Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Flashback kemaren


__ADS_3

"Aku mencintaimu, Nadira" ujar pak Devano yang terdengar sangat lembut menyapu indra pendengaranku. Sebuah kalimat yang sama sekali tak pernah aku duga. Pak Devano mengatakan cinta? Apakah aku sedang berkhayal? Atau aku hanya salah dengar saja?


"Aku mencintaimu, Nadira. Sangat mencintaimu" ulangnya dan langsung membawaku salam dekapannya. Mengusap lembut rambut panjangku. Aku terdiam karna tak tau harus menjawab apa, Apa aku juga harus mengatakan hal yang serupa? Mengatakan tentang bagaimana perasaanku saat ini.


Aku mengambil nafas dalam serta mengangkat wajahku"Aku juga mencintaimu, Pak" balasku sambil menatap pada pak Devano.


Ku lihat dia sedikit mengerutkan kecil keningnya saat mendengar jawabanku"Pak? Mau sampai kapan kamu memanggil ku dengan sebutan pak? Apa kamu lupa jika saat ini status kita sudah berbeda. Kita bukan lagi asisten dan bawahan, Tapi kita sudah sah menjadi pasangan suami istri. Biarpun belum secara hukum, Tapi secara agama, Kamu adalah milikku, Kamu istriku" ucapnya sangat lembut.


Baru kali ini aku mendengar kaliman lembut dari setiap perkataan pak Devano"Lalu aku harus memanggil apa?" tanyaku pelan


"Mulai saat ini dan seterusnya. Panggil aku dengan sebutan king oppa" jawabnya. Pak Devano memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan king oppa, Panggilan kesayangan saat masa kecilku untuk nya.


Aku mengangguk cepat"Baiklah, King oppa" jawabku seraya tersenyum.


Pov Devano


"Mulai saat ini dan seterusnya, Panggil saya dengan sebutan king oppa" ujarku pada Nadira, Karna memang aku ingin mengingat semua tentang masa kecil kita dulu. Panggilan king oppa membuatku teringat pada beberapa tahun yang lalu, Pada sosok gadis kecil mungil yang sudah berhasil mengambil cinta pertamaku.


Dia mengangguk sambil mengangkat kedua sudut bibirnya"Baiklah, King oppa" jawabnya.

__ADS_1


Mendengar panggilan itu membuat ku merasa sangat bahagia. Apalagi saat mendengar kata cinta dari Nadira. Dia juga mencintaiku? Apa aku sedang berhalusinasi? Atau saat ini aku hanyalah bermimpi? Hingga akhirnya aku mencoba mencubit tanganku sendiri, Namun rasanya sakit. Itu artinya aku tidak sedang bermimpi, Semua ini nyata. Nadira mencintaiku, Ya, Nadira istriku mencintaiku.


Entah mimpi apa yang aku alami semalam, Tak pernah menyangka jika saat ini statusku sudah menjadi suami Nadira, Sosok wanita cantik yang sudah berhasil mengambil hatiku entah sejak kapan. Sosok yang sering memancing emosiku, Sosok yang sering membuatku marah, Sosok yang sering membuatku merasa nyaman. Hingga tanpa aku sadari, Banyak hal yang membuatku bergantung padanya.


Aku baru bisa menyadari perasaanku tepat setelah kepergiannya. Setelah dia pergi dari indonesia aku baru menyadari satu hal. Dia berharga untukku.


"Kamu cantik sekali, Sayang" ucapku pada Nadira.


Mulai saat ini, Aku putuskan untuk memanggil Nadira dengan sebutan sayang. Agak aneh memang, Tapi akan aku biasakan dengan panggilan itu.


Mulai saat ini juga, Aku akan berusaha untuk menjadi sosok suami terbaik untuknya. Sosok yang akan selalu menjadi pelindung, Menjadi pemimpin terbaik serta menjadi nahkoda terbaik untuk mengarungi bahtera rumah tangga kami. Rumah tangga yang aku sendiri tidak tau harus bagaimana memulainya. Tapi aku berharap, Semoga ini menjadi pernikahan yang pertama serta terakhir dalam hidupku.


