia saat melihat mereka berdua.
Hingga tak lama kemudian, Suara Devano menyadarkan mereka berdua. "Ehheeeeeemm" ucap Zein yang terdengar begitu nyaring di sana.
Mendengar itu membuat Nadira dan juga Devano melepaskan pelukannya. Mereka berdua sampai lupa jika saat ini sedang ada di acara yang di hadiri begitu banyak orang dari berbagai kalangan.
"Astaga, Memalukan sekali. Kenapa tadi aku harus membalas pelukan pak Devano" batin Nadira sambil menundukkan wajahnya. Merasa malu saat tersadar jika mereka berdua berpelukan di depan banyak orang. Bahkan ada beberapa dari mereka yang merekam momen romantis yang sejak tadi mereka saksikan secara gratis. Benar-benar seperti yang ada di film drama korea.
Setelah itu. Nadira dan Devano duduk serta kembali mengikuti acara lelang sampai selesai. Mereka berdua sesekali saling curi pandang. "Ada apa dengan jantungku. Kenapa saat menatap mata Nadira rasanya mau lepas dari tempatnya. Kalau seperti ini terus, Bisa-bisa aku jantungan" batin Devano sambil berusaha menetralisir kondisi jantungnya yang sudah mulai tidak baik-baik saja.
4 Jam pun berlalu. Setelah acara lelang, Mereka semua keluar dari dalam gedung itu"Dev, Kamu menginap di mana?" tanya Wardana pada Devano
"Eemmm semalam Devano menginap di hotel milik kak Zein dad. Kenapa memangnya?" tanya Devano balik.
"Bagaimana kalau Devano tinggal di apartemen om saja. Kebetulan masih ada kamar kosong di sebelah kamar Nadira" timpal Sky
"Janganlah, Om. Nanti malah ngerepotin" balas Devano yang merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Ngerepotin gimana sih. Ya nggaklah, Malah saya senang karna rumah jadi rame, Gak sepi kayak biasanya. Iya kan ma?"
"Benar itu. Gak papa lah kamu tinggal di apartemen kami saja. Lagian kita kan keluarga, Jangan merasa tidak enak seperti itu. Apa kamu lupa bagaimana dulu. Kamu kan sering menginap di rumah tante, Tidur sama Nadira lagi"
"Hah!" ucap Nadira juga Devano secara bersamaan.
Jawaban mereka berdua membuat Lina mengulum bibir"Tidak perlu terkejut. Karna memang dulu kalian sering tidur bersama. Bahkan Nadira suka nangis saat Devano harus pulang karna sekolah" lanjut Lina
"Masa sih tante" balas Nadira sambil melirik pada Devano yang sudah mengulum bibirnya.
"Iya. Kalau tidak percaya tanya saja sama om dan juga mama, Papamu. Jadi lebih baik kalian pulang bersama" ucap Lina dan langsung mengajak suaminya serta Cristy dan Sky keluar dari sana. Meninggalkan Devano dan juga Nadira hanya berdua saja.
"Masa iya waktu kecil aku kayak gitu. Ih memalukan sekali. Ini yang ada pak Devano bisa besar kepala saat mendengar apa yang dikatakan oleh mama juga tante Lina" Batin Nadira sambil melirik Devano.
Ya, Saat masih kecil Devano memang tidak memanggil Nadira dengan namanya. Pria itu memiliki panggilan khusus untuk sosok yang menurutnya sempurna. Yaitu Berlian. Karna menurut Devano itu panggilan yang cocok untuk gadis kecil yang sudah berhasil mengambil hatinya. Berlian, Karna memang gadis itu sangat berharga.
Sedangkan Nadira. Wanita itu tidak memanggil nama pria yang dulu sering menginap di rumahnya dengan namanya. Bahkan Nadira sendiri tidak tau jika nama pria itu adalah Devano. Nadira memanggilnya dengan sebutan King oppa, Yang memiliki arti Raja. Karna menurut Nadira kecil, Paras pria itu sangatlah tampan. Seperti raja-raja yang ada di drama korea.
"Berlian- King oppa" ucap mereka tanpa sadar yang sama-sama menyebut panggilan mass kecil merek.
"Kamu masih ingat panggilan itu?" tanya Devano pada Nadira.
Nadira mengangguk pelan"Kamu juga masih ingat sama panggilan King Oppa?" tanya Nadira balik
__ADS_1
Devano juga mengangguk sambil terus menatap Nadira" Bagaimana aku bisa lupa, Itu kan panggilan kesayangan dari Berlianku. Jadi berlian yang selama ini aku cari adalah kamu?" ucap Devano lagi.
"Jadi King Oppa yang selama ini aku rindukan adalah bapak. Sosok menyebalkan yang selalu menguji kesabaran saya"
"Apa kamu bilang, Sosok menyebalkan yang selalu menguji hati? Lalu bagaimana dengan kamu, Yang selalu menyebalkan dan selalu membuat saya emosi"
"Astaga. Kenapa king oppa ku yang dulu begitu lembut berubah seperti ini. Ya ampun mimpi apa aku"
"Heh, Kenapa juga sosok Berlian ku yang sangat manis malah berubah menjadi modelan begini. Apa aku salah masuk dunia kenyataan"
Mendengar perkataan Devano membuat Nadira merasa kesal"Iiiiihhhh, Menyebalkan banget sih kamu paakkk!!!"
"Yeeeee. Memangnya situ tidak ngeselin. Dasar tak sadar diri!" balas Devano yang tidak mau kalah.
Kedua orang tuanya yang sejak tadi mengintip di luar ruangan langsung menepuk pelan jidat mereka. Beberapa saat yang lalu, Saat mereka keluar dari dalam gedung, Lina dan juga Wardana menceritakan semuanya pada Sky juga Cristy. Bahkan mereka berdua juga sudah mengatakan perihal perjodohan.
"Astaga. Sepertinya mereka akan menjadi pasangan tom and Jarry deh. Duuuh kelakuannya" ucap Lina sambil terus menatap Devano dan Nadira yang masih berdebat di sana.
"Ini kita masih mau tetep di sini tau pulang?" tanya Devano setelah merasa cukup lelah berdebat dan tidak akan ada ujungnya.
"Ya pulanglah, Saya juga capek debat sama bapak yang menyebalkan" ujar Nadira dan langsung berlalu dari hadapan Devano
"Dasar tak sadar diri. Memangnya dia pikir saya tidak"
__ADS_1