Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Ruangan bawah tanah


__ADS_3

"Hmmm. Gue hanya melakukan hal yang memang seharusnya gue lakukan. Gue tidak akan pernah ingkar dengan apa yang pernah gue katakan" ujar Nathan dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Nathan dan papanya yang ikut masuk ke dalam mobil mereka sendiri.


Setelah itu, Mereka sama-sama melajukan mobilnya keluar dari basement apartemen Rainbow city. Membelah jalan pagi yang cukup terlihat padat seperti hari-hari biasanya.


Devano mengambil ponselnya, Menghubungi om Firman yang memang sudah Devano minta untuk mengawasi tempat itu. Tak butuh waktu lama, Om Firman sudah menjawab panggilannya. .


📱:Halo, Om. Bagaimana situasi di sana?


📱:Aman, Tuan muda. Sepertinya hari ini yang berjaga tidak terlalu berbahaya.


📱:Baiklah, Saya, Nathan dan juga Antonio sedang di perjalanan.


Devano memutuskan sambungan telfonnya. Terus melajukan mobil itu menuju lokasi penyekapan mama dari Nathan. Yang sudah menjadi korban dari Adam.


DI TEMPAT LAIN


Seorang pria paruh baya tengah menundukkan wajahnya dengan tangan yang cukup gemetar. Setelah apa yang dia lakukan di ketahui, Membuatnya merasa sangat ketakutan.


"Cepat katakan, Siapa yang sudah menyuruh anda menukar semua material itu?" tanya Heru sambil menatap tajam pak Bambang.


Pak Bambang tak langsung menjawab. Masih menundukkan wajahnya. Wajah yang seketika menjadi sangat pucat pasi. Selain takut akan apa yang harus dia terima dari Devano, Pak Bambang juga takut jika dia akan kehilangan pekerjaannya setelah masalah ini.


"Kenapa anda hanya diam saja? Cepat katakan. Siapa yang sudah berani-beraninya meminta anda untuk melakukan ini? Kalau anda masih tidak mau menjawab, Jangan salahkan saya jika saya melakukan kekerasan" kata Heru yang sengaja ingin menggertak pak Bambang.


Gertakan itu tentu langsung berhasil membuat pak Bambang membuka suaranya.

__ADS_1


"B-baiklah. Saya akan mengatakan siapa yang sudah menyuruh saya untuk melakukan semua itu. Tapi saya terpaksa melakukannya, Saya terpaksa karna hari itu saya sangat membutuhkan uang untuk pengobatan istri saya" balas pak Bambang yang terdengar sangat lirih.


"Cepat katakan! Siapa yang sudah menyuruh anda?" tanya Heru lagi


"Tuan Adam" balas pak Bambang cepat


Mendengar nama Adam, Heru melirik pada salah satu temannya. Ternyata apa yang di pikirkan oleh Devano memang benar adanya, Jika dalang dari semua ini adalah Adam.


Heru memberikan isyarat pada temannya untuk melepaskan pak Bambang dan membiarkan pria paruh baya itu untuk pergi dari sana. Namun sebelum itu, Heru mengatakan satu hal yang membuat pak Bambang terdiam. Lidahnya terasa sangat kelu untuk menjawab apa yang dia dengar dari Heru.


"Lepaskan dia" kata Heru pada kedua temannya.


"Anda masih beruntung, Pak Bambang. Karna dia hanya meminta saya untuk menanyakan siapa yang sudah menyuruhmu. Satu hal yang seharusnya tak bisa anda lupakan. Tuan Dev sudah banyak membantu keluarga anda, Tapi apa seperti ini balasan yang anda berikan padanya? Apa memang seperti ini cara anda membalas kebaikan orang lain? Dasar tidak tau terima kasih. Kalau bukan karna tuan Dev, Mungkin saat ini anda dan keluarga anda sudah menjadi gelandangan. Apa segampang itu anda melupakan kebaikan serta ketulusan orang lain?" kata Heru yang seketika langsung mampu membuat pak Bambang terpaku. Tidak ada satu katapun yang bisa dia jawab dari perkataan Heru.


