
"Tentu saja aku akan berusaha menjadi istri yang sangat baik buat pak Devano. Karna tanpa kalian ketahuilah sebenarnya aku sangat bahagia bisa menikah dengan pak Devano. Sosok laki-laki yang menurut ku hampir mendekati kata sempurna. Semoga saja semuanya di permudah, Dan semoga ini juga menjadi pernikahan yang pertama sekaligus yang terakhir dalam hidup Nadira" ujar Nadira dalam batinnya.
"Iya, Ma" balas Nadira pelan
"Buruan mandi gih, Lalu pakai kebaya ini. Mama sudah memesan dari butik langganan mama" ucap Cristy sambil memberikan sebuah paperbag coklat yang berisi kebaya berwarna putih. Kebaya yang sederhana namun sangat terlihat elegan.
Nadira mengambil paperbag itu. Kedua matanya terbuka lebar saat melihat isinya"Astaga mama. Ini kebayanya bagus banget" ujarnya sambil menempelkan kebaya itu pada tubuh rampingnya.
"Kamu suka?"
"Banget. Nadira sangat menyukai kebaya ini ma. Terimakasih" Nadira yang terharu langsung memeluk tubuh sang mama.
"Terimakasih ma. Mama memang yang terbaik" ucapnya sambil terus menatap Cristy
"Sama-sama sayang. Mama akan selalu mengusahakan yang terbaik buat kamu. Biarpun pernikahan ini hanya secara sirih, Tapi mama mau kamu terlihat sempurna. Buat Devano menatap pangling sama anak mama yang cantik jelita ini"
"Eeemmmm mama. Nadira sayang mama"
"Apalagi mama. Sudah sana cepat mandi. Sebentar lagi MUA yang akan membantu merias kamu akan segera datang"
Setelah mengatakan hal itu. Cristy langsung keluar dari dalam kamar Nadira. Membiarkan Nadira yang masih menatap dirinya dari pantulan cermin.
"Lebih baik aku mandi sekarang" gumamnya serta langsung meletakkan kebaya itu di atas ranjang.
Kabar tentang pernikahan Nadira dan juga Devano sudah terdengar oleh Nathan. Hal itu membuatnya mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Arrrgggghhh. Ternyata mereka memang benar-benar akan menikah. Tapi aku tidak rela jika harus melihat Nadira bahagia bersama dengan pria lain. Nadira hanya pantas untukku. Hanya untukku" ujar Nathan sambil terus mengepalkan kedua tangannya.
Ada rasa tidak suka saat mendengar berita tentang ini dari salah satu orang terdekatnya. "Lihat saja, Devano. Aku tidak akan membiarkan rumah tangga kalian bahagia. Nadira akan kembali dalam pelukanku lagi" ucap Nathan lagi. Kedua matanya merah, Nafasnya naik turun. Sangat terlihat jelas jika saat ini amarahnya memang sedang naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
Malam tadi, Setelah memastikan mobil yang Devano bawa hampir menabrak pembatas jalan, Nathan langsung pergi dari sana. Setidaknya hal itu sudah cukup untuk memberikan sebuah peringatan tegas pada Devano yang sudah dia anggap sebagai saingan.
Nathan berdiri di atas balkon sambil menatap ke bawah. Di sana banyak kendaraan yang berlalu lalang. Pria itu memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengalahkan Devano.
"Bagaimanapun caranya. Nadira harus menjadi milikku. Aku tidak akan pernah membiarkan Devano merebut hal yang seharusnya menjadi milikku" ucapnya lagi
Setelah cukup lama, Nathan masuk ke dalam kamarnya. Berjalan ke arah tepi ranjang lalu mengambil ponselnya di sana. Mengirimkan sebuah pesan singkat pada nomor yang dia kasih nama SAINGAN
[ Jangan merasa senang dulu, Karna saya tidak akan pernah membiarkan kata bahagia itu ada dalam rumah tangga kalian nanti. Satu hal yang harus kamu tau, Dia akan saya pastikan kembali pada pemiliknya, Yaitu saya. Paham!! ] Send
"Dasar bedebah tak berguna" umpatnya kesal sambil terus menatap layar ponselnya. Hingga tak berselang lama, Ponsel Nathan berdering. Ada sebuah pesan balasan dari nomor Devano.