Hari semakin malam, Kami berdua hanya terdiam sambil mengobrol, Membicarakan tentang hal yang aku sendiri tidak mengerti. Biarpun masih terasa sedikit canggung, Tapi aku akan berusaha untuk membiasakan diri. Membiasakan diri dengan status baruku saat ini. Status sebagai suami dari Nadira sky puspita.


Mendengar kata malam pertama aku lihat wajah Nadira merona. Mungkin aku terlalu cepat mengatakan hal itu. Tapi bukan kah lebih cepat lebih baik.


Di saat seperti ini membuatku teringat pada kejadian kemaren. Kejadian yang sudah membuatku dan Nadira hampir saja kehilangan nyawa. Namun beruntung karna aku masih bisa mengendalikan mobil milik kak Zain.


Flashback kemaren

__ADS_1


*Setelah keluar dari halaman hotel. Aku membawa mobil itu pelan, Aku melihat ada orang yang mencurigakan di belakang mobil itu. Awalnya aku berpikir mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan. Atau mungkin kita hanya searah.


Akhirnya aku tak mau ambil pusing, Aku terus melajukan mobilku dan menepikan mobilku saat melihat restoran yang cukup ramai di sana. Karna memang sebelumnya aku mendengar bunyi perut Nadira, Mungkin karna para cacing dalam perutnya sudah meminta jatah, Sehingga bunyi perut itu aku dengar berkali-kali.


"Kita makan di sini ya. Di sini ada steak enak sekali. Bukankah kamu sangat menyukainya?" ujarku pada Nadira.


Wanita itu hanya mengangguk. Keluar dari dalam mobil dan berjalan mengekor di belakangku. Tanpa sengaja netraku menoleh ke belakang, Ternyata di sana aku melihat mobil itu juga menepi. Masih berusaha positif thinking, Ini kan tempat umum. Pikirku.


Hingga kami berdua selesai makan, Mobil itu masih ada di sana. Tak jauh dari tempat mobilku terparkir. Aku kembali melajukan mobilku. Kulihat jam dari jam tanganku, Ternyata saat ini sudah menunjukkan pukul 18:30.


Di sepanjang perjalanan, Tidak ada pembicaraan di antara kita berdua. Sudah seperti biasa, Aku fokus mengemudi sedangkan Nadira fokus menatap ke arah jendela. Aku merasa ada yang aneh dengan mobilku, Hingga tak berselang lama, Mobil yang aku bawa sedikit oleng dan hampir saja membuatku menabrak pembatas jalan. Beruntung dengan cepat aku bisa mengatasinya.


"Aaaaaaaa" teriak Nadira saat mobil itu hampir mencium pembatas. Aku menoleh ke arah Nadira, Wajahnya sangat pucat. dengan cepat aku membawanya dalam dekapanku. Tangannya dingin serta detak jantungnya cepat.


Setelah memastikan Nadira sudah tenang, Akupun turun dari dalam mobil. Aku periksa semua keadaan mobil, Dan ternyata mobil itu bocor. Tapi bagaimana bisa, Bukankah tadi saat masih di hotel aku lihat kondisi mobil masih baik-baik saja. Lalu ini bagaimana bisa terjadi. Sepertinya ini ada yang tidak beres. Pikirku.


Tanpa sengaja netraku menoleh ke belakang, Dari arah kejauhan aku melihat mobil yang tadi ada di belakang ku masih ada di sana. Karna merasa ada yang tidak beres, Aku pun mengecek setiap inci ban mobil itu. Di sana aku menemukan ada sebuah jarum kecil semacam bidik. Sepertinya ini memang ada yang sengaja membidik ban mobilku.


Apa ini ada hubungannya dengan mobil yang terus mengikuti ku. Hal itu terus saja menganggu pikiranku. Tak lama kemudian, Aku teringat akan pengendara motor yang tadi sempat menyerempet mobilku saat baru saja jalan dari restoran.

__ADS_1


Karna hari sudah semakin malam, Aku tak lagi menerka-nerka tentang siapa pelakunya di sini. Aku memutuskan untuk mengganti mobil itu, Beruntung karna di sana kak Zein sudah menyiapkan serep.


"Bagaimanapun caranya, Saya akan memberitahu tentang hal ini" ucapku sambil mengepalkan kuat kedua tanganku*.


__ADS_2