DI TEMPAT LAIN


Devano mengambil ponselnya lalu kembali menghubungi om Firman. Tak butuh waktu lama, Om Firman sudah menjawab panggilannya.


📱:Lakukan sekarang


📱:Baik, Tuan muda


Setelah itu, Om Firman memasukkan kembali ponselnya dalam saku jasnya. Dia memberikan sebuah isyarat pada yang lain agar memulai penyerangan. Mereka semua sudah stendbay di posisi masing-masing.


Klotakkk

__ADS_1


Salah satu anak buah Deno sengaja menjatuhkan benda untuk mengalihkan perhatian seorang penjaga yang ada di pintu depan. Dan orang itu benar-benar bisa di kelabui. Bahkan dia tidak sadar jika ada orang di sekitarnya.


"Suara apa itu?" kata orang itu sambil beranjak dari tempatnya.


Melihat dia pergi, Membuat salah satu orang-orang Devano masuk ke dalam sesuai instruksi yang di berikan oleh Devano tadi malam.


Tepat setelah memastikan temannya masuk, Orang Devano yang sudah memberikan isyarat itu maju dengan langkah yang sangat pelan dan memukul keras pundak orang yang menjaga di pintu depan.


Hal itu terus di lakukan hingga satu per satu anak buah Adam tak sadarkan diri. Namun mereka belum bisa menemukan keberadaan mamanya Nathan. Bahkan rumah itu terlihat sangat sepi, Seperti tidak ada kehidupan di sana.


"Bagaimana? Apa kalian sudah bisa menemukan keberadaan mamanya Nathan?" tanya Devano pada anak buahnya.


"Maaf, Tuan muda. Sepertinya kita salah tempat. Sepertinya mamanya Nathan tidak di sekap di tempat ini" kata Firman pada Devano. Membuat Devano mengerutkan keningnya. "Kenapa om Firman bisa berkata seperti itu?" tanya Devano penasaran.


"Karna kami sudah berpencar dan melakukan pencarian, Namun hasilnya nihil. Tempat ini benar-benar sepi. Bahkan terlihat seperti tidak ada kehidupan di sini" terang om Firman sambil menoleh pada Devano.


Devano tak menjawab, Pria itu masih diam dan mencoba berpikir sesuatu. Jika memang tempat ini kosong, Untuk apa Adam meminta beberapa anak buahnya untuk stay dan berjaga di tempat ini?


"Kita cari sekali lagi. Pastikan tidak ada tempat yang terlewat" kata Devano dan melangkah masuk ke dalam rumah kosong itu. ..


Mereka semua kembali melakukan pencarian di sana atas perintah dari Devano. Memang sedikit aneh. Jika memang di sana tidak ada satupun tawanan, untuk apa Adam meminta anak buahnya berjaga di sana.


Devano terus masuk masuk menyusuri tempat itu, Hingga tanpa sengaja ekor matanya menatap pada sebuah lukisan yang terlajang sempurna namun bukan tempat yang tepat.


"Untuk apa lukisan ini di pajang di sini? Ini kan bukan tempatnya"kata Devano sambil mendekat pada lukisan itu. Sebuah lukisan anak laki-laki dengan mata yang terlihat merah serta kedua tangan yang mengepal kuat. Seperti menggambarkan adanya kemarahan yang begitu besar dalam dirinya.

__ADS_1


Devano menatap lukisan itu, Di sana Devano bisa menyimpulkan sesuatu. Dengan cepat Devano mengangkat lukisan itu. Dan benar saja apa yang ada di pikirannya, Di sana ada sebuah tombol kecil. di samping sebuah lemari yang menjadi tempat penyimpanan lukisan.


"Tombol apa ini?" kata Devano dan langsung menekan tombol itu. Tak butuh waktu lama, Lemari yang tadi menjadi tempat penyimpanan lukisan terbelah menjadi dua. Dan betapa terkejutnya Devano saat di sana menampakkan sebuah ruangan bawah tanah yang terlihat ada beberapa anak-anak tangga.


__ADS_2