Dtttttt,,,,,,Dtttttt,,,,,,Dttttttt
Membaca isi balasan dari Devano membuat Nathan mengeritkan keningnya.
Saat membaca pesan itu, Nathan langsung searching tentang Devano wardana. Kedua matanya terbuka lebar saat sudah mendapatkan informasi tentang Devano Wardana. Putra tunggal dari Wardana mahesa.
"Astaga. Aku salah sasaran. Bukan kah Wardana salah satu pemilik saham tertinggi di indonesia, Bahkan saham milik keluargaku masih 10% di bawah perusahaan Wardana Grup. Jadi pria itu adalah pewaris utama Wardana Grup, Perusahaan yang selama ini selalu membuat perusahaan keluargaku hampir selalu tersisih. Baiklah, Kita lihat saja, Devano wardana. Aku akan merebut semua yang kamu miliki saat ini, Termasuk Nadira" ucap Nathan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
*
*
*
Di sebuah taman kecil, Terlihat sosok gadis kecil sedang sibuk bermain ayunan dengan teman-teman yang lain. Gadis itu selalu berusaha terlihat tegar di depan semua orang. Walaupun sebenarnya dia sering menangis saat sedang duduk sendirian. Namanya Ayra, Biasa di panggil Ara oleh ibu panti dan juga teman-temannya. Gadis kecil yang usianya kisaran sudah 5 tahun.
"Kamu mau kemana Ara?" tanya ibu panti saat melihat Ara berjalan keluar dari sana.
__ADS_1
Ara yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya"Ara mau pipis bu, Ara masuk dulu ya" Ara pun berlalu dari hadapan ibu panti. Entah kenapa hatinya selalu terasa luka setiap kali melihat anak bersama dengan kedua orangtuanya sedang tertawa bersama.
Ibu panti hanya mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Menatap pundak Ara yang sudah masuk ke dalam panti.
"Kasian anak itu. Sudah lima tahun tapi ibu kandungnya belum juga datang menjemput" ujar bu Lidya pelan. Bayangannya kembali pada kejadian lima tahun yang lalu.
Malam itu, Saat bu Lidya sedang ingin menutup pintu, Tiba-tiba saja dia melihat sosok wanita muda yang umurnya kisaran 18 tahun sedang berdiri di sana. Membawa bayi mungin yang sudah terlihat lelap dan damai dalam tidurnya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya bu Lidya pada wanita itu.
Wanita itu yang sejak tadi menatap wajah bayi nya seketika langsung mengangkat wajahnya. Kedua matanya terlihat basah.
"Bu. Saya titip anak saya di sini ya. Soalnya saya ada urusan penting yang harus saya lakukan" ucapnya dan langsung memberikan bayi nya pada bu Lidya.
Bu Lidya mengambil alih bayi itu. "Cantik sekali" pujinya
"Saya titip ya bu, Suatu saat nanti saya akan kembali dan menjemputnya"
Setelah mengatakan hal itu, Wanita tadi langsung membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya unyuk pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti saat suara bu Lydia menerpa indra pendengarannya.
"Nama mu siapa?"
"Ratna, Bu. Nama saya Ratna" balas Ratna sopan
Ya, Wanita itu adalah Ratna. Ratna mahendra, Sosok gadis yang harus melahirkan anak tanpa sosok suami.
"Saya titip anak saya ya, Bu. Namanya Ayra. Saya akan kembali lagi nanti" ucap Ratna sambil menatap wajah anaknya.
Dengan langkah yang sangat berat, Ratna melangkahkan kakinya pergi dari sana.
__ADS